
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Ayat Al-Qur`an yang kurang dipahami kaum LGBT </b></span></h4>
<h5><b>1. Batasan penyaluran hasrat seksual yang halal</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(5) </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(6)</span><i><span style="font-weight: 400;"> kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak (wanita) yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.</span></i></p>
<p style="text-align: right;">فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(7) </span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Mu’minuun: 5-7).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam ayat ini, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan tentang batasan penyaluran hasrat seksual yang halal dan kapan dinyatakan hal itu melampui batasan syari’at sehingga menjadi haram.</span></p>
<p><b> Penyaluran hasrat seksual yang halal </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini dapat diketahui dari QS. Al-Mu’minuun: 5 &amp; 6, yaitu penyaluran hasrat seksual dalam bentuk seorang laki-laki menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri atau budak wanitanya. Lalu apakah yang dimaksud menjaga kemaluan? Ulama ahli Tafsir yang masyhur, Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan makna ayat tersebut. Maknanya adalah orang-orang yang menjaga kemaluan mereka dari yang haram, maka mereka tidak terjatuh kedalam perkara yang dilarang oleh Allah, berupa zina atau liwath serta tidak mendekati selain istri mereka yang Allah halalkan untuk mereka atau budak (wanita) mereka (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>: 4/6).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam tafsir ayat yang lainnya, QS. An-Nuur: 30, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">juga menjelaskan bahwa menjaga kemaluan bisa dalam bentuk mencegahnya dari zina, sebagaimana Allah berfirman (artinya) </span><i><span style="font-weight: 400;">dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak (wanita) yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela </span></i><span style="font-weight: 400;">(Al-Ma’aarij: 29-30),</span> <span style="font-weight: 400;">dan bisa pula dalam bentuk menjaga kemaluan dari pandangan (orang lain) (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>: 4/44).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ahli Tafsir, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan QS. Al-Mu’minuun: 5 di atas. </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka </span></i><span style="font-weight: 400;">dari zina. Termasuk bentuk kesempurnaan menjaga kemaluan adalah menjauhi apa yang mendorong kepadanya (zina) seperti memandang, memegang dan yang semisalnya (<em>Tafsir As-Sa’di</em>: 637).</span></p>
<p><b> Penyaluran hasrat seksual yang haram</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>Imam Mufassirin</em>,  Ibnu Jarir Ath-Thobari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan QS. Al-Mu’minuun ayat tujuh di atas, bahwa</span> <span style="font-weight: 400;">barangsiapa yang mencari penyaluran </span><b>hasrat seksual untuk kemaluannya pada selain istri dan budak (wanita)nya</b> <i><span style="font-weight: 400;">maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau juga menjelaskan bahwa mereka melampaui batasan-batasan Allah, (yaitu) </span><b>melebihi apa yang Allah halalkan </b><span style="font-weight: 400;">untuk mereka (dengan beralih) kepada perkara yang Allah haramkan atas mereka”</span> <span style="font-weight: 400;">(<em>Tafsir Ath-Thabari</em>).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menerangkan ayat di atas, bahwa tidak halal menyalurkan hasrat seksual kemaluan kecuali kepada istri atau budak (wanita)nya dan tidak halal pula onani/masturbasi” (Ahkamul Quran: 1/195).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Hayan Al-Andalusi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menerangkan bahwa firman Allah yang artinya </span><i><span style="font-weight: 400;">di balik itu</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengacu pada zina, liwath, mensetubuhi binatang, dan onani/masturbasi. Makna </span><i><span style="font-weight: 400;">di balik itu</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah </span><b>di luar batas yang Allah tetapkan berupa (penyaluran hasrat seksual halal) terhadap istri dan budak wanitanya.</b><span style="font-weight: 400;">” (<em>Tafsir Al-Bahr Al-Muhith</em>: 6/391). </span></p>
