
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Fatwa Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz <em>Rahimahullah</em></strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></h3>
<p>Sebagian manusia -Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberikan hidayah kepada mereka- tidak memandang gibah sebagai perkara yang munkar ataupun haram. Sebagian yang lain berkata, “Jika perkara yang digibahi itu benar adanya, maka menggibahnya bukanlah sesuatu yang haram”. Mereka ini jahil terhadap hadis-hadis Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Saya berharap dari syaikh penjelasan atas hal tersebut. Semoga Allah <em>Ta’ala </em>membalas dengan kebaikan.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Jawaban:</strong></span></h3>
<p>Gibah adalah haram sesuai dengan ijma’ kaum muslimin. Bahkan ia termasuk dosa besar. Sama saja jika aib yang dibicarakan itu benar adanya pada diri seseorang ataupun tidak demikian. Sebagaimana hadis sahih dari Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, bahwasanya beliau bersabda ketika ditanya tentang gibah. Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">“ذكرك أخاك بما يكره”، قيل يا رسول الله: إن كان في أخي ما أقول؟ قال: “إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه فقد بهته”</span></p>
<p>“‘Engkau menyebutkan suatu perkara tentang saudaramu yang dia benci untuk disebutkan.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika perkara tersebut benar adanya?’ Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, ‘Jika benar adanya apa yang Engkau katakan itu, maka Engkau telah menggibahinya. Jika tidak benar adanya, maka Engkau telah melakukan <em>buhtan</em> (memfitnah)'” (HR. Muslim no. 2589).</p>
<p>Juga hadis sahih dari beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, bahwasanya beliau melihat pada malam <em>Isra’,</em> suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga. Mereka mencakar wajah-wajah dan dada-dada mereka dengannya. Maka Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bertanya tentang mereka. Lalu diberitahukan kepada beliau,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم</span></p>
<p>“Mereka ini orang-orang yang suka memakan daging orang lain (gibah) dan menginjak harga diri orang lain” (HR. Abu Daud no. 4878, disahihkan Al-Albani dalam <em>Shahih Sunan Abu Daud).</em></p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ</span></p>
<p><em>“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kalian ber-tajassus (mencari kesalahan orang lain) dan janganlah di antara kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah di antara kalian suka untuk memakan daging saudaranya yang telah mati? tentu kalian pasti membencinya. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang”</em> (QS. Al-Hujurat: 12).</p>
<p>Setiap Muslim dan Muslimah wajib untuk berhati-hati dari gibah dan saling menasehati untuk meninggalkannya dalam rangka menaati Allah <em>Ta’ala </em>dan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Seorang muslim juga wajib bersemangat untuk menutupi aib saudara-saudaranya dan tidak menampakkan aurat-aurat mereka. Karena gibah termasuk sebab munculnya kebencian, permusuhan, dan perpecahan di tengah masyarakat. Semoga Allah <em>Ta’ala </em>memberikan taufik kepada kaum muslimin untuk menjalankan segala kebaikan.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44672-tiga-rangkaian-dosa-buruk-sangka-tajassus-dan-ghibah.html" data-darkreader-inline-color="">3 Rangkaian Dosa: Buruk Sangka, Tajassus dan Ghibah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/41771-membicarakan-keburukan-penguasa-apakah-termasuk-ghibah.html" data-darkreader-inline-color="">Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>***</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majmu’ Fatawa wa Rasa-il Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz</em>, jilid 5.</p>
<p><strong>Link fatwa:</strong> <a href="http://iswy.co/e3k7t">http://iswy.co/e3k7t</a></p>
<p>Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, beliau dahulu adalah Mufti ‘Aam Kerajaan Arab Saudi, <em>rahimahullah</em>.</p>
<p> </p>
<p><strong>Penerjemah:</strong> <a href="https://muslim.or.id/author/muhammad-fadhli"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Muhammad Fadli, ST.</strong></span></a></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></a></strong></p>
 