
<p>Berikut hadits-hadits dari <a href="https://rumaysho.com/tag/bulughul-maram">Bulughul Maram</a>, bahasan bersuci yang membahas khusus tentang bejana atau wadah secara tuntas, dibicarakan dalam delapan hadits.</p>

<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 16pt;"><strong>Kitab Bulughul Maram</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 16pt;">كِتَابُ اَلطَّهَارَةِ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 16pt;">بَابُ الْآنِيَةِ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 16pt;"><strong>KITAB BERSUCI</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 16pt;"><strong>BAB BEJANA</strong></span></p>
<h2></h2>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>DIHARAMKAN MAKAN DAN MINUM DARI WADAH YANG TERBUAT DARI EMAS DAN PERAK</strong></span></h2>
<h3><strong>HADITS KE-16</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – – لَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ والْفِضَّةِ، وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا، وَلَكُمْ فِي الْآخِرَةِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ</span></p>
<p>Dari Hudzaifah ibnul Yaman <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Janganlah kalian minum dengan bejana yang terbuat dari emas dan perak. Janganlah pula kalian makan dengan piring yang terbuat dari emas dan perak. Karena barang-barang itu untuk mereka di dunia, sedangkan untuk kalian di akhirat</em>.” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>) [HR. Bukhari, no. 5426 dan Muslim, no. 2067]
</p>
<p> </p>
<h3><strong>Faedah hadits</strong></h3>
<ol>
<li>Diharamkan makan dan minum pada wadah yang terbuat dari emas dan perak.</li>
<li>Sebab diharamkan adalah karena tasyabbuh (menyerupai) orang kafir.</li>
<li>Hukum larangan ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan, artinya tidak boleh bagi laki-laki dan perempuan menggunakan wadah yang terbuat dari emas murni atau emas yang bercampur dengan yang lain, begitu pula perak murni atau perak yang bercampur dengan yang lain.</li>
<li>Jumhur ulama menganggap terlarangnya wadah atau bejana ini bukan hanya untuk makan dan minum. Namun, larangan tersebut berlaku juga untuk penggunaan lainnya seperti untuk wadah berwudhu.</li>
<li>Menggunakan wadah atau bejana dari emas dan perak dilarang karena: (a) perantara pada kesombongan, (b) menghancurkan hati orang-orang miskin.</li>
</ol>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>DIHARAMKAN MINUM DARI WADAH PERAK</strong></span></h2>
<h3><strong>HADITS KE-17</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ الْلَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – الَّذِي يَشْرَبُ فِي إِنَاءِ الْفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ</span></p>
<p>Dari Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em> bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Orang yang minum dengan bejana dari perak, sungguh ia hanyalah memasukkan api jahannam ke dalam perutnya.</em>” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>). [HR. Bukhari, no. 5634 dan Muslim, no. 2065]
</p>
<h3></h3>
<h3><strong>Faedah hadits</strong></h3>
<ol>
<li>Diharamkan minum dari wadah yang terbuat dari perak, lebih-lebih lagi jika menggunakan emas.</li>
<li>Cincin perak untuk laki-laki dibolehkan, sedangkan cincin emas untuk laki-laki tidak dibolehkan.</li>
<li>Balasan sesuai dengan amalan perbuatan, al-jazaa’ min jinsil ‘amal.</li>
</ol>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>SUCINYA KULIT BANGKAI SETELAH DISAMAK</strong></span></h2>
<h3><strong>HADITS KE-18</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ الْلَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ  . وَعِنْدَ الْأَرْبَعَةِ: – أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ –</span></p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Jika kulit hewan telah disamak, kulit tersebut menjadi suci</em>.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 366]
</p>
<p>Menurut riwayat Imam yang Empat, “<em>Kulit hewan apa pun yang telah disamak, maka ia menjadi suci</em>.” [HR. Abu Daud, no. 4123; Tirmidzi, no. 1728; An-Nasa’i, 7:173; Ibnu Majah, no. 3609]
</p>
<p> </p>
<h3><strong>HADITS KE-19</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">وَعَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْمُحَبِّقِ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ الْلَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – دِبَاغُ جُلُودِ الْمَيْتَةِ طُهُورُهاَ – صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ</span></p>
<p>Dari Salamah bin Al-Muhabbiq <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Menyamak kulit bangkai adalah menyucikannya</em>.” (Hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban) [HR. Ibnu Hibban, no. 4522 dan Ahmad, 25:250. <strong>Hadits ini sahih lighairihi.</strong> <strong>Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:89</strong>].</p>