<p><b>Kesimpulan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan para pakar Tafsir kaum muslimin tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa QS. Al-Mu’minuun: 5-7 itu menunjukkan bahwa:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;">Menjaga kemaluan itu bukan hanya menjaganya dari penetrasi yang haram (sodomi dan zina) saja, namun juga mencakup </span><b>menjaga dari seluruh</b> <b>penyaluran hasrat seksual yang haram.</b><span style="font-weight: 400;"> Contohnya: memandang, memegang</span> <span style="font-weight: 400;">atau yang semisalnya kepada </span><b>selain istri dan budak wanitanya</b><span style="font-weight: 400;"> (Lihat: <em>Tafsir As-Sa’di</em> di atas).</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;">Penyaluran hasrat seksual yang </span><b>halal</b><span style="font-weight: 400;"> adalah jika </span><b>hasrat seksual pria disalurkan kepada istri dan budak wanitanya</b><span style="font-weight: 400;">, dengan cara sesuai dengan batasan yang Allah tetapkan (Lihat: Tafsir Al-Bahr Al-Muhith di atas).  Dengan demikian, penyaluran </span><b>hasrat seksual yang halal bagi seorang wanita hanyalah kepada suami yang sah</b><span style="font-weight: 400;">, dengan cara sesuai dengan batasan yang Allah tetapkan.</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;">Penyaluran hasrat seksual yang </span><b>haram</b><span style="font-weight: 400;"> adalah</span>
</li>
</ol>
<ul>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Bagi laki-laki, jika </span><b>disalurkan kepada selain  istri dan budak wanitanya</b><span style="font-weight: 400;">, dengan cara apapun juga.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Bagi wanita,</span><b> jika disalurkan kepada selain suami yang sah</b><span style="font-weight: 400;">, dengan cara apapun juga.</span>
</li>
</ul>
<p><b>Catatan: </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika anda masih ragu terhadap kesimpulan ini, wahai LGBT. </span><span style="font-weight: 400;">Silahkan simak fatwa-fatwa ulama yang selaras dengan kandungan QS. Al-Mu’minuun: 5-7, yang akan dikelaskan pada penjelasan-penjelasan kami selanjutnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">insyaallah.</span></i></p>
<h5>
<b>2. Mendekati </b><b><i>fawahisy</i></b><b> itu haram</b>
</h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;">قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(151) </span><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian yaitu: janganlah kalian mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka, dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah (untuk dibunuh) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepada kalian supaya kalian memahami(nya)</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al-An’aam:151).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang ulama ahli Tafsir, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan ayat di atas Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman kepada Nabi-Nya</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">(artinya) </span><i><span style="font-weight: 400;">katakanlah</span></i><span style="font-weight: 400;"> kepada mereka yang mengharamkan perkara yang dihalalkan oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan pengharaman yang umum, mencakup setiap orang dan mengandung berbagai macam keharaman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, keharaman yang akan disebutkan pada kelanjutan ayat ini adalah berlaku untuk semua orang, termasuk bagi LGBT.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebih lanjut, syaikh Abdur Rahman As-Sa`di menjelaskan ayat yang artinya </span><i><span style="font-weight: 400;">dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu dosa-dosa besar yang sangat menjijikkan (hina)[1. Dalam KBBI: <b>keji</b><span style="font-weight: 400;">/ke·ji/ </span><i><span style="font-weight: 400;">a</span></i><span style="font-weight: 400;"> sangat rendah (kotor, tidak sopan, dan sebagainya); hina</span>].</span><span style="font-weight: 400;"> Larangan mendekati perbuatan-perbuatan keji (</span><i><span style="font-weight: 400;">fawahisy</span></i><span style="font-weight: 400;">) itu lebih mengena dari sebatas larangan melakukannya, karena sesungguhnya itu </span><b>mengandung larangan melakukan pendahuluannya dan sarana-sarananya</b><span style="font-weight: 400;"> yang dapat menjerumuskan kedalam perbuatan-perbuatan keji (</span><i><span style="font-weight: 400;">fawahisy</span></i><span style="font-weight: 400;">) tersebut (disamping mengandung larangan terhadap </span><i><span style="font-weight: 400;">fawahisy </span></i><span style="font-weight: 400;">itu sendiri, pent.) (<em>Tafsir As-Sa’di</em>, hal. 302)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang ulama senior, anggota komite fatwa dan ulama besar KSA, DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan ayat di atas, perhatikanlah firman Allah (artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">dan janganlah kalian mendekati</span></i><span style="font-weight: 400;"> maka Allah </span><b>tidak</b><span