
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Fatwa-fatwa tentang keharaman perilaku seks sesama pria (gay)</b></span></h4>
<p><b>1) Fatwa Islamweb.net nomor 22549 tentang definisi liwath dalam syari’at</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Definsi liwath (besar) di dalam syari’at adalah</span> <span style="font-weight: 400;">memasukkan kepala penis kedalam dubur laki-laki. Definisi ini disebutkan oleh penulis dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Fawakih Al-Dawani </span></i><span style="font-weight: 400;">dan selainnya. Kepala penis adalah bagian yang peka pada kemaluan laki-laki, dengannya dapat dicapai kelezatan (dalam berhubungan seks) dan letaknya di bagian depan penis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan definisi liwath (besar) yang telah disebutkan di atas, maka jelaslah bahwa meraba dubur dari luar, meraba sekitar dubur, memasukkan sedikit dari ujung penis ataupun memasukkannya di antara kedua buah zakar tidaklah termasuk kedalam definsi liwath (besar) didalam syari’at. Namun </span><b>bukan</b><span style="font-weight: 400;"> berarti perilaku-perilaku seks tersebut hukumnya halal, bahkan itu termasuk keharaman yang disebutkan di dalam firman Allah Ta’ala:</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(5) </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka,</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><b>إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(6)</span><i><span style="font-weight: 400;"> kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak (wanita) yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><b>فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(7) </span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Mu’minuun: 5-7)[1. Lihat: <a href="http://Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;lang=A&amp;Id=22549" target="_blank">Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;lang=A&amp;Id=22549</a>].</span></p>
<p><b>2) Fatwa Islamweb.net nomor 166929 tentang tingkatan perilaku hina ‘liwath'[2. <span style="font-weight: 400;">Kata liwath yang dimaksud disini adalah liwath dengan definisi umum yang sinonim dengan istilah gay, mencakup perilaku seks sesama pria, baik dengan sodomi dan non sodomi. Karena terdapat kata liwath dengan definisi khusus (liwath besar) yang dikenal dengan sodomi sesama pria, yang telah disebutkan dalam fatwa pertama. Liwath besar inilah yang dikenal dalam Syari’at bahwa ancaman bagi pelakunya adalah hukuman mati</span>]</b><b> (gay) dan pengharaman terhadap seluruh tingkatannya</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Asy-Syarbini menjelaskan bahwa </span><b>melihat dengan syahwat (nafsu) </b><span style="font-weight: 400;">mutlak diharamkan, (tidak peduli) </span><b>siapapun orang yang dilihat tersebut</b><span style="font-weight: 400;">, baik orang yang memiliki hubungan mahram dengannya maupun selain mahram, asalkan bukan istrinya dan budak wanitanya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qudamah mengatakan bahwa Imam Ahmad menerangkan</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">dalam sebuah riwayat Al-Atsram tentang seseorang yang memegang anak kecil perempuan, lalu mendudukkannya di pangkuannya dan menciuminya jika hal itu dilakukan </span><b>dengan syahwat maka tidak boleh</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Haaj dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Madkhal </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa</span><b> pelaku liwath itu ada tiga tingkatan :</b></p>
<p><b>Golongan Pertama</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Golongan laki-laki) yang menikmati (bernafsu) saat memandang (lelaki lainnya), maka ini </span><b>(hukumnya) haram</b><span style="font-weight: 400;">, karena memandang kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">amrad </span></i><span style="font-weight: 400;">(pemuda yang wajahnya tak tumbuh bulu/jenggot) dengan syahwat itu haram, menurut kesepakatan ulama. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa hukum memandang tersebut tetap haram, walaupun tanpa syahwat (nafsu).</span></p>
<p><b>Golongan Kedua</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Golongan laki-laki) yang menikmati (bernafsu) saat saling bercumbu, bermesraan, memeluk dan lainnya, yang tidak sampai melakukan perbuatan keji </span><i><span style="font-weight: 400;">(fahisyah/liwath) </span></i><span style="font-weight: 400;">besar (sodomi)</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><b>Golongan Ketiga</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan tingkatan yang ketiga adalah melakukan sodomi (<em>fahisyah kubro</em>/<em>liwath besar</em>)[3. Lihat: <a href="http://Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=166929" target="_blank">Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=166929</a>].</span></p>
