
<p><strong>HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU SEPUTAR ILMU SYAR’I</strong></p>
<p>Oleh<br>
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</p>
<p>Banyak sekali  hadits-hadits lemah dan palsu yang tersebar di kalangan kaum Muslimin. Ironisnya banyak dari kalangan para ustadz maupun kyainya menyampaikan hadits-hadits yang lemah dan palsu tersebut kepada kaum Muslimin tanpa menjelaskan kelemahan dan kepalsuannya. Padahal telah ada ancaman dari Rasulullah <em>shallallaahu ‘alahi wa sallam</em> bagi siapa saja yang membawakan hadits-hadits lemah dan palsu. Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.</strong></p>
<p>“<em>Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan </em><em>sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di Neraka</em>”<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Di antara hadits lemah dan palsu seputar ilmu yang tersebar di masyarakat adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>عُلَمَاءُ أُمَّتِيْ كَأَنْبِيَاءِ بَنِى إِسْرَئِيْلَ.</strong></p>
<p><strong>“<em>Ulama-ulama ummatku seperti Nabi-Nabi dari Bani Isra-il</em>.”</strong></p>
<p>1. HADITS INI TIDAK ADA ASALNYA</p>
<p>Hadits ini sama sekali tidak ada asalnya dari Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan ijma para ulama sebagaimana diterangkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya <em>Silsilah al-Ahaadiits  adh-Dha’iifah </em>(no. 466).</p>
<p><strong>اِخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ.</strong></p>
<p><strong>“<em>Perselisihan ummatku adalah rahmat</em>.”</strong></p>
<p>2. HADITS INI TIDAK ADA ASALNYA</p>
<p>Imam as-Subki berkata, “Tidak ma’ruf (tidak dikenal) di sisi ahli hadits. Dan aku tidak mendapatkan sanadnya, baik yang shahih, dha’if, maupun maudhu (palsu).” Dinukil oleh Imam al-Munawi dalam <em>Faidhul </em><em>Qadiir Syarah Jaami’ish Shaghir </em>(I/212) dan Syaikh al-Albani dalam <em>Silsilah al-Ahaadiits  adh-Dha’iifah </em>(no. 57) menjelaskan tentang pengaruh jelek dari hadits ini dengan menukil perkataan Ibnu Hazm dalam <em>al-Ihkam fii Ushuulil Ahkaam</em>.</p>
<p>Di antara pengaruh jelek dari hadits ini adalah setiap ada permasalahan ‘aqidah atau perbuatan bid’ah atau ada khilaf di antara ulama, maka mereka tidak mengembalikan permasalahan tersebut kepada Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, bahkan mereka tetap berpegang teguh kepada bid’ah dan pendapat yang salah yang jelas-jelas bertentangan dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih. <em>Allaahul Musta’aan</em>.</p>
<p><strong>اُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ.</strong></p>
<p><strong>“<em>Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina</em>.”</strong></p>
<p>3. HADITS INI MAUDHU’ (PALSU)</p>
<p>Di dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama Abu Atikah. Imam Ibnul Jauzi berkata dalam kitabnya al-<em>Maudhu’aat </em>(I/216), “Hadits  ini tidak sah dari Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>…adapun Abu Atikah, Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H) berkata tentangnya, ‘Munkarul hadits.’ Dan telah berkata Ibnu Hibban, ‘Hadits ini bathil tidak ada asalnya.’” Syaikh al-Albani mengatakan hadits ini bathil di dalam kitabnya <em>Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah </em>(no. 416).</p>
<p><strong>أَنَا دَارُ الْحِكْمَةِ وَ عَلِيٌّ بَابُهَا.</strong></p>
<p><strong>“<em>Aku adalah kota ilmu sedangkan ‘Ali pintunya</em>.”</strong></p>
