
<p><strong>HADITS PALSU TENTANG LARANGAN MENCERAIKAN ISTRI</strong></p>
<p>Oleh</p>
<p>Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA</p>
<p> </p>
<p><strong>رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ  رضي الله عنه أَنّهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  :</strong> <strong>تَزَوَّجُوْا وَلاَ تُطَلِّقُوْا، فَإِنَّ الطَّلاَقَ يَهْتَزُّ لَهُ الْعَرْشُ</strong></p>
<p><em>Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Th</em><em>â</em><em>lib Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Menikahlah dan janganlah kamu menceraikan (istrimu), karena sesungguhnya perceraian itu menjadikan ‘Arsy Allâh berguncang”.</em></p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi dalam <em>al-K</em><em>â</em><em>mil fi Dhu’af</em><em>â</em><em>-ir Rij</em><em>â</em><em>l</em> (5/112), Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam <em>Akhb</em><em>â</em><em>ru Ashbah</em><em>â</em><em>n</em> (2/289), al-Khathib al-Bagdadi dalam <em>T</em><em>â</em><em>r</em><em>î</em><em>kh Bagd</em><em>â</em><em>d</em> (12/191) dan Ibnul Jauzi dalam <em>al-Maudh</em><em>û</em><em>’at</em> (2/277), dengan sanad mereka semua dari jalur Abu Ibrahim at-Turjumani, dari ‘Amr bin Jumai’, dari Juwaibir, dari adh-Dhahhak bin Muzahim, dari an-Nazzal bin Saburah, dari ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu , dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .</p>
<p>Hadits ini adalah hadits palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Amr bin Jumai’. Dia ini tertuduh memalsukan hadits, bahkan sebagian Ulama Ahli hadits menyatakan dia sebagai pendusta.</p>
<p>Imam Yahya bin Ma’in t berkata, “Dia adalah pendusta yang buruk.“<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Imam Ibnu ‘Adi berkata, “Dia tertuduh memalsukan hadits.”</p>
<p>Imam al-Khathib al-Bagdadi dan al-Hakim berkata, “Dia meriwayatkan hadits-hadits palsu.”<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Hadits ini diisyaratkan sebagai hadits palsu oleh Imam Ibnu ‘Adi, al-Khathib al-Bagdadi, Ibnul Jauzi<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a> dan as-Suyuthi<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a>, serta dinyatakan sebagai hadits palsu oleh Imam asy-Syaukani<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a> dan Syaikh al-Albani.<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<p>Hadits yang semakna juga diriwatkan dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “<em>Menikahlah dan janganlah kamu menceraikan (istrimu), karena sesungguhnya Allâh tidak menyukai laki-laki dan perempuan yang suka mencicipi (mudah bercerai)</em>.”</p>
<p>Akan tetapi hadits ini juga dihukumi sebagai hadits yang lemah oleh Syaikh al-Albani.<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p>Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Namun hadits ini juga dinyatakan lemah oleh Imam ad-Daraquthni.<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a></p>
<p>Kerusakan hadits ini bukan hanya ditinjau dari segi sanad periwayatannya, akan tetapi juga dari segi makna dan kandungannya, karena bertentangan dengan perbuatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Salaf.</p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata, “Bagaimana hadits ini tidak (dihukumi) palsu, sedangkan para Ulama Salaf pernah melakukan <em>thalaq</em>/perceraian (dengan alasan yang dibenarkan dalam Islam), bahkan dalam riwayat yang shahih Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah men<em>thalaq </em>istri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam Hafshah bintu ‘Umar Radhiyallahu anhuma (lalu kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam merujuknya kembali).”<a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></p>
<p>Karena hadits ini tidak benar penisbatannya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka hadits sini sama sekali tidak bisa dijadikan argumentasi dan sandaran untuk melarang atau mengharamkan perceraian, khususnya ketika ada alasan atau hajat (kebutuhan) yang dibenarkan dalam syariat Islam.</p>
<p>Mayoritas Ulama berpendapat bahwa hukum asal perceraian adalah <em>makr</em><em>û</em><em>h</em> (dibenci dalam Islam) jika tidak ada alasan atau hajat yang dibenarkan dalam syariat.<a href="#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a> Adapun jika ada alasan atau hajat maka itu dibolehkan, atau bahkan dalam kondisi tertentu bisa jadi hukumnya dianjurkan atau bahkan wajib.<a href="#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a></p>
<p>Adapun hadits yang dinisbatkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafazh, “Perkara halal yang paling dibenci oleh Allâh Azza wa Jalla adalah thalaq (perceraian)”<a href="#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a>, maka hadits ini adalah hadits lemah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Syaikh al-Albani dan Syaikh Muhamad bin Shalih al-‘Utsaimin.<a href="#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a></p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote</p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Dinukil oleh Imam al-Khathib al-Bagdadi dalam <em>Târîkh Bagdâd</em> (12/191)</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Semua dinukil oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam <em>Lisânul Mîzân</em> (4/358).</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Dalam kitab-kitab mereka yang kami sebutkan di atas.</p>
<p><a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Dalam kitab <em>al-La-âli-ul Mashnû’ah fil Ahâdîtsil Maudhâ’ah</em> (2/151).</p>
<p><a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Dalam kitab <em>al-Fawâ-idul Majmû’ah fil Ahâdîtsil Maudhû’ah</em> (hlmn 139).</p>
<p><a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Dalam kitab <em>Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah</