
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/440472084&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<h2><b>Hukum Berhubungan Badan saat Istri Menyusui</b></h2>
<p><em>Apa hukum ghilah? Melakukan hubungan di saat istri menyusui.</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Para ahli bahasa berbeda pendapat mengenai makna ‘<strong><em>Ghilah</em></strong>’. Ada 2 pendapat terkait makna <em>ghilah</em>,</p>
<p>[1] Melakukan hubungan badan dengan istri yang sedang menyusui.</p>
<p>[2] Wanita hamil yang menyusui anaknya.</p>
<p>Terdapat dalam hadis riwayat Muslim, Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنْ الْغِيلَةِ ، حَتَّى ذَكَرْتُ أَنَّ الرُّومَ وَفَارِسَ يَصْنَعُونَ ذَلِكَ فَلا يَضُرُّ أَوْلادَهُمْ</p>
<p><em>Saya pernah berkeinginan untuk melarang ghilah, hingga saya teringat orang-orang Romawi dan Persi mereka melakukan ghilah, ternyata tidak membahayakan anak mereka.</em> (HR. Muslim 1442)</p>
<p>An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">اختلف العلماء في المراد بالغيلة في هذا الحديث , فقال مالك في الموطأ والأصمعي وغيره من أهل اللغة : أن يجامع امرأته وهي مرضع ، وقال ابن السكيت : هو أن ترضع المرأة وهي حامل</p>
<p>Ulama berbeda pendapat mengenai makna <a href="https://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="noopener"><em>ghilah</em></a> dalam hadis ini. Imam Malik dalam al-Muwatha’ dan al-Ashma’I serta ahli bahasa lainnya mengatakan, <em>ghilah</em> adalah melakukan hubungan badan dengan istri yang sedang menyusui. Sementara Ibnu Sikkit mengatakan, ghilaha adalah wanita menyusui bayinya sementara dia sedang hamil.</p>
<p>An-Nawawi melanjutkan,</p>
<p class="arab">قال العلماء : سبب همِّه صلى الله عليه وسلم بالنهي عنها أنه يخاف منه ضرر الولد الرضيع</p>
<p>Para ulama mengatakan, sebab keinginan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang <em>ghilah</em> adalah kekhawatiran beliau itu bisa membahayakan anak yang sedang menyusu. (Syarh Muslim, 10/17)</p>
<p>Disebutkan dalam riwayat lain, dari Sa’d bin Abi Wqqash <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau menceritakan,</p>
<p>Ada seseorang datang menemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p><em>‘Saya melakukan azl</em>.’ tanya orang itu.</p>
<p><em>‘Mengapa kamu lakukan itu?</em>’ tanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><em>‘Karena saya kasihan dengan anaknya.’</em> jawab orang itu.</p>
<p>Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لَوْ كَانَ ذَلِكَ ضَارًّا ضَرَّ فَارِسَ وَالرُّومَ</p>
<p><em>Jika itu membahayakan untuk anak yang menyusui, tentu akan membahayakan orang-orang Persi dan Romawi.</em> (HR. Muslim 1443)</p>
<p>Sementara hadis yang melarang ghilah adalah hadis dari Asma bin Yazid, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">نهي النبي صلى الله عليه وسلم عن الغيلة</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang <em>ghilah.</em>” (HR. Abu Daud 3881 &amp; Ibnu Majah 2012)</p>
<p>Namun hadis ini dinilai dhaif oleh al-Albani.</p>
<p>Ibnul Qoyim mengatakan,</p>
<p class="arab">وهذه الأحاديث أصح من حديث أسماء بنت يزيد ، وإن صح حديثها فإنه يحمل على الإرشاد والأفضلية ، لا التحريم</p>
<p>Hadis-hadis yang membolehkan <em>ghilah</em> lebih shahih dibandingkan hadis Asma bintu Yazid. Andaipun hadis Asma itu shahih, itu dipahami untuk larangan yang sifatnya bimbingan dan pilihan, dan bukan haram. (Tahdzib Sunan Abi Daud, 2/251).</p>
<p>Kesimpulannya, <em>ghilah</em> tidak haram dan tidak makruh, karena tidak ada dalil shahih yang menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarangnya. Sehingga ini kembali kepada hal mubah, boleh dilakukan, boleh ditinggalkan..</p>
<p>Demikian, <em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="noopener">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 