
<h4 style="text-align: center;">Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus</h4>
<p><strong>Soal:</strong></p>
<p>Apakah <em>tahrif</em> itu sama dengan <em>ta’thil</em>, ataukah keduanya berbeda? semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p class="arab">الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمّا بعد</p>
<p><em>Ta’thil</em> berbeda dengan <em>tahrif</em>, <em>ta’thil</em> tidak sama dengan <em>tahrif</em> dari sisi berikut ini …</p>
<p>Yang dimaksud dengan <em>ta’thil</em> adalah: <span style="text-decoration: underline;">menafikan</span> pendalilan nash-nash dari Al Qur’an dan As Sunnah yang sesuai dengan maksud nash tersebut. Seperti menafikan kesempurnaan Allah <em>Ta’ala</em> atau menafikan sifat-Nya. Demikian juga <em>ta’thil</em> dalam masalah penciptaan, seperti klaim bahwa alam terjadi dengan sendirinya, dan juga klaim bahwa sebagian benda yang ada itu bukanlah makhluk. Juga <em>ta’thil</em> dalam masalah ibadah dengan meninggalkan ibadah secara keseluruhan atau mempersembahkan ibadah kepada selain Allah <em>Ta’ala</em>. Maka intinya, <em>ta’thil</em> adalah menafikan makna yang benar (dari nash).</p>
<p>Adapun yang dimaksud dengan <em>tahrif</em> adalah: mengubah makna Al Qur’an dan As Sunnah dengan men-<em>ta’wil</em> (menginterpretasikan) maknanya kepada makna yang lain sehingga ternafikan pendalilannya. <em>Tahrif</em> itu terkadang dalam lafadz ayat syar’iyyah, sebagaimana perbuatan Bani Israil yang mengganti kata حطّة dengan حنطة (gandum) pada ayat:</p>
<p class="arab">وَقُولُوا حِطَّةٌ</p>
<p>“<em>katakanlah: “Bebaskanlah…</em>” (QS. Al Baqarah: 58)</p>
<p>Atau terkadang pada makna ayat, sebagaimana perbuatan men-tahrif makna استوى (ber-<em>istiwa</em>) dalam ayat:</p>
<p class="arab">الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</p>
<p>“<em>Ar Rahman (Allah) ber-istiwa di atas ‘Arsy</em>” (QS. Thaha: 5)</p>
<p>menjadi استولى (menguasai). Atau men-<em>ta’wil</em> makna اليدِ (tangan) pada ayat :</p>
<p class="arab">بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ</p>
<p>“<em>bahkan kedua-dua tangan Allah terbuka</em>” (QS. Al Maidah: 64)</p>
<p>dengan makna: القوة (kekuatan).</p>
<p>Juga, men-ta’wil makna خاتَم (penutup) dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p class="arab">وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ</p>
<p>“dan (Muhammad itu) penutup para Nabi” (QS. Al Ahzab: 40)</p>
<p>dengan makna: cincin.</p>
<p>Semua (ta’wil) ini merupakan penafsiran ayat dengan makna yang tidak benar.</p>
<p>Terkadang <em>tahrif</em> juga dilakukan pada ayat kauniyah. Sebagaimana orang yang menginterpretasikan bahwa Malaikat itu adalah kekuatan ruhiyah positif yang ada dalam diri manusia. Dan setan adalah kekuatan ruhiyah negatif pada diri manusia. Atau menafsirkan الطّيرَ (burung) dalam ayat:</p>
<p class="arab">وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ</p>
<p>“<em>dan Allah mengutus kepada mereka burung Ababil</em>” (QS. Al Fiil: 3)</p>
<p>bahwa ia adalah bakteri penyakit. Atau semacam itu.</p>
<p>Maka, <em>tahrif</em> itu adalah menafsirkan nash dengan menyimpangkannya dari makna yang benar kepada makna yang batil.</p>
<p>Dari sini kita ketahui bahwa antara <em>tahrif</em> dan <em>ta’thil</em> ada hubungan umum-khusus. <em>Ta’thil</em> itu lebih umum secara mutlaq dari pada <em>tahrif</em>. Dan <em>tahrif</em> lebih khusus secara mutlak dari pada <em>ta’thil</em>. Maka setiap <em>muharrif</em> (orang yang melakukan <em>tahrif</em>) itu adalah <em>mu’athil</em> (orang yang melakukan <em>ta’thil</em>). Namun tidak setiap <em>mu’athil</em> adalah <em>muharrif</em>. Dalam setiap <em>tahrif</em> itu ada unsur <em>ta’thil</em> namun tidak sebaliknya.</p>
<p>Dengan demikian, orang yang menafikan makna yang benar dari nash, atau menafsirkan nash syar’i dengan makna yang batil maka dia adalah <em>mu’athil</em> dan <em>muharrif</em>. Dan orang yang menafikan makna yang benar dari nash tanpa memaparkan penafsiran lain dengan makna yang tidak benar, atau ia melakukan <em>tafwidh</em> (tidak mau memaknai namun mengembalikan makna nash kepada Allah), maka ia adalah mu’athil dan tidak disifati sebagai <em>muharrif</em>.</p>
<p class="arab">والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلّى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمً</p>
<p> </p>
<p>Sumber: http://ferkous.com/site/rep/Ba75.php</p>
<p>—</p>
<p>Penerjemah: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 