
<p>Orang kafir boleh masuk masjid, benarkah itu? Coba kita perhatikan hadits Bulughul Maram berikut ini.</p>
<p> </p>
<div>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani</strong></span></p>
</div>
<div>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></p>
</div>
<div>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">بَابُ المسَاجِدِ</p>
</div>
<div>
<p align="center"><strong><span style="font-size: 18pt;">Bab Seputar Masjid</span></strong></p>

</div>
<h2>Hukum Orang Kafir Masuk Masjid</h2>
<h3>Hadits #254</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: بَعَثَ النَّبيُّ صلّى الله عليه وسلّم خَيْلاً، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوارِي المَسْجِدِ… الحَدِيثَ. مُتَّفَقٌ عَلَيِهِ.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah mengutus pasukan berkuda, lalu mereka datang dengan membawa seorang tawanan, dan mereka mengikatnya di salah satu tiang masjid.” (Al-Hadits. <em>Muttafaqun ‘alaih</em>). [HR. Bukhari, no. 469, dalam kitab “Shalat” bab “Orang musyrik masuk masjid”; no. 4372 dalam kitab “Maghazi” bab “Utusan Bani Hanifah dan hadits Tsumamah bin Utsal”; Muslim, no. 1764]
</p>
<p> </p>
<h3>Faedah hadits</h3>
<ol>
<li>Hadits ini dijadikan dalil bahwa boleh orang kafir masuk masjid.</li>
<li>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah menyetujui sahabat ketika mengikat Tsumamah bin Utsal di masjid hingga lewat tiga hari, lantas beliau berkata, “<em>Apa yang engkau rasakan wahai Tsumamah?</em>”</li>
<li>Para ulama mengaitkan maksud memasukkan orang kafir ke masjid sebagai tahanan ada suatu manfaat, yaitu ia bisa mendengarkan Al-Qur’an dan ilmu, mengharapkan keislamannya, atau masuk dalam pemeriksaan perkara. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa memasukkan orang kafir ke masjid harus seizin orang-orang muslim.</li>
<li>Ada pendapat yang lain yang menyatakan bahwa orang kafir boleh masuk masjid mana pun kecuali Masjidil Haram. Hal ini karena beralasan orang musyrik itu <em>najis badaniyyah</em> berdasarkan ayat,</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram.</em>” (QS. At-Taubah: 28)</p>
<ol start="5">
<li>Pendapat terkuat dalam masalah ini, orang kafir boleh masuk masjid jika memandang terdapat maslahat. Orang kafir tersebut bisa melihat kaum muslimin yang sedang shalat dan membaca Al-Qur’an seperti yang terjadi pada Tsumamah. Namun, masuknya di sini harus ada maslahat dan izin.</li>
<li>Hendaklah yang membangun dan meletakkan batas masjid adalah orang muslim, bukan orang kafir. Karena orang muslim masih bisa mengurus hal ini, walau ada yang beralasan orang kafir itu lebih terpercaya.</li>
</ol>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.</em>” (QS. Al-Baqarah: 221). Ayat ini menegaskan bahwa pekerja muslim tetap lebih baik daripada pekerja non muslim. <em>Wallahu Ta’ala a’lam.</em></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/29865-bulughul-maram-shalat-bahaya-jika-kubur-orang-saleh-dijadikan-layaknya-masjid.html"><strong>Bulughul Maram – Shalat: Bahaya Jika Kubur Orang Saleh Dijadikan Layaknya Masjid</strong></a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/29861-bulughul-maram-shalat-masjid-itu-harus-dijaga-bersih-dan-wangi.html"><strong>Bulughul Maram – Shalat: Masjid itu Harus Dijaga Bersih dan Wangi</strong></a></span></li>
</ul>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Referensi:</strong></span></p>
<p><em>Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram</em>. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:473-475.</p>
<p>—</p>
<p>Rabu pagi, 29 Safar 1443 H, 6 Oktober 2021</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com">@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul</a></span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></span></p>
<p>Artikel<span style="color: #ff0000;"> <a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
 