<p>4. HADITS INI MAUDHU’ (PALSU)</p>
<p>Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3723), dari hadits ‘Ali. Dia berkata, “Hadits ini munkar.”</p>
<p>Dalam riwayat lain dikatakan,</p>
<p><strong>أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِ الْبَابَ.</strong></p>
<p>“<em>Aku adalah kota ilmu sedangkan ‘</em><em>Ali pintunya. Maka barangsiapa menginginkan ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya</em>.”</p>
<p>Seluruh riwayat di atas adalah palsu sebagaimana telah dijelaskan oleh para imam ahli hadits seperti Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya <em>al-Maudhu’aat</em> (III/349-355).</p>
<p><strong>مَنْ أَرَادَ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللهُ عِلْمًا بِغَيْرِ تَعَلُّمٍ وَهُدًى بِغَيْرِ هِدَايَةٍ فَلْيَزْهَدْ فِى الدُّنْيَا.</strong></p>
<p><strong>“<em>Barangsiapa yang ingin diberikan ilmu oleh </em><em>Allah tanpa belajar dan ingin mendapat petunjuk tanpa hidayah, maka hendaklah ia zuhud terhadap dunia</em>.”</strong></p>
<p>5. HADITS INI TIDAK ADA ASALNYA</p>
<p>Demikianlah ditegaskan oleh Imam ‘Ali al-Qari (wafat th. 1014 H) dalam kitabnya <em>al</em><em>-Mashnu’ fii Ma’rifatil Hadiits al-Maudhuu’</em> (no. 318).</p>
<p><strong>اُطْلُبُوا الْعِلْمَ كُلَّ اثْنَيْنٍِ وَخَمِيْسٍ فَإِنَّهُ مُيَسَّرٌ لِمَنْ طَلَبَ، وَإِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ حَاجَةً فَلْيُبَكِّرْ إِلَيْهَا فَإِنِّيْ سَأَلْتُ رَبِّيْ أَنْ يُبَارِكَ ِلأُمَّتِيْ فِيْ بُكُوْرِهَا.</strong></p>
<p><strong>“<em>Tuntutlah ilmu setiap hari Senin dan hari Kamis </em><em>karena akan dimudahkan bagi orang yang menuntutnya. Dan apabila seseorang dari kalian menghendaki suatu keperluan, maka berpagi-pagilah mencarinya karena sesungguhnya aku memohon kepada Rabb-ku agar memberikan keberkahan kepada ummatku di pagi harinya</em>.”</strong></p>
<p>6. HADITS INI MAUDHU’ (PALSU)</p>
<p>Syaikh al-Albani mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam <em>al-Kamil</em> (I/364, IV/1-2), dari jalan Muhammad bin Ayyub bin Suwaid. Ia (Muhammad bin Ayyub bin Suwaid)  dilemahkan oleh ad-Daraquthni. Ibnu Hibban berkata, ‘Tidak halal meriwayatkan darinya.’ Abu Zur’ah berkata, ‘Aku telah melihat ia memasukkan hadits-hadits yang palsu ke dalam kitab bapaknya.’ Disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam <em>al-Miizaan</em> (III/487, no. 7260).” Syaikh al-Albani berkata, “Sanad hadits ini sangat lemah. Ayyub bin Suwaid ar-Ramli perawi yang jujur, namun sering salah sebagaimana disebutkan dalam <em>at-Taqriib.</em>” (<em>Silsilah </em><em>al-Ahaadiits adh-Dha’iifah</em> no. 2491).</p>
<p><strong>إِذَا جَاءَ الْمَوْتُ فِي طَالِبِ الْعِلْمِ وَهُوَ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ مَاتَ وَهُوَ شَهِيْدٌ.</strong></p>
<p><strong>“<em>Apabila kematian datang menjemput penuntut </em><em>ilmu dan ia dalam keadaanya itu (menuntut ilmu), maka ia mati sebagai syuhada</em>.”</strong></p>
<p>7. HADITS INI (DHA’IF JIDDAN) SANGAT LEMAH</p>
<p>Syaikh al-Albani mengatakan, “Diriwayatkan oleh Imam al-Bazzar (no. 138) dan al-Khatib (wafat th. 429 H) dalam <em>Taariikh</em>nya (IX/247) dari jalan Hilal bin ‘Abdirrahman al-Hanafi, dari ‘Atha’ bin Abi Maimunah… Imam al-Haitsami berkata, ‘Hilal seorang perawi yang <em>matruk</em> (ditinggalkan haditsnya).’ Dengan sanad ini dari keduanya -dan hanya sampai pada kedua- (diriwayatkan hadits palsu yang berbunyi),</p>
