
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengkhawatirkan fitnah (kesesatan) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan</em>” (H.R Ahmad).</p>
<p>Fitnah syubhat ditangkal dengan keyakinan (di atas ilmu yang benar), adapun fitnah syahwat ditangkal dengan kesabaran. Oleh karena itu Allah <em>Ta’ala</em> menjadikan kepemimpinan agama bergantung kepada dua perkara ini (sabar dan yakin). Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab">وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ</p>
<p>“<em>Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar dan meyakini ayat-ayat Kami.</em>” (QS. As Sajdah 24).</p>
<p>Ayat tersebut menunjukkan bahwa dengan sabar dan yakin, kepemimpinan dalam agama akan dapat diraih. Allah Ta’ala menyatukan keduanya juga dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab">وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ</p>
<p>“<em>Dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran</em>.” (QS. Al ‘Ashr: 3).</p>
<p>Maka saling menasehati dalam kebenaran akan dapat melawan syubhat, dan saling menasehati dalam kesabaran akan menghentikan syahwat.</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: dr. Adika Mianoki</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 