
<p>Berapa tinggi sutrah sebagai pembatas dalam shalat yang diperintahkan?</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 17pt;">Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 17pt;">Kitab Shalat</span></strong></p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">بَابُ سُتْرَةِ اَلْمُصَلِّي</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 17pt;"><strong>Bab Sutrah (Pembatas) bagi Orang yang Shalat</strong></span></p>
<h1></h1>
<h2>Hadits #229</h2>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : { سُئِلَ رَسُولُ اَللَّهِ ( – فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ – عَنْ سُتْرَةِ اَلْمُصَلِّي . فَقَالَ : “مِثْلُ مُؤْخِرَةِ اَلرَّحْلِ } أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ</span></p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah ditanya pada perang Tabuk tentang batas bagi orang yang shalat. Beliau menjawab, ‘<em>Seperti “mu’khiroh ar-rohli”, tiang atau sandaran di bagian belakang kendaraan</em>.’” (Dikeluarkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 500]
</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca juga:<a href="https://rumaysho.com/tag/bulughul-maram-sutrah" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"> Bulughul Maram tentang Permasalahan Sutrah</span></a></strong></span></p>
<p> </p>
<h2>Faedah hadits</h2>
<ol>
<li>Tinggi sutrah tidak ada patokan tertentu. Tinggi sutrah bisa setengah hasta, bisa jadi kurang atau lebih dari itu.</li>
<li>Tinggi sutrah yang disebutkan dalam hadits adalah seperti tiang di bagian belakang kendaraan. Ukuran sutrah sekitar 2/3 hasta. Satu hasta diperkirakan 45 cm, berarti 2/3 hasta sama dengan 30 cm. Ukuran ini pun bukan tinggi paling minimal dari sutrah. Ukuran ini hanyalah ukuran pendekatan. Karena ada beberapa benda yang dipakai oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai sutrah lebih dari 2/3 hasta. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga menggunakan anak panah yang kurang dari 2/3 hasta.</li>
</ol>
<blockquote><p>Pembahasan selanjutnya akan menjelaskan bahwa seandainya didapati sutrah yang lebih rendah dari mu’khiroh ar-rohli juga masih dibolehkan.</p></blockquote>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/1310-hukum-shalat-menghadap-sutroh.html" target="_blank" rel="noopener">Hukum Shalat Menghadap Sutrah</a></span></strong></span></p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram.</em> Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:404.</p>
<p>—</p>
<p>21 Muharram 1443 H, 30 Agustus 2021</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com">@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul</a></span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></span></p>
<p>Artikel <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
 