
<p><iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/12/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-59.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/12/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-59.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a></p>
<p> </p>
<p>Doa ini baik sekali diamalkan untuk mendapatkan perlindungan dan kecukupan.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><strong>Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Adzkar, Bab 249. Dzikir Ketika Menjelang Tidur</strong></p>
<h3></h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits #1463</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ:الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا ، وكفَانَا وآوانَا ، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.</p>
<p style="text-align: center;">Dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>apabila akan pergi tidur, beliau mengucapkan,</p>
<p style="text-align: center;">ALHAMDULILLAHILLADZI ATH’AMANAA WA SAQOONAA WA KAFAANAA WA AAWAANAA, FAKAM MIMMAN LAA KAAFIYA LAHU WA LAA MU’WIYA.</p>
<p style="text-align: center;">Artinya:</p>
<p style="text-align: center;"> “<em>Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, kecukupan, dan perlindungan. Betapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan perlindungan</em>.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2715]<br>
 </p>
<h3 style="text-align: center;">Faedah Hadits</h3>
<ol>
<li>Allah yang memberikan kecukupan dan perlindungan dari kejelekan, serta memberikan makan dan minum kepada kita.</li>
<li>Adanya tempat berlindung dan tempat kembali bagi seorang hamba ketika dapat tidur, itu adalah suatu nikmat dari Allah yang wajib disyukuri.</li>
<li>Wajib bagi hamba bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmat, lalu ia perhatikan kepada orang di bawahnya yang kurang cukup dan kurang mendapat perlindungan. Dengan memperhatikan orang yang dibawa, seseorang akan semakin bersyukur dengan nikmat yang ia miliki.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: center;">Tiga Manfaat Memiliki Sifat Qana’ah (Kecukupan)</h3>
<h2></h2>
<h3 style="text-align: center;">1- Mendapatkan dunia seluruhnya</h3>
<p>Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا</p>
<p>“<em>Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya</em>.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>hasan</em>).</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">2- Menjadi orang yang beruntung</h3>
<p>Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ</p>
<p>“<em>Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya</em>.” (HR. Muslim, no. 1054).</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">3- Mudah bersyukur</h3>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu</em>.” (HR. Muslim, no. 2963).</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin</em>. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</p>
<p>—</p>
<p>Disusun di <a href="https://darushsholihin.com">Darush Sholihin</a>, 28 Rabi’ul Awwal 1440 H, Kamis Sore</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener">Rumaysho.Com</a></p>
 