<p><strong>كِتَابٌ مِنَ الْعِلْمِ يَتَعَلَّمُهُ الرَّجُلُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَلْفِ رَكْعَةٍ</strong>.</p>
<p>‘<em>Satu kitab ilmu yang dipelajari seseorang lebih </em><em>aku cintai dari pada (shalat) seribu rakaat</em>.’</p>
<p>Al-Khatib menambahkan,</p>
<p><strong>وَبَابٌ مِنَ الْعِلْمِ نَعْمَلُ بِهِ أَوْ لاَ نَعْمَلُ بِهِ أَحَبُّ إِلَيْنَا مِنْ مِائَةِ </strong><strong>رَكْعَةٍ تَطَوُّعًا</strong>.</p>
<p>‘<em>Dan satu bab dari ilmu yang kami amalkan dan </em><em>yang tidak kami amalkan lebih kami cintai daripada shalat sunnah sebanyak seratus raka’at</em>.’”</p>
<p>Syaikh al-Albani melanjutkan, “Hadits ini bathil, yang sangat jelas kebathilannya.” (<em>Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah</em> V/146-147, no. 2126).</p>
<p><strong>مَنْ خَرَجَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ.</strong></p>
<p><strong>“<em>Barangsiapa yang keluar menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali</em>.”</strong></p>
<p>8. HADITS INI DHA’IF (LEMAH)</p>
<p>Syaikh al-Albani mengatakan, “Hadits ini sangat lemah.” Demikianlah yang beliau katakan dalam kitabnya <em>Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah</em> (no. 2037).</p>
<p><strong>Keterangan:</strong> Hadits di atas adalah lemah sehingga kita tidak boleh memakainya, akan tetapi ada hadits lain yang menyebutkan bahwa orang yang belajar dan mengajarkan ilmu syar’i termasuk <em>fii sabilillaah.</em> Ada juga hadits dan atsar dari Abu Darda’ <em>radhiyallaahu ‘anhu</em> yang menjelaskan bahwa orang yang mengatakan me-nuntut ilmu itu bukan termasuk jihad, maka akal orang itu tidak waras.</p>
<p>(Lihat dalam kitab <em>al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, karya Imam Ibnul Qayyim, hal. 145-146).</p>
<p><strong>طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ عِنْدَ اللهِ مِنَ الصَّلاَةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ  وَالْجِهَادِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.</strong></p>
<p><strong>“<em>Menuntut ilmu lebih utama di sisi Allah dari</em><em>pada shalat, puasa, haji, dan jihad di jalan Allah Azza wa Jalla</em>.”</strong></p>
<p>9. HADITS MAUDHU’ (PALSU)</p>
<p>Syaikh al-Albani mengatakan, “Maudhu’ (palsu). Dikeluarkan oleh Imam ad-Dailami (II/268), dari jalan Muhammad bin Tamim as-Sa’di. Cacatnya ada pada as-Sa’di. Imam Ibnu Hibban dan yang lainnya mengatakan, ‘Dia suka memalsukan hadits.’ Al-Hakim berkata, ‘Pendusta, orang yang jelek.’ As-Suyuthi berkata dalam <em>Dzail Maudhu’aat</em>, ‘Muhammad bin Tamim tukang memalsukan hadits.’” Dinukil dari kitab <em>Silsilah al-</em><em>Ahaadiits adh-Dha’iifah</em> (no. 3827).</p>
<p><strong>طَلَبُ الْعِلْمِ سَاعَةً خَيْرٌ عِنْدَ اللهِ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ، وَطَلَبُ الْعِلْمِ يَوْمًا خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَشْهُرٍ.</strong></p>
<p><strong>“<em>Menuntut ilmu selama satu jam lebih baik dari</em><em>pada shalat malam dan menuntut ilmu selama satu hari lebih baik daripada puasa selama tiga bulan</em>.”</strong></p>
<p>10. HADITS INI MAUDHU’ (PALSU)</p>
<p>Syaikh al-Albani berkata, “Dikeluarkan oleh Imam ad-Dailami (II/268), dari Nasyhal bin Sa’id at-Tirmidzi.” Syaikh al-Albani berkata: “Hadits ini palsu. Penyakitnya ada pada Nasyhal. Imam as-Suyuthi berkata dalam <em>Dzail Maudhu’aat</em>, ‘Nasyhal seorang pendusta.’” Dinukil dari <em>Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah</em> (no. 3828).</p>
