
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/04/Buletin-Rumaysho-Al-Azhar-Wonosari-Edisi-30.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/04/Buletin-Rumaysho-Al-Azhar-Wonosari-Edisi-30.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Pada pembahasan sebelumnya dijelaskan mengenai menyendirinya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di gua Hira dan bagaimana ibadah beliau sesuai petunjuk yang Allah berikan.</p>
<p> </p>
<h3>Dua Manfaat dari <em>Tafakkur</em> dengan Menyendiri</h3>
<p>Pertama: Mengenal kekurangan diri seperti ‘<em>ujub</em> (menyombongkan kebaikan), <em>kibr</em> (merendahkan orang lain), dengki, riya’, dan lain-lain, kemudian beristighfar, bertaubat, dan kembali kepada Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Kedua: Berdzikir kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan mendekatkan diri kepada-Nya, mengingat surga dan alam akhirat, perjalanan akhir seorang manusia, dan hal-hal lainnya yang bisa mengantarkan kepada ketaatan, dan jauh dari kemaksiatan.</p>
<p> </p>
<h3>Apa yang Dimaksud Menyendiri?</h3>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyendiri di gua Hira sebelum masa kenabian. Adapun setelah kenabian, maka bentuknya berubah dan caranya berganti dengan bentuk <strong>shalat tahajjud</strong>, <em>qiyamullail</em> tatkala manusia tidur. Sebelumnya, shalat tahajjud adalah kewajiban bagi Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan umat Islam, kemudian berubah menjadi <em>mustahab</em> (disunnahkan) bagi umat Islam.</p>
<p>Menyendiri di sini bukan modelnya kaum Sufi dan cara-caranya yang menyimpang, melainkan bangkit untuk shalat malam tatkala manusia tidur.</p>
<p><em>Qiyamullail</em> dan membaca Al-Qur’an adalah bentuk menyendirinya seorang muslim yang dilakukan pada setiap malam. Dan itulah akhlak dan kebiasaan orang shalih sebagaimana disebutkan dalam hadits,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ</p>
<p>“<em>Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat malam adalah kebiasaan orang shalih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa</em>.” (HR. Al-Hakim, 1:308; Al-Baihaqi, 2:502; Ibnu ‘Adi dalam <em>Al-Kamil</em>, 1:220. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em> sebagaimana dalam Lihat <em>Irwa’ Al-Ghalil</em>, no. 452, 2:199-200)</p>
<p> </p>
<h3>Catatan tentang Shalat Tahajud</h3>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="HzspdGQOiq"><p><a href="https://rumaysho.com/17458-catatan-tentang-shalat-tahajud.html">Catatan tentang Shalat Tahajud</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Catatan tentang Shalat Tahajud” — Rumaysho.Com" src="https://rumaysho.com/17458-catatan-tentang-shalat-tahajud.html/embed#?secret=HzspdGQOiq" data-secret="HzspdGQOiq" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<p><strong> </strong></p>
<h3>Permulaan Wahyu</h3>
<p>Dari ‘Aisyah, Ummul Mukminin <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata, “Wahyu yang pertama diturunkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah mimpi yang benar dalam tidur. Beliau tidak melihat dalam mimpi kecuali datang seperti <em>falaq</em> (fajar) Shubuh. Kemudian setelah itu, beliau suka menyendiri dan tempatnya adalah di gua Hira. Beliau menyendiri di dalamnya, beribadah selama beberapa malam. Sebelum meninggalkan keluarganya, beliau membawa bekal, kemudian kembali ke Khadijah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, kemudian membawa bekal lagi untuk berikutnya. Itu terus berulang hingga datanglah kebenaran dalam kondisi beliau berada di gua Hira.” Masih berlanjut kisah ini hinga turunnya wahyu pertama.</p>
<p><em>Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan diberi taufik untuk beramal shalih.</em></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi</strong>:</p>
<ol>
<li>
<em>At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Juz-u Tabarak fi Sual wa Jawab.</em> Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah;</li>
<li>
<em>Fikih Sirah Nabawiyah</em>. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah;</li>
<li>
<em>Irwa’ Al</em>–<em>Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar As-Sabil. </em>Cetakan kedua, Tahun 1405 H. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Al-Maktab Al-Islami<strong>;</strong>
</li>
<li>
<em>Jaami’ li Ahkam Al-Qur’an (Tafsir Al-Qurthubi)</em>. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi. Penerbit Darul Fikr.</li>
</ol>
<p>—</p>
<p>Artikel Kajian Masjid Al-Azhar Karangrejek Wonosari, 13 April 2018</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener">Rumaysho.Com</a></p>
 