<p> </p>
<h3><strong>HADITS KE-20</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">وَعَنْ مَيْمُونَةَ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: – مَرَّ رَسُولُ الْلَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِشَاةٍ يَجُرُّونَهَا، فَقَالَ: “لَوْ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا؟” فَقَالُوا: إِنَّهَا مَيْتَةٌ، فَقَالَ: “يُطَهِّرُهَا الْمَاءُ وَالْقَرَظُ” – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ</span></p>
<p>Dari Maimunah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> melewati seekor kambing yang sedang diseret orang-orang. Kemudian beliau bersabda, “<em>Alangkah baiknya jika engkau mengambil kulitnya</em>.” Mereka berkata, “<em>Kambing ini benar-benar telah mati (bangkai)</em>.” Beliau bersabda, “<em>Kulitnya dapat disucikan dengan air dan daun salam</em>.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan An-Nasa’i). [HR. Abu Daud, no. 4126 dan An-Nasa’i, 7:174-175]
</p>
<p> </p>
<h3><strong>Faedah hadits</strong></h3>
<ol>
<li>Hadits Ibnu ‘Abbas menunjukkan bahwa kulit apa saja yang disamak, maka menjadi suci, baik berasal dari hewan suci ketika hidupnya seperti unta, sapi, dan kambing, atau berasal dari hewan yang tidak suci ketika hidupnya seperti anjing dan babi.</li>
<li>Menurut madzhab Hambali dan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kulit bangkai yang menjadi suci adalah kulit dari hewan yang halal disembelih, berarti dari hewan yang halal dimakan. Hal ini adalah kesimpulan dari hadits Maimunah.</li>
<li>Adapun kulit dari hewan yang tidak halal disembelih walaupun suci ketika hidupnya (seperti kucing), maka tidaklah suci kulitnya walaupun disamak. Karena penyembelihan tidak menghalalkannya. Kesucian hewan tersebut ketika hidupnya hanya karena sulit menghindar dari hewan semacam itu.</li>
<li>Memang dari hadits menyatakan semua kulit apa pun itu jadi suci ketika disamak. Namun, dalam rangka wara’ (kehati-hatian), kulit hewan yang jadi suci hanya dari hewan yang halal dimakan, bukan dari selain itu. Hal ini demi menjalankan hadits mengenai meninggalkan yang syubhat.</li>
<li>Menyamak itu menyucikan kulit bangkai.</li>
</ol>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca artikel selengkapnya: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/24721-hukum-tas-dan-dompet-dari-kulit-ular-dan-buaya-serta-hukum-jual-belinya.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Hukum Tas dan Dompet dari Kulit Ular dan Buaya serta Hukum Jual Belinya</a></span></strong></span></p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>HUKUM WADAH AHLI KITAB</strong></span></h2>
<h3><strong>HADITS KE-21</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">وَعَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قُلْتُ: يَا رَسُولَ الْلَّهِ، إِنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، أَفَنَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ؟ قَالَ: “لَا تَأْكُلُوا فِيهَا، إِلَّا أَنْ لَا تَجِدُوا غَيْرَهَا، فَاغْسِلُوهَا، وَكُلُوا فِيهَا” – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ</span></p>
<p>Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyaniyy <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, “Saya bertanya, wahai Rasulullah, kami tinggal di daerah Ahlul Kitab, bolehkah kami makan dengan wadah (bejana) mereka?” Beliau menjawab, “<em>Janganlah engkau makan dengan wadah mereka kecuali jika engkau tidak mendapatkan yang lain. Oleh karena itu, bersihkanlah dahulu dan makanlah dengan bejana tersebut</em>.” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>) [HR. Bukhari, no. 5478, 5488, 4596; dan Muslim, no. 1930].</p>
<h3></h3>
<h3><strong>Faedah hadits</strong></h3>
<ol>
<li>Hendaklah tidak makan dari wadah ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) karena mereka tidak berhati-hati dalam menjaga diri dari yang najis.</li>
<li>Di sini seolah-olah bertentangan dengan kaidah asal yaitu hukum asal segala sesuatu itu suci. Sedangkan kita yakini pada mereka tidak hati-hati dalam memperhatikan yang najis. Jadi sikapnya adalah sesuai sangkaan kuat saja manakah yang akan dimenangkan.</li>
</ol>
<p> </p>
<h3><strong><span style="font-family: 'Open Sans', arial, sans-serif; font-size: 22px;">Masalah menggunakan bejana ahli kitab</span></strong></h3>
