
<p>Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan <a href="http://ustadzmuslim.com/?p=70" target="_self">kenikmatan</a> yang  tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.</p>
<p> Allah berfirman:</p>
<p>وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ  لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ</p>
<p><em>“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat  menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi  Maha Penyayang.</em>” (Qs. An-Nahl: 18)</p>
<p> <strong>NIKMAT <a href="http://ustadzmuslim.com/?p=70" target="_self">SEHAT<br></a></strong><br> Di antara kenikmatan Allah yang sangat banyak adalah kesehatan.  Kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang, memiliki nilai  yang besar. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> telah menyebutkan hal ini  dengan sabdanya:</p>
<p>مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى  فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا  حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا</p>
<p><em>“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat  badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari  itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” </em>(HR. Ibnu  Majah, no: 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di  dalam <em>Shahih Al-Jami’ush Shaghir</em>, no: 5918)</p>
<p>Kita melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang  besar untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan  kenikmatan dari Allah Ta’ala.</p>
<p> Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia  akan ingat jika kesehatan hilang darinya.</p>
<p>Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan  kesusahannya kepada seorang ‘alim. Maka orang ‘alim itu berkata: “Apakah  engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia  menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang  menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”.  Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang  tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu  dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah  engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”,  dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau tidak  malu mengadukan Tuanmu (Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> ) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu  dinar padamu”. (Lihat: <em>Mukhtashar Minhajul Qashidin</em>, hlm: 366)</p>
<p><strong>DUA KENIKMATAN, BANYAK MANUSIA TERTIPU</strong></p>
<p>Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat  kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya,  dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi  orang yang rugi, sebagaimana hadits di bawah ini:</p>
<p>عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ  اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ  الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ (خ 593</p>
<p><em>“Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya:  kesehatan dan waktu luang.”</em> (HR. Bukhari, no: 5933)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar<em> rahimahullah</em> berkata: “Kenikmatan adalah keadaan  yang baik, ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan  dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain.” (<em>Fathul Bari Syarh  Shahih Bukhari</em>, penjelasan hadits no: 5933)</p>
<p> Kata “<em>maghbuun</em>” secara bahasa artinya tertipu di dalam jual-beli, atau  lemah fikiran.</p>
<p> Al-Jauhari <em>rahimahullah</em>: “Berdasarkan ini, kedua (makna itu) bisa  dipakai di dalam hadits ini. Karena sesungguhnya orang yang tidak  menggunakan kesehatan dan waktu luang di dalam apa yang seharusnya, dia  telah tertipu, karena dia telah menjual keduanya dengan murah, dan  fikirannya tentang hal itu tidaklah terpuji.” (<em>Fathul Bari</em>)</p>
<p>Ibnu Baththaal <em>rahimahullah</em> berkata: “Makna hadits ini bahwa seseorang  tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia  tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa yang dua  perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu,  yaitu meninggalkan syukur kepada Allah terhadap nikmat yang telah Dia  berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah adalah melaksanakan  perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa  melalaikan hal itu maka dia adalah orang yang tertipu.” (<em>Fathul Bari</em>)</p>
<p>Kemudian sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> di atas “kebanyakan  manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan bahwa orang yang  mendapatkan taufiq (bimbingan) untuk itu, orangnya sedikit.</p>
<p> Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkata: “Kadang-kadang manusia itu sehat,  tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Dan  kadang-kadang manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat.  Maka jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan  melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu  adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat  perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat.</p>
<p> Maka barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya di dalam  ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan  barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allah, maka dia  adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh  kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi  maka masa tua (pikun).</p>
<p> Sebagaimana dikatakan orang “Panjangnya keselamatan (kesehatan) dan  tetap tinggal (di dunia) menyenangkan pemuda. Namun bagaimanakah engkau  lihat panjangnya keselamatan (kesehatan) akan berbuat? Akan  mengembalikan seorang pemuda menjadi kesusahan jika menginginkan berdiri  dan mengangkat (barang), setelah (sebelumnya di waktu muda) tegak dan  sehat.” (<em>Fathul Bari</em>)</p>
<p>Ath-Thayyibi <em>rahimahullah</em> berkata: “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> membuat gambaran bagi mukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan  seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari  keuntungan dengan keselamatan modalnya. Maka caranya dalam hal itu  adalah dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu  menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu  luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allah  dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan usuh agama, agar  dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini  seperti firman Allah:</p>
<p>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا  هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu  perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?</em> (Qs. As-Shaaf: 10) dan ayat-ayat berikutnya.</p>
<p>Berdasarkan itu dia wajib menjauhi ketatan kepada hawa-nafsu dan  berdagang/kerja-sama dengan setan agar modalnya tidak sia-sia bersama  keuntungannya.</p>
<p>Sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> di dalam hadits tersebut  “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” seperti firman Allah:</p>
<p>وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ  الشَّكُورُ</p>
<p><em>“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”</em> (Qs. Sabaa’: 13)</p>
<p> “Kebanyakan” di dalam hadits itu sejajar dengan “sedikit” di dalam ayat  tersebut.” (<em>Fathul Bari</em>)</p>
<p> Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi <em>rahimahullah</em> berkata: “Diperselisihkan tentang  kenikmatan Allah yang pertama (yakni yang terbesar) atas hamba. Ada yang  mengatakan “keimanan”, ada yang mengatakan “kehidupan”, ada yang  mengatakan “kesehatan”. Yang pertama (yaitu keimanan) lebih utama,  karena hal itu kenikmatan yang mutlak (menyeluruh). Adapun kehidupan dan  kesehatan, maka keduanya adalah kenikmatan duniawi, dan tidak menjadi  kenikmatan yang sebenarnya kecuali jika disertai oleh keimanan. Dan di  waktu itulah banyak manusia yang merugi, yakni keuntungan mereka hilang  atau berkurang. Barangsiapa mengikuti hawa-nafsunya yang banyak  memerintahkan keburukan, selalu mengajak rileks, sehingga dia  meninggalkan batas-batas (Allah) dan meninggalkan menekuni ketaatan,  maka dia telah merugi. Demikian juga jika dia lonnggar, karena orang  yang sibuk kemungkinan memiliki alasan, berbeda dengan orang yang  longgar, maka alasan hilang darinya dan hujjah (argumen) tegak atasnya.”  (<em>Fathul Bari</em>)</p>
<p> Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih selama  kesempatan masih ada. Hanya Allah Tempat memohon pertolongan.</p>
<p>Penulis: Ustadz Muslim Atsari</p>
<p>Artikel: <a href="http://ustadzmuslim.com/www.UstadzMuslim.com" target="_self">www.UstadzMuslim.com</a></p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a href="undefined" target="_blank">www.pengusahamuslim.com</a></p>
 