
<p><span style="font-weight: 400;">Satu hal yang wajib kita imani bahwa Allah <em>Ta’ala</em> tidaklah melakukan suatu perbuatan yang sia-sia atau sekedar main-main saja tanpa maksud dan tujuan tertentu. Akan tetapi, perbuatan Allah <em>Ta’ala</em> itu dilandasi oleh hikmah, yang bisa jadi kita ketahui atau tidak kita ketahui.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula dalam penciptaan manusia, juga memiliki hikmah. Allah <em>Ta’ala</em> memiliki hikmah tertentu dalam penciptaan manusia. Sebagian manusia bisa merealisasikan hikmah penciptaan tersebut. Dan sebagian lagi tidak bisa merealisasikannya, baik karena kebodohannya atau karena kedurhakaannya. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47302-apakah-manusia-bisa-hidup-di-selain-planet-bumi.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Manusia Bisa Hidup di Selain Planet Bumi?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam tulisan singkat ini, kami akan menyebutkan secara singkat dua hikmah penciptaan manusia.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Hikmah pertama, agar manusia memiliki ilmu tentang Allah <em>Ta’ala</em></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Hikmah penciptaan ini Allah <em>Ta’ala</em> jelaskan dalam firman-Nya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, </span><b>agar kamu mengetahui bahwasannya Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan (agar kamu mengetahui bahwa) sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(QS. Ath-Thalaq [65]: 12)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">telah mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi serta di antara keduanya </span><b>agar hamba-Nya mengetahui (memiliki ilmu) bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatu</b><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, mengenal Allah <em>Ta’ala,</em> melalui ilmu terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah <em>Ta’ala</em> </span><i><span style="font-weight: 400;">(tauhid asma’ wa shifat), </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah salah tujuan dari penciptaan manusia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">berfirman di ayat yang lain,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Ketahuilah, bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar (yang berhak disembah) kecuali Allah.” </span><b>(QS. Muhammad [47]: 19)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44024-terkadang-adzab-kubur-diperlihatkan-kepada-manusia.html" data-darkreader-inline-color="">Terkadang Adzab Kubur Diperlihatkan kepada Manusia</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Hikmah kedua, agar manusia beribadah hanya kepada Allah <em>Ta’ala</em></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Hikmah ke dua ini juga telah Allah <em>Ta’ala</em> jelaskan dalam firman-Nya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” </span><b>(QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, makna dari:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لِيَعْبُدُونِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“beribadah kepada-Ku”, adalah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لِيُوَحِّدُونِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“mentauhidkan Aku.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksudnya, seseorang tidaklah dinilai beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> sampai dia mentauhidkan Allah <em>Ta’ala</em> dalam ibadah tersebut. Yaitu dengan tidak beribadah kepada selain Allah <em>Ta’ala.</em> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika di satu waktu seseorang beribadah kepada Allah <em>Ta’ala,</em> dan di waktu yang lain dia beribadah kepada selain Allah <em>Ta’ala,</em> maka dia tidaklah dinilai beribadah kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Hal ini karena ibadah dia kepada selain Allah itu akan membatalkan ibadah dia kepada Allah. Dengan kata lain, karena dia tidak mentauhidkan Allah <em>Ta’ala</em> dalam ibadah tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, semakna dengan tafsir di atas adalah memaknai “beribadah kepada-Ku” dengan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يفردوني بالعبادة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Meng-esa-kan-Ku dalam ibadah.” </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang membedakan antara penciptaan manusia dan binatang. Karena hikmah di atas, Allah <em>Ta’ala</em> memberikan akal kepada manusia. Allah juga mengutus rasul kepada manusia dan menurunkan kitab-kitab. Seandainya penciptaan manusia itu sama dengan binatang, tentu diutusnya rasul dan diturunkannya kitab adalah perbuatan sia-sia semata. </span><b>[2]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita renungkan lebih dalam lagi, hikmah ke dua ini merupakan konsekuensi dari hikmah yang pertama. Artinya, ketika seorang hamba mengenal Allah <em>Ta’ala,</em> mengenal nama-nama Allah yang husna, dan mengenal kesempurnaan sifat Allah <em>Ta’ala,</em> bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu menandingi Allah dalam kesempurnaan sifat tersebut, tentu hamba tersebut akan beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> saja dan tidak beribadah kepada selain-Nya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28492-nabi-nuh-bapak-seluruh-manusia-setelah-nabi-adam.html" data-darkreader-inline-color="">Nabi Nuh, Bapak Seluruh Manusia Setelah Nabi Adam</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua hal di atas adalah hikmah, sebab, atau alasan Allah <em>Ta’ala</em> menciptakan manusia. Bisa jadi terealisasi, dan bisa jadi tidak. Oleh karena itu kita jumpai berbagai jenis manusia dalam merealisasikan hikmah penciptaan mereka. Ada di antara mereka yang: (1) tidak beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> sama sekali, dan tidak pula beribadah kepada selain Allah; (2) tidak beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> sama sekali, namun beribadah kepada selain Allah; (3) beribadah kepada Allah, dan juga beribadah kepada selain Allah; dan (4) beribadah kepada Allah saja, dan tidak beribadah kepada selain Allah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak kita ragukan lagi, yang betul-betul merealisasikan tujuan penciptaan mereka adalah manusia jenis ke empat. Semoga Allah <em>Ta’ala</em> menjadikan kita termasuk dalam hamba-hamba-Nya yang mampu merealisasikan ibadah hanya kepada-Nya semata. Aamiin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai kesimpulan, terdapat dua hikmah atau tujuan penciptaan manusia. </span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">agar manusia mengenal Allah <em>Ta’ala,</em></span> <span style="font-weight: 400;">yaitu mengetahui kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.</span></p>
<p><b>Kedua, </b><span style="font-weight: 400;">agar manusia beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> sebagai tuntutan dan konsekuensi dari pengenalan kepada Allah <em>Ta’ala</em> tersebut.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27703-manusia-lebih-mulia-daripada-jin-jadi-mengapa-takut.html" data-darkreader-inline-color="">Manusia Lebih Mulia Daripada Jin, Jadi Mengapa Takut?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24684-manusia-seperti-unta-sebanyak-seratus.html" data-darkreader-inline-color="">Manusia Seperti Unta Sebanyak Seratus</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 20 Dzulqa’dah 1440/17 Juli 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>I’aanatul Mustafiid, </i></b><span style="font-weight: 400;">1: 33, karya Syaikh Shalih Al-Fauzan.</span><b> </b></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Al-Qaulul Mufiid, </i></b><span style="font-weight: 400;">1: 26 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.</span></p>
 