<p>Tidak boleh menggunakan wadah orang kafir kecuali jika memenuhi dua syarat: <strong>(1) tidak ada wadah yang lain, (2) dibersihkan atau dicuci terlebih dahulu</strong>. Syarat pertama diberlakukan agar kita bersikap <em>wara’</em> atau hati-hati. Sedangkan syarat kedua mesti dicuci agar kita yakin bahwa wadah tersebut benar-benar telah suci. Namun, perintah mencuci di sini bukanlah wajib, hanya anjuran. Kenapa dibawa ke hukum anjuran (sunnah)? Karena dalam surah Al-Maidah ayat 5 disebutkan bahwa makanan ahli kitab halal bagi kita. Makanan mereka tentu saja ada pada wadah mereka.</p>
<p>Kalau wadah tersebut digunakan untuk wadah babi atau wadah minum khamar, maka tetap wajib dicuci. (Faedah-faedah di atas diambil dari <em>Minhah Al-‘Allam</em>, 1:95-97 dan <em>Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram</em>, 1:164-168)</p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca juga artikel: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/14734-makan-dari-piring-bekas-makan-babi.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Makan dari Piring Bekas Makan Babi</a></span></strong></span></p>
<h2></h2>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>BOLEH MENGGUNAKAN BEJANA ORANG MUSYRIK</strong></span></h2>
<h3><strong>HADITS KE-22</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهُمَا؛ – أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَصْحَابَهُ تَوَضَّئُوا مِنْ مَزَادَةِ اِمْرَأَةٍ مُشْرِكَةٍ. – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ</span></p>
<p>Dari ‘Imran bin Hushain <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> bahwa Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya berwudhu di mazadah (tempat air yang terbuat dari kulit hewan) milik seorang perempuan musyrik. (<em>Muttafaqun ‘alaih</em> dalam hadits yang panjang). [HR. Bukhari, no. 344 dan Muslim, no. 682]
</p>
<h3></h3>
<h3><strong>Faedah hadits</strong></h3>
<ol>
<li>Dibolehkan menggunakan wadah orang musyrik selama tidak yakin ada najis.</li>
<li>Sucinya kulit hewan setelah disamak. Karena mazadah adalah kulit hewan sembelihan orang musyrik. Hasil sembelihan orang musyrik itu dihukumi bangkai. Namun kalau kulit itu dari hewan yang suci ketika hidup walau matinya bangkai, bisa jadi suci dengan cara disamak.</li>
</ol>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>BOLEHNYA MEMPERBAIKI WADAH DENGAN IKATAN BERBAHAN PERAK</strong></span></h2>
<h3><strong>HADITS KE-23</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – اِنْكَسَرَ، فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ. – أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ</span></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa bejana Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> retak, lalu beliau menambal tempat yang retak itu dengan pengikat dari perak. (Diriwayatkan oleh Bukhari). [HR. Bukhari, no. 3109]
</p>
<p> </p>
<h3><strong>Faedah hadits</strong></h3>
<ol>
<li>Boleh memperbaiki wadah yang retak dengan ikatan atau potongan perak ketika butuh karena maslahatnya ketika itu nampak.</li>
<li>Yang digunakan untuk menambal di sini adalah perak, tidak boleh dengan emas karena emas lebih mahal dan lebih tegas dilarang.</li>
<li>Suatu barang selama bisa diperbaiki, hendaklah diperbaiki tanpa mesti beli yang baru.</li>
</ol>
<p> </p>
<h3><strong>Selama barang masih bisa diperbaiki, tak mesti ganti yang baru</strong></h3>
<p>Suatu barang selama masih bisa diperbaiki, hendaklah diperbaiki tanpa mesti beli yang baru. Memperbaiki barang yang rusak ini tanda kalau seseorang bersikap sederhana dan selalu menjaga harta. (Lihat <em>Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram</em>, 1:103)</p>
<p> </p>
<h4><span style="font-size: 14pt;"><strong>REFERENSI</strong></span></h4>
<ol>
<li>Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam.</li>
<li>Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan.</li>
<li>Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-22, Juli 2019. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Penerbit P.T. Berkat Mulia Insani.</li>
<li>Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>—</p>
<p>Direvisi ulang di Darush Sholihin, Sabtu sore, 21 Syawal 1441 H (13 Juni 2020)</p>
<p><a href="https://rumaysho.com/about-me">Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p><strong>Artikel<a href="https://rumaysho.com"> Rumaysho.Com</a></strong></p>
<h3>
<strong>Video Bahasan Bulughul Maram Kitab Thaharah tentang Air:</strong>
</h3>
<p> </p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/fm1poIc39XA" width="auto" height="auto" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Silakan download PDF Bulughul Maram Thaharah, Tentang Bejana (Wadah):</strong></span></p>
<p> </p>
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2020/06/Bulughul-Maram-Thaharah-02-Bab-Bejana-20200706.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2020/06/Bulughul-Maram-Thaharah-02-Bab-Bejana-20200706.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
 