style="font-weight: 400;"> berfirman,  </span><i><span style="font-weight: 400;">dan janganlah kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang keji</span></i><span style="font-weight: 400;"> tetapi Allah berfirman, </span><i><span style="font-weight: 400;">dan janganlah kalian mendekati</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena hal itu mengandung larangan melakukan sebab-sebab yang dapat menjerumuskan kedalam maksiat. Jadi, Allah mengharamkan maksiat dan mengharamkan sebab-sebab yang dapat menjerumuskan kedalam kemaksiatan tersebut (<em>I’anatul Mustafid</em> : 1/45)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">juga menjelaskan jika sebab-sebab (yang dapat menjerumuskan kedalam kemaksiatan) saja diharamkan, bagaimana lagi dengan kemaksiatan-kemaksiatan (</span><i><span style="font-weight: 400;">fawahisy</span></i><span style="font-weight: 400;">)nya? Tentu lebih diharamkan lagi (<em>I’anatul Mustafid</em>: 1/46)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana diketahui, sodomi yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> disebut dalam Al-Qur`an sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">fahisyah </span></i><span style="font-weight: 400;">(perbuatan keji). Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i> <span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan</span></i><b><i> perbuatan yang keji</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Al-A’raaf: 80).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh seorang gay, meski tanpa sodomi dan hanya “sekedar” bernafsu ketika memandang sesama jenis, berciuman, saling oral seks, saling meraba atau semisal itu, </span><b>maka hukumnya haram</b><span style="font-weight: 400;">, karena perilaku seks sesama jenis tersebut kebanyakannya dapat menjerumuskan pelakunya kedalam fahisyah sodomi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan, demikian pula pendahuluan </span><i><span style="font-weight: 400;">fahisyah </span></i><span style="font-weight: 400;">(liwath besar)</span> <span style="font-weight: 400;">saat menikmati perbuatan mencium </span><i><span style="font-weight: 400;">amrad </span></i><span style="font-weight: 400;">(pemuda yang wajahnya tak tumbuh bulu/jenggot), menyentuhnya dan memandangnya, maka (hukumnya) </span><b>adalah haram, berdasarkan kesepakatan kaum muslimin</b>[2. Lihat: <a href="http://Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=29622" target="_blank">Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=29622</a>].</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun perilaku seks sesama perempuan (lesbi), maka termasuk kedalam </span><i><span style="font-weight: 400;">fawahisy </span></i><span style="font-weight: 400;">di dalam ayat di atas, karena tafsir </span><i><span style="font-weight: 400;">fawahisy </span></i><span style="font-weight: 400;">pada ayat di atas -sebagaimana telah disebutkan- adalah dosa-dosa besar yang keji. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan QS.  Al-A’raaf: 33. </span><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi</span></i><span style="font-weight: 400;">”, yaitu dosa-dosa besar yang menjijikkan dan buruk, karena (memang sangat) hina dan buruknya dosa-dosa tersebut, seperti zina, </span><i><span style="font-weight: 400;">liwath </span></i><span style="font-weight: 400;">dan sebagainya”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">disebutkan bahwa  tidak ada perselisihan di antara ulama Ahli Fikih bahwa lesbi itu (hukumnya) haram, berdasarkan sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">lesbi adalah perzinaan di antara perempuan</span></i><span style="font-weight: 400;">[3. Terdapat hadits yang semakna dengan hadits di atas, yang diriwayatkan Ath-Thabarani dan Abu Ya’la serta dihasankan oleh As-Suyuthi]</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Ibnu Hajar menilai lesbi itu termasuk salah satu dari dosa-dosa besar[4. Lihat: <a href="http://Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=115052" target="_blank">Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=115052</a>].</span></p>
<p><b>Kesimpulan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat yang disebutkan dalam QS. Al-An’aam: 151 ini, cukup menjadi dalil diharamkannya perilaku seks sesama jenis, baik gay maupun lesbi, walaupun bukan sodomi, </span><b>jika ditafsirkan dan dipahami secara benar</b>[5. Sudah dikenal dalam ilmu Ushul Tafsir, bahwa menafsirkan suatu ayat Al Qur’an, bisa dengan ayat yang lainnya, Al-Hadits maupun selain keduanya dari rujukan-rujukan dalam menafsirkan Al Qur’anul Karim]<b>.</b><span style="font-weight: 400;"> Bagaimana lagi jika terdapat ayat yang lainnya yang menjadi dalil? Camkanlah!</span></p>
<p>(bersambung)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>____</p>
 