
<p>Di antara bentuk syirik akbar dalam <em>rububiyyah</em> adalah:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Tidak meyakini bahwa Allah itu ada, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang ateis.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ</span></p>
<p><em>“Mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’”</em> <strong>(QS. al-Jatsiyah: 24)</strong>.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Meyakini tritunggal atau trinitas, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani, yaitu meyakini bahwa Tuhan itu satu tetapi memiliki tiga pribadi: Tuhan Bapa, Tuhan Putra, dan Roh Kudus. Ketiganya itu sama secara esensi dan kedudukan (Bapa sama dengan Putra, dan keduanya sama dengan Roh Kudus), tetapi sebenarnya berbeda satu sama lain (Bapa adalah yang beranak, Putra adalah yang diperanakkan, dan Roh Kudus adalah yang dihembuskan).</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّـهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّا إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sungguh Allah itu salah satu dari yang tiga.’ Padahal sekali-kali tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Tuhan yang Satu”</em> <strong>(QS. al-Ma’idah: 73)</strong>.</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قُلْ هُوَ اللَّـهُ أَحَدٌ * اللَّـهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ</span></p>
<p><em>“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ash-Shamad (Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu apa pun yang setara dengan-Nya’”</em> <strong>(QS. al-Ikhlash: 1-4)</strong>.</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Meyakini bahwa tuhan itu ada dua, yaitu <em>Ahura Mazda</em> dan <em>Ahriman.</em> Hal ini sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Majusi, di mana kebaikan semuanya berasal dari tuhan kebaikan yaitu <em>Ahura Mazda</em>, sedangkan keburukan semuanya berasal dari tuhan keburukan yaitu <em>Ahriman</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/60759-nasihat-bagi-yang-terjerumus-dalam-kesyirikan.html" data-darkreader-inline-color="">Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam Kesyirikan</a></strong></p>
<p><strong>Keempat:</strong> Meyakini bahwa manusia menciptakan perbuatan mereka sendiri, sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang <em>Qadariyyah</em>.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاللَّـهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ</span></p>
<p><em>“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”</em> <strong>(QS. ash-Shaffat: 96)</strong>.</p>
<p>Para ulama berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من قال إن أفعال العباد غير مخلوقة فهو بمنزلة من قال إن السماء والأرض غير مخلوقة.</span></p>
<p>“Barangsiapa yang berkata, ‘Perbuatan manusia itu tidak diciptakan,’ maka dia sama derajatnya dengan orang yang berkata, ‘Langit dan bumi itu tidak diciptakan.’”</p>
<p><strong>Kelima:</strong> Meyakini bahwa syaikh mereka telah mencapai derajat bisa mengatur seluruh apa yang ada di alam semesta ini dengan kalimat <em>“Kun”</em> (“Jadilah!”), baik ketika mereka masih hidup maupun setelah matinya, sebagaimana ini adalah yang diyakini oleh orang-orang Sufi.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu maka Dia berkata, ‘Jadilah!’ maka terjadilah”</em> <strong>(QS. Yasin: 82)</strong>.</p>
<p><strong>Keenam:</strong> Meyakini bahwa yang menurunkan hujan itu adalah bintang-bintang, bukan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala.</em> Ini sebagaimana yang diyakini oleh kaum musyrikin <em>jahiliyyah</em>.</p>
<p>Dari Abu Malik al-Asy’ariy <em>Radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أربع في أمتي من أمر الجاهلية لا يتركونهن: الفخر في الأحساب، والطعن في الأنساب، والاستسقاء بالنجوم، والنياحة.</span></p>
<p>“Empat perkara dalam umatku yang termasuk perkara jahiliyyah yang tidak mereka tinggalkan: berbangga diri dengan keturunan, mencela nasab, menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang, dan meratapi orang yang meninggal dunia” <strong>(HR. Muslim no. 934)</strong>.</p>
<p>Demikian pula, menisbatkan hal-hal lainnya seperti masalah rezeki, untung-rugi, jodoh, sehat-sakit, dan sebagainya kepada bintang-bintang, juga adalah kesyirikan.</p>
<p>Referensi utama: <em>Syarh Tashil al-’Aqidah al-Islamiyyah</em>, karya Syaikh ‘Abdullah ibn ‘Abdil-’Aziz al-Jibrin.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/59058-syirik-adalah-kezaliman-terbesar.html" data-darkreader-inline-color="">Syirik adalah Kezaliman Terbesar</a></span></strong></li>
<li><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/58749-kesyirikan-pertama-di-muka-bumi.html" data-darkreader-inline-color="">Kesyirikan Pertama di Muka Bumi </a></span></strong></li>
</ul>
</div>
<p><em>@almaaduuriy / andylatief.com</em></p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/andylatief"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.</span></a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></a></strong></p>
 