<p><b>3) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </b><b><i>rahimahullah </i></b><b>menyatakan:</b></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وكذلك مقدمات الفاحشة عند التلذذ بقبلة الأمرد ولمسه، والنظر إليه هو حرام باتفاق المسلمين. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Demikian pula pendahuluan </span><i><span style="font-weight: 400;">fahisyah </span></i><span style="font-weight: 400;">(liwath besar)</span> <span style="font-weight: 400;">saat menikmati perbuatan mencium </span><i><span style="font-weight: 400;">amrad</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pemuda yang wajahnya tak tumbuh bulu/jenggot), menyentuhnya dan memandangnya, maka (hukumnya) </span><b>adalah haram</b><span style="font-weight: 400;">,</span><b> berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.</b></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Fatwa-fatwa Ulama dari berbagai madzhab tentang haramnya perilaku seks sesama wanita (lesbi)</b></span></h4>
<p><b>1) Fatwa Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i </b><b><i>rahimahullah</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">disebutkan: </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">لا خلاف بين الفقهاء في أنّ السّحاق حرام لقول النّبيّ صلى الله عليه وسلم: السّحاق زنى النّساء بينهنّ. وقد عدّه ابن حجر من الكبائر.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak ada perselisihan di antara ulama ahli fikih bahwa lesbi itu hukumnya haram, berdasarkan sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i> <b>lesbi adalah perzinahan diantara perempuan[4. Terdapat hadits yang semakna dengan hadits di atas, yang diriwayatkan Ath-Thabarani dan Abu Ya’la serta dihasankan oleh As-Suyuthi].</b><span style="font-weight: 400;"> Ibnu Hajar menilai lesbi termasuk salah satu dosa besar[5. Lihat: <a href="http://Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=115052" target="_blank">Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=115052</a>].</span></p>
<p><b>2) Fatwa Ibnu Qudamah Al-Hanbali </b><b><i>rahimahullah</i></b></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وَإِنْ تَدَالَكَتْ امْرَأَتَانِ , فَهُمَا زَانِيَتَانِ مَلْعُونَتَانِ ; لِمَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : ( إذَا أَتَتْ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ , فَهُمَا زَانِيَتَانِ )</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ada dua wanita yang saling meraba (bersentuhan lesbi), maka keduanya berzina dan dilaknat. Hal ini berdasarkan riwayat dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa beliau bersabda</span> <b>apabila ada wanita yang menyetubuhi wanita lain maka keduanya berzina[6. Hadis lemah (dhaif), disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dhaif al-Jami’, no: 282]</b> <span style="font-weight: 400;">(Al-Mugni: 9/59)[7. dinukil dari <a href="https://Islamqa.info/ar/21058" target="_blank">https://Islamqa.info/ar/21058</a>].</span></p>
<p><b>3) Fatwa Ibnul Hammam AL-Hanafi </b><b><i>rahimahullah</i></b></p>
<p style="text-align: right;">إذا أتت امرأة امرأة أخرى فإنهما يعزران لذلك</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seorang perempuan menyetubuhi perempuan lainnya, maka keduanya dihukum ta’zir[8. Ta’zir adalah sebuah bentuk hukuman dengan tujuan pemberian pelajaran kepada pelaku maksiat dan penetapan bentuk hukumannya dikembalikan kepada seorang imam/ hakim, sesuai dengan bentuk kriminalnya dan keadaan pelakunya]</span><span style="font-weight: 400;">, karenanya</span> <span style="font-weight: 400;">(Fathul Qadiir: 5/262).</span></p>
<p><b>4) Fatwa Al-Khurasy Al-Maliki </b><b><i>rahimahullah</i></b></p>
<p style="text-align: right;">شرار النساء إذا فعل بعضهن ببعض ، وإنما في هذا الفعل الأدب باجتهاد الإمام</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perempuan-perempuan buruk adalah yang saling berhubungan seskx sesama jenis. Hukuman dari perbuatan tersebut adalah sesuai dengan keputusan seorang hakim (Diringkas dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Mukhtashar Khalil </span></i><span style="font-weight: 400;">: 8/78).</span></p>
<p><b>5) Fatwa Al-Allamah Zakariya Al-Anshari Asy-Syafi’i </b><b><i>rahimahullah</i></b></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">إن أتت امرأة امرأة عُزِّرتا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seorang wanita menyetubuhi wanita lain, maka dihukum </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’zir</span></i><span style="font-weight: 400;"> (sesuai dengan keputusan hakim) (<em>Asnal Mathalib</em>: 4/126).</span></p>
<p><b>6) Fatwa Ibnu Abdil Barr </b><b><i>rahimahullah</i></b></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">على المرأتين اذا ثبت عليهما السحاق : الأدب الموجع والتشريد</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua orang wanita jika telah terbukti melakukan lesbi, maka dihukum dengan hukuman yang menyakitkan dan diusir (<em>Al-Kaafii fi fiqhi Ahlil Madiinah</em> : 2/1073)</span></p>
<p><b>7) Fatwa Ibnu Rusyd </b><b><i>rahimahullah</i></b></p>
<p style="text-align: right;">هذا الفعل من الفواحش التي دل القرآن على تحريمها بقوله تعالى : {والذين هم لفروجهم حافظون} إلى قوله { العادون} ، وأجمعت الأمة على تحريمه ، فمن تعـدى أمر الله في ذلك وخالف سلف الأمة فيه كان حقيقا بالضرب الوجيع</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perbuatan (lesbi) ini merupakan salah satu perbuatan keji yang ditunjukan oleh Al-Qur`an berdasarkan firman Allah Ta’ala</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(5) </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka, </span></i><span style="font-weight: 400;">sampai firman-Nya (7) </span><i><span style="font-weight: 400;">orang-orang yang melampaui batas</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama pun berijma’ (sepakat) atas pengharamannya. Maka barang siapa yang melampui batasan apa yang telah Allah perintahkan dan menyelesihi madzhab kaum muslimin dalam hal itu, maka layak untuk mendapatkan pukulan yang menyakitkan (<em>Al-Bayan wat Tahshil</em>: 16/323)[9. Fatwa ke-3 s/d ke-7 <a href="https://Islamqa.info/ar/185099" target="_blank">https://Islamqa.info/ar/185099</a>].</span></p>
<p><b>8) Fatwa Islamweb.net nomor 28379  tentang Dalil-dalil keharaman lesbi”.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Markaz Fatwa Islamweb.net ditanya tentang seorang istri yang melakukan penyimpangan seksual lesbi dengan saudari suaminya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Si istripun mendebat suaminya dengan beralasan bahwa tidak ada di dalam Al-Qur`an ayat yang menunjukkan keharaman lesbi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawaban dari Markaz Fatwa Islamweb.net adalah sebagai berikut:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak ada perselisihan di antara ulama tentang keharaman lesbi, bahkan banyak ulama menyatakan lesbi merupakan salah satu di antara dosa-dosa besar, maka tidak halal bagi wanita tersebut melakukan perbuatan lesbi itu. Dan kewajiban suami atau wali wanita tersebut untuk melarangnya dari perbuatan lesbi tersebut, tidak tinggal diam dan tanpa keraguan sedikitpun. Dan tidak pantas digubris ucapan wanita tersebut (yang menyatakan) bahwa tidak disebutkan pengharaman lesbi didalam Al-Qur`an, hal itu dikarenakan dua alasan.</span></p>
<p><b>Pertama:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wanita itu bukanlah seorang yang memiliki kemampuan berijtihad (berfatwa) dalam masalah syari’at Islam sehingga (ia tidak pantas) mengucapkan ucapan tersebut ataupun ucapan yang semisalnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka (semestinya) orang yang berhak berfatwa hanyalah orang yang memilki keahlian khusus (ulama) dan bukan dari kalangan mereka (orang awam).</span></p>
<p><b>Kedua:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Kenyataannya), terdapat dalil di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menyatakan pengharaman lesbi. Para ulama pun bersepakat atas pengharamannya, sebagaimana telah disebutkan di atas.</span></p>
<p><b>Adapun dalil Al-Qur`an </b><span style="font-weight: 400;">adalah firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><b>وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(5) </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka,</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><b>إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(6)</span><i><span style="font-weight: 400;"> kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak (wanita) yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><b>فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(7) </span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Mu’minuun: 5-7).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, wanita tersebut adalah seorang yang melampui batas, berdasarkan dalil Al-Qur`an. Sedangkan dalil As-Sunnah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Kabiir </span></i><span style="font-weight: 400;">dan Abu Ya’la, serta dihasankan oleh As-Suyuthi, dari Watsilah dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau bersabda, </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">السحاق بين النساء زناً بينهن </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Lesbi hakekatnya adalah perzinahan diantara perempuan</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah, kewajiban suami tersebut adalah melarang istrinya dari perbuatan lesbi dan memberikan pelajaran kepadanya dengan sesuatu yang membuatnya jera untuk melakukan perbuatannya yang buruk. Suami tersebut juga wajib melarang saudarinya dari perbuatan yang keji tersebut (lesbi). </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">[10. Lihat: <a href="http://Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=28379" target="_blank">Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=28379</a>]</span><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p>(bersambung)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>___</p>
<p> </p>
 