
<p>Apakah dzikir dan shalat harus menggerakkan lidah atau bibir (lisan)? Misal kala kita membaca surat dalam shalat, apa boleh mulut didiamkan saja?</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Dzikir Tidak Cukup di Lisan</span></h4>
<p>Yang pertama perlu dipahami bahwa dzikir itu tidak cukup di lisan. Dzikir haruslah dengan lisan, dengan hati dan anggota badan.</p>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, “Jika disebut dzikir pada Allah, maka mencakup dzikir dengan memiliki akidah yang benar pada Allah, dzikir dengan pikiran, dzikir dengan amalan hati, dzikir dengan amalan badan, atau dzikri dengan memuji Allah, atau dzikir juga bisa dengan mempelajari dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan semacam itu. Semua termasuk dzikir pada Allah <em>Ta’ala</em>.” (<em>Ar-Riyadh An-Nadhroh</em>, hal. 245)</p>
<p>Akan tetapi, dzikir yang terpenting adalah dengan hati, bukan hanya gerakan bibir semata sebagaimana yang disebutkan dalam ayat,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya</em>.” (QS. Al-Kahfi: 28). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em>, makna orang yang lalai dari dzikir di antaranya adalah orang yang berdzikir dengan lisan namun tidak dengan (perenungan) hatinya. (<em>Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surat Al-Kahfi</em>, hal. 62)</p>
<p>Bentuk dzikir dengan hati adalah dengan memikirkan ayat-ayat Allah, mencintai Allah, mengagungkan Allah, kembali pada Allah, takut pada Allah, tawakkal pada Allah, dan amalan hati lainnya.</p>
<p>Bentuk dzikir dengan lisan adalah mengucapkan dengan perkataan yang mendekatkan diri pada Allah. Bentuk dzikir lisan yang utama adalah dzikir ‘<em>laa ilaha illallah</em>’.</p>
<p>Bentuk dzikir dengan <em>jawarih</em> (anggota badan) adalah dengan perbuatan yang mendekatkan diri pada Allah seperti dengan berdiri ketika shalat, dengan ruku’, sujud, jihad dan menunaikan zakat.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Dzikir dengan Menggerakkan Lisan (Lidah)</span></h4>
<p>Ibnu Rusyd berkata dalam <em>Al-Bayan wa At-Tahshil</em> (1:490), dari Imam Malik <em>rahimahullah</em> bahwa beliau ditanya mengenai bacaan yang dibaca dalam shalat lantas tidak didengar oleh seorang pun, tidak pula oleh dirinya sendiri, dan lisan ketika itu tidak bergerak. Jawab Imam Malik, itu bukanlah <em>qira’ah</em> (membaca). Yang dimaksud dengan membaca adalah dengan menggerakkan lisan.</p>
<p>Al-Kasani dalam <em>Badai’ Ash-Shanai’</em> (4:118) berkata, “Membaca hendaklah dengan menggerakkan lisan (bibir) kala mengucapkan huruf. Jika ada yang mampu membaca namun cuma diam saja tanpa menggerakkan lisan dengan mengucapkan huruf, shalatnya tentu tidak sah. Begitu pula jika ada yang bersumpah tidak mau membaca satu surat pun dalam Al-Qur’an lantas ia melihat Al-Qur’an dan memahaminya tanpa menggerakkan lisannya, ketika itu belum disebut membatalkan sumpah.” Karena saat itu yang terjadi hanyalah melihat, bukan membaca.</p>
<p>Disebutkan pula oleh Imam Nawawi dalam <em>Al-Majmu’</em> (2:187-189) bahwa para ulama melarang orang junub untuk membaca Al-Qur’an. Namun mereka masih membolehkan jika orang yang junub tersebut melihat mushaf Al-Qur’an dan dia hanya membaca di dalam hati, tanpa menggerakkan lisan. Jadi kedua hal tersebut berbeda. Tidak menggerakkan bibir atau lidah berarti tidak dianggap membaca.</p>
<p>Kesimpulannya, tidak cukup mulut <em>mingkem</em> (diam) saat membaca, yang tepat lidah atau bibir (lisan) digerakkan. Itulah baru disebut membaca jika dituntut membaca seperti membaca Al-Fatihah, membaca surat, dan membaca dzikir.</p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi:</span></h4>
<p><a href="http://islamqa.info/ar/70577">Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 70577</a></p>
<p><em>Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surat Al-Kahfi</em>. Cetakan pertama tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</p>
<p>—</p>
<p>Selesai disusun di <a href="http://darushsholihin.com/">Panggang, Gunungkidul @DarushSholihin</a>, 18 Rajab 1436 H</p>
<p>Penulis: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
<p>Ikuti update artikel Rumaysho.Com di <a href="https://www.facebook.com/rumaysho" target="_blank">Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans)</a>, <a href="https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal" target="_blank">Facebook Muhammad Abduh Tuasikal</a>, <a href="https://twitter.com/RumayshoCom" target="_blank">Twitter @RumayshoCom</a>, <a href="https://instagram.com/rumayshocom" target="_blank">Instagram RumayshoCom</a></p>
<p>Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab.</p>
 