<p><strong>تَعَلَّمُوا مِنَ الْعِلْمِ مَا شِئْتُمْ ، فَوَاللهِ لاَ تُؤْجَرُوا بِجَمْعِ الْعِلْمِ </strong><strong>حَتَّى تَعْمَلُوْا بِهِ.</strong></p>
<p><strong>“<em>Pelajarilah ilmu sekehendak kalian. Demi Allah, </em><em>kalian tidak akan diberikan ganjaran karena mengumpulkan ilmu hingga kalian mengamalkannya</em>.”</strong></p>
<p>11. HADITS INI <em>DHA’IF JIDDAN</em> (SANGAT LEMAH)</p>
<p>Di dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama Muhammad bin al-Fadhl. Syaikh al-Albani mengatakan, “Sanad hadits ini sangat lemah. Muhammad bin al-Fadhl bin ‘Athiyyah dikatakan oleh al-Hafizh, ‘Mereka (ulama ahli hadits) mendustakannya.’” Dinukil dari <em>Silsilah al-Ahaadiits  adh-Dha’iifah</em> (no. 3407).</p>
<p><strong>أَدَّبَنِي رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ.</strong></p>
<p><strong>“<em>Rabb-ku telah mendidikku dengan pendidikan </em><em>yang terbaik kepadaku</em>.”</strong></p>
<p>12. HADITS INI DHA’IF (LEMAH)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullaah</em> berkata, “Maknanya shahih, akan tetapi tidak diketahui adanya sanad yang sah tentang hadits ini.”<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Perkataan ini didukung oleh as-Sakhawi dalam <em>al-Maqaashidul Hasanah</em> (no. 45) dan al-Ajluni dalam <em>Kasyful Khafa’ wa Muzilul Ilbaas</em> (I/70).</p>
<p>Hadits ini dilemahkan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah</em> (no. 72).</p>
<p><strong>مَثَلُ الَّذِي يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ فِيْ صِغَرِهِ كَالْنَقْشِ عَلَى الْحَجَرِ وَمَثَلُ الَّذِي يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ فِيْ كِبَرِهِ كَالَّذِي يَكْتُبُ عَلَى الْمَاءِ.</strong></p>
<p><strong>“<em>Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu di </em><em>waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. Dan perumpamaan orang yang mempelajari ilmu di masa tuanya bagaikan orang yang mengukir di atas air</em>.” </strong></p>
<p>13. HADITS INI MAUDHU’ (PALSU)</p>
<p>Imam al-Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam <em>Mu’jamul Kabiir</em>. Di dalam sanadnya ada Marwan bin Salim asy-Syaami, dan ia dilemahkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan Abu Hatim.”<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Imam al-Bukhari, Muslim, dan Abu Hatim menga-takan bahwa Marwan bin Salim al-Jazari adalah ‘<em>Mun-</em><em>karul Hadits</em>’. Abu ‘Arubah al-Harrani dalam <em>as-Saaji</em> berkata, “Ia suka memalsukan hadits.”<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Syaikh al-Albani <em>rahimahullaah </em>berkata, “Hadits ini <em>maudhu’</em> (palsu).” Lihat <em>Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah</em> (no. 618).</p>
<p>Demikianlah sebagian hadits-hadits lemah dan palsu seputar menuntut ilmu yang dapat penulis bawakan. Maka setiap Muslim harus mengetahui bahwa hadits-hadits yang lemah dan palsu tidak dapat dijadikan sandaran dalam agama Islam ini, baik dalam masalah ‘aqidah, ibadah, maupun <em>fadha-ilul a’mal</em> (keutaman-keutamaan amal).</p>
<p>[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 110), Muslim (no. 3), dan selain keduanya, dari Shahabat Abu Hurairah <em>radhiyallaahu ‘anhu.</em><br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <em>Ahaadiitsul Qushshash </em>(no. 78).<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> <em>Majma’uz Zawaa-id </em>(I/125).<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> <em>Mizaanul I’tidaal </em>(IV/90).</p>
 