
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>3. Kewajiban menundukkan pandangan terhadap hal-hal yang diharamkan </b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;">قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(30) </span><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”</span></i></p>
<p style="text-align: right;">وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ …</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(31) </span><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka…</span></i><span style="font-weight: 400;">”(QS. An-Nuur: 30-31).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkut ini, penjelasan beberapa para ahli tafsir tentang kedua ayat tersebut.</span></p>
<ul>
<li>
<span style="font-weight: 400;">Ulama ahli Tafsir, Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa ayat di atas adalah perintah dari Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menahan pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan bagi mereka, maka tidak boleh mereka memandang kecuali kepada pandangan yang dihalalkan bagi mereka.</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menafsirkan ayat di atas </span><i><span style="font-weight: 400;">katakanlah kepada mereka</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu orang-orang yang memiliki keimanan yang dapat mencegah mereka dari terjatuh kedalam perkara yang merusak keimanan, </span><i><span style="font-weight: 400;">hendaklah mereka menahan pandangan mereka </span></i><span style="font-weight: 400;">dari memandang aurat (yang terlarang untuk dilihat), wanita asing (selain istri dan mahram) dan pemuda yang wajahnya tak tumbuh bulu/jenggot yang dikhawatirkan timbul fitnah karena melihat mereka”  (Tafsir As-Sa’di).<br>
</span><span style="font-weight: 400;">Beliau juga menjelaskan ayat yang artimya</span><i><span style="font-weight: 400;"> dan menjaga kemaluan mereka </span></i><span style="font-weight: 400;">dari aktifitas bersetubuh (penetrasi) yang diharamkan, baik menyetubuhi kemaluan (wanita yang diharamkan) maupun menyetubuhi dubur </span><b>atau tidak sampai itu (penetrasi)</b><span style="font-weight: 400;">. Dan (menjaga kemaluan dari) </span><b>dipegang dan dilihat (oleh orang lain)</b><span style="font-weight: 400;">” (Tafsir As-Sa’di).</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;">Al-Baghawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan keterangan dari Abu Aliyah</span> <span style="font-weight: 400;">setiap ayat dalam Al-Qur`an tentang menjaga kemaluan, maksudnya adalah menjaganya dari zina dan </span><b>sesuatu yang haram. </b><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, pada konteks ayat ini, Allah memaksudkan </span><i><span style="font-weight: 400;">menjega kemaluan</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah menutupinya, sehingga pandangan orang lain tidak mengarah kepadanya” (Tafsir Al-Baghawi).</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;">Imam Mufassirin, Ibnu Jarir Ath-Thobari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">“dan menjaga kemaluan mereka” </span></i><span style="font-weight: 400;">dari dilihat oleh orang yang tidak halal melihatnya, dengan menutupinya dari pandangan manusia”. (Tafsir Ath-Thobari).</span>
</li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa jika tiba-tiba seseorang melihat sesuatu yang haram tidak sengaja, maka hendaklah mereka memalingkan pandangannya dengan segera. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">shahih</span></i><span style="font-weight: 400;">nya, dari hadits Yunus bin Ubaid, dari ‘Amr bin Sa’id, dari Abu Zur’ah bin ‘Amr bin Jarir, dari kakeknya, Jarir bin Abdullah Al-Bajali </span><i><span style="font-weight: 400;">radliyallaahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;">سَأَلْتُ النبي صلى الله عليه وسلم عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja). Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku agar aku segera memalingkan pandanganku.</span></i><span style="font-weight: 400;">” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radliyallaahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata Rasulullah</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;">كتب على ابن آدم حظه من الزنى، أدرك ذلك لا محالة. فزنى العينين: النظر. وزنى اللسان : النطق . وزنى الأذنين : الاستماع . وزنى اليدين : البطش . وزنى الرجلين: الخطي . والنفس تمنى وتشتهي ، والفرج يصدق ذلك أو يكذبه</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Telah ditentukan atas setiap anak Adam bagiannya dari perbuatan zina, ia pasti melakukannya[1. Sesuai dengan takdirnya, karena kesalahannya sendiri] .</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> Zina kedua mata adalah dengan memandang,  zina lisan adalah dengan berbicara, zina kedua telinga adalah dengan mendengarkan, zina kedua tangan adalah dengan memegang, dan zina kedua kaki adalah dengan melangkah, sedangkan hati berangan-angan dan bernafsu, dan kemaluan melaksanakan nafsu untuk berzina itu atau menolaknya”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak dari kalangan ulama menyatakan, sesungguhnya mereka melarang seorang laki-laki dari menajamkan (mengkosentrasikan) pandangannya kepada pemuda yang wajahnya tak tumbuh bulu/jenggot” (Tafsir Ibnu Katsir). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Baththal menjelaskan hadits yang agung tersebut,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">سُمِّيَ النَّظَر وَالنُّطْق زِنًا لأَنَّهُ يَدْعُو إِلَى الزِّنَا الْحَقِيقِيّ , وَلِذَلِكَ قَالَ ( وَالْفَرْج يُصَدِّق ذَلِكَ وَيُكَذِّبهُ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Melihat dan berbicara (dalam perkara yang diharamkan) disebut ‘zina’ karena itu adalah sebab yang menjerumuskan kepada zina yang hakiki. Oleh karena itu beliau (Nabi Muhammad) bersabda (artinya) “Kemaluan melaksanakan nafsu untuk berzina itu atau menolaknya” (<em>Fathul Bari</em>). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Baghawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menafsirkan QS. An-Nuur: 30 dengan membawakan sebuah hadits yang menjelaskan salah satu bentuk pandangan yang dilarang dalam ayat tersebut. Dari Abdur Rahman bin Abu Sa’iid Al-Khudriy </span><i><span style="font-weight: 400;">radliyallaahu ‘anhu,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari bapaknya, bahwasannya Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;">لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، وَلَا تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي ثَوْبِ وَاحِدِ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Janganlah seorang pria melihat aurat pria lain, tidak pula seorang wanita melihat aurat wanita yang lain. Dan janganlah seorang pria berada dalam satu kain (selimut) dengan pria lain, dan tidak pula wanita berada satu kain (selimut) dengan wanita lain</span></i><span style="font-weight: 400;">”[2. HR.<span style="font-weight: 400;"> Muslim</span>].</span></p>
<p><b>Kesimpulan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah beberapa penafsiran para ahli tafsir yang </span><b>menunjukkan haramnya perbuatan yang banyak dilakukan oleh LGBT, yaitu berupa kemaksiatan (zina) mata!</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukankah mayoritas perilaku seks LGBT menggunakan pandangan mata yang diharamkan? Bukankah perilaku seks gay dan lesbi banyak dilakukan dengan membuka aurat mereka dan merekapun saling melihatnya? Bukankah perilaku seks gay dan lesbi, kalaupun mereka saling memandang bagian tubuh pasangannya yang bukan aurat, sulit terhindar dari bernafsu dan bersyahwat?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wahai LGBT, artikel selanjutnya adalah fatwa-fatwa ulama yang membantu anda  memahami dengan benar beberapa ayat yang sudah penyusun sampaikan.</span></p>
<p>(bersambung)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>___</p>
 