
<p><strong>DALIL DOA LAILATUL-QADR?</strong></p>
<p>Pertanyaan<br>
<em>Asyhadu an-lâ </em><em>il</em><em>â</em><em>ha </em><em>illallah, astagfirullah asalukal-jannata wa ana a’udzubika minannar. Allahuma innaka ‘afuwwun, tu<u>h</u>ibbul ‘afwa fa`fu ‘anna ya Karîm</em>. Apakah dzikir ini ada dalilnya?</p>
<p>Jawaban<br>
Dzikir tersebut memuat empat bagian. Yaitu syahadat<em> l</em><em>â</em><em> il</em><em>â</em><em>ha illallah</em>, istighfar, doa meminta surga dan berlindung dari neraka, serta doa permintaan maaf  kepada Allah.</p>
<p>Masalah keutamaan membaca syahadat <em>l</em><em>â</em><em> il</em><em>â</em><em>ha illallah</em> disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةُ</strong></p>
<p><em>Barang siapa bersyahadat (bersaksi) lâ ilâha illallah, dia pasti akan masuk surga</em>.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Masalah keutamaan membaca istighfar (memohon ampun) kepada Allah disebutkan dalam beberapa hadits. Antara lain:</p>
<p><strong>عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً </strong></p>
<p><em>Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu , dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni untukmu dosa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menghadap-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menemui-Ku, engkau tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuimu dengan ampunan seperti itu</em>.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Tentang doa meminta surga dan berlindung dari neraka ini disebutkan dalam beberapa hadits. Antara lain:</p>
<p><strong>عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَأَلَ الْجَنَّةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قَالَتْ الْجَنَّةُ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ اسْتَجَارَ مِنْ النَّارِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قَالَتْ النَّارُ اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنْ النَّارِ</strong></p>
<p><em>Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa meminta surga (kepada Allah) tiga kali, surga berkata,’Wahai Allah, masukkanlah dia ke dalam surga,’  dan barang siapa meminta perlindungan dari neraka (kepada Allah) tiga kali, neraka berkata.’Wahai Allah, lindungilah dia dari neraka</em>‘.” <a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Tentang doa permintaan maaf  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , disebutkan dalam hadits sebagai berikut:</p>
<p><strong>عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي</strong></p>
<p><em>Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma , dia berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, jika aku menemui malam al-qadr, doa apa yang akan aku katakan?” Beliau menjawab: “Katakanlah, </em><strong><em>Allahuma innaka ‘afuwwun tu<u>h</u>ibbul ‘afwa fa’fu ‘anni</em></strong><em> (Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi maaf, Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku)”</em>.<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Dalam riwayat at-Tirmidzi ada tambahan <em>kar</em><em>î</em><em>m</em> setelah kata ‘<em>afuwwun</em>, tetapi tidak ada kata-kata <em>ya Kar</em><em>î</em><em>m</em> di akhirnya. Riwayat ini sebagai berikut.</p>
<p><strong>عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي</strong></p>
<p><em>Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, jika aku mengetahui waktu malam al-qadr, apa yang akan aku katakan pada waktu itu?” Beliau menjawab: “Katakanlah, </em><strong><em>Allahuma innaka ‘afuwwun kar</em><em>î</em></strong><em><strong>m tu<u>h</u>ibbul-‘afwa fa’fu ‘anni</strong> (wahai Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemberi maaf lagi Mahapemurah, Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku)”</em>.<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>Intinya dzikir di atas kandungannya benar, namun waktunya mutlak, yaitu tidak ditentukan kecuali doa terakhir yang diucapkan pada malam yang diharapkan terdapat malam <em>al-qadr</em> padanya. Demikian juga susunannya tidak sebagaimana tersebut dalam pertanyaan.</p>
<p>Oleh karena itu, jika dzikir dan doa itu diucapkan pada waktu-waktu yang tidak ditentukan, dan tidak mesti dengan susunan seperti di atas -insya Allah- tidak mengapa. Namun jika diucapkan secara rutin pada waktu yang ditentukan dan dengan susunan seperti di atas, maka hal itu dikhawatirkan termasuk dalam <em>bid’ah idhafiyyah</em>. Yaitu <em>bid’ah</em> yang pada asalnya ada dalilnya, namun cara pelaksanaannya tidak mengikuti dali.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun Xi/1428/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
________<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> HSR al-Bazzar dari Ibnu ‘Umar. Lihat <em>ash-Sha<u>h</u>î<u>h</u>ah</em>, no. 2344. <em>Sha<u>h</u>î<u>h</u>ul-Jami’</em>, no. 6318.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> HSR at-Tirmidzi, no. 3540. <em>Disha<u>h</u>î<u>h</u>kan</em> oleh Syaikh al- Albâni.<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> HSR Ibnu Majah, no: 4340. <em>Disha<u>h</u>î<u>h</u>kan</em> oleh Syaikh al- Albâni.<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> HR Ibnu Majah, no. 3850 dan A<u>h</u>mad.<em> Disha<u>h</u>î<u>h</u>kan </em>oleh Syaikh al- Albâni.<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> HR at-Tirmidzi, no. 3513.<em> Disha</em><em><u>h</u></em><em>î<u>h</u></em><em>kan</em> oleh Syaikh al- Albâni.</p>
 