
<p>Jilbab tidak disyariatkan untuk berhias, berdasarkan firma Allah<em> Ta’ala</em> yang tersebut di dalam surat An-Nur ayat 31,</p>
<p class="arab">وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ</p>
<p>“<em>… Dan janganlah menampakkan perhiasannya ….</em> “(QS. An-Nur:31)</p>
<p>Secara umum, ayat ini mengandung larangan menghiasi pakaian yang dipakainya sehingga menarik perhatian laki-laki. Ayat ini juga dikuatkan oleh firman Allah yang tersebut dalam surat Al-Ahzab ayat 33,</p>
<p class="arab">وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى</p>
<p>“<em>Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu ….</em>” (QS. Al-Ahzab:33)</p>
<p>Juga sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (hadits shahih; diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ahmad),</p>
<p class="arab">ثلاثة لا تسأل عنهم : رجل فارق الجماعة وعصى إمامه ومات عاصيا وأمة أو عبد أبق فمات وامرأة غاب عنها زوجها قد كفاها مؤنة الدنيا فتبرجت بعده فلا تسأل عنهم</p>
<p>“<em>Ada tiga golongan manusia yang tidak ditanyai (karena mereka sudah pasti termasuk orang-orang yang celaka, pen.):</em></p>
<ol>
<li><em> Seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah (kaum muslimin, red.) dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam kedurhakaannya itu.</em></li>
<li><em>Seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri meninggalkan pemiliknya (tuannya).</em></li>
<li><em>Wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya – dan suaminya itu telah mencukupi kebutuhan duniawinya – kemudian (ketika suaminya sedang pergi tersebut) dia bertabarruj.</em></li>
</ol>
<p><em> Tiga orang itu tidak akan ditanyai</em>.”</p>
<p>Tabarruj adalah perbuatan wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya, serta segala sesuatu yang seharusnya ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan syahwat lelaki.</p>
<blockquote><p><em>Jadi, maksud perintah mengenakan jilbab adalah perintah utnuk menutup perhiasan wanita. Dengan demikian, <strong>tidaklah masuk akal</strong> bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita itu malah menjadi pakaian untuk berhias, sebagaimana yang sering kita temukan.</em></p></blockquote>
<p>—</p>
<p>Dikutip dari buku <em>Jilbab Wanita Muslimah</em> (terjemahan kitab <em>Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah</em> karya Syaikh Nashiruddin Al-Albani). November, 2002. Yogyakarta: Media Hidayah.</p>
<p><strong>(*) Catatan Redaksi Muslimah.Or.Id:</strong><br>
Tampil rapi dan bersih tidak mesti dengan ber-tabarruj. Seorang wanita shalihah insya Allah tetap bisa berpakaian syar’i yang rapi dan bersih tanpa perlu tambahan pernak-pernik penghias maupun minyak wangi. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>—</p>
<p>Artikel Muslimah.Or.Id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 