
<p>Bukti bahwa shalat berjamaah itu wajib bahkan sampai pada orang buta sekalipun.</p>
<p>Dua hadits ini adalah hadits dalam kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, hadits no. 1066 dan 1067 mengenai keutamaan Shalat Berjamaah.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : أَتَى النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – رَجُلٌ أعْمَى ، فقَالَ : يا رَسُولَ اللهِ ، لَيسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إلى الْمَسْجِدِ ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – أنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّي فِي بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَهُ ، فَلَّمَا وَلَّى دَعَاهُ ، فَقَالَ لَهُ : (( هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟ )) قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : (( فَأجِبْ ))</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘<em>Maka penuhilah panggilan azan tersebut.</em>’ (HR. Muslim, no. 503)</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللهِ – وَقِيْلَ : عَمْرٌو بْنُ قَيْسٍ – المعْرُوْفُ بِابْنِ أُمِّ مَكْتُوْمٍ المؤَذِّنُ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – أنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ ، إنَّ المَدينَةَ كَثِيْرَةُ الهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ . فَقَالَ رَسُول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلاةِ حَيَّ عَلَى الفَلاحِ ، فَحَيَّهلاً ))</p>
<p>Dari ‘Abdullah -ada yang mengatakan, “Amr bin Qais -yang dikenal sebagai Ibnu Ummi Maktum sang muazin <em>radhiyallahu ‘anhu</em>-, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya di Madinah banyak terdapat singa dan binatang buas.’ Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, ‘<em>Apakah engkau mendengar hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah? Maka penuhilah</em>.’” (HR. Abu Daud, no. 553; An-Nasa’i, no. 852. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini <strong><em>shahih</em></strong>). <em>Hayyahalaa</em> dalam hadits maksudnya adalah penuhilah. <em>Hayyahalaa</em> adalah bentuk <em>isim fi’il amr.</em></p>
<p> </p>
<h4>Kesimpulan Mutiara Hadits</h4>
<ol>
<li>Dua hadits di atas menunjukkan wajibnya shalat berjamaah bagi pria ketika mampu menghadirinya walaupun seorang buta dan tidak punya penuntun.</li>
<li>Jika mendengar azan sudah diwajibkan shalat berjamaah ke masjid.</li>
</ol>
<p> </p>
<h4>Bukti Perkataan Salaf: Shalat Berjamaah itu Wajib</h4>
<p> </p>
<p>Ibnu Mas’ud mengatakan, “Kami memandang orang yang enggan shalat berjamaah adalah orang munafik yang jelas kemunafikannya. (<em>Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha</em>, hlm. 124).</p>
<p>Ibnu Mas’ud, juga dari Abu Musa Al-Asy’ari dan Ibnu ‘Abbas menyatakan hal yang sama, “Siapa yang mendengar seruan azan lantas ia tidak mendatanginya padahal tidak ada uzur, maka tidak ada shalat untuknya.” (<em>Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha</em>, hlm. 124-125)</p>
<p>‘Ali mengatakan, “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.” Ada yang bertanya, “Siapa itu tetangga masjid?” ‘Ali menjawab, “Siapa saja yang mendengar azan.” (<em>Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha</em>, hlm. 125)</p>
<p>Ummul Mukminin ‘Aisyah mengatakan, “Siapa yang mendengar azan kemudian ia tidak memenuhi panggilan azan tersebut, ia tidak mendapatkan kebaikan.” (<em>Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha</em>, hlm. 125)</p>
<p>Imam Syafi’i sebagaimana disebutkan dalam <em>Mukhtashar Al-Muzani</em> mengatakan, “Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberikan keringanan untuk ditinggalkan kecuali ada uzur.” (<em>Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha</em>, hlm. 107)</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha</em>. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar Al-Imam Ahmad. hlm. 107, 110, 124, 125.</p>
<p><em>Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin</em>. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:243.</p>
<p> </p>
<p>—-</p>
<p>Disusun <a href="https://darushsholihin.com" target="_blank" rel="noopener">@ Perpus Rumaysho Darush Sholihin</a>, 8 Dzulqa’dah 1438 H</p>
<p>Oleh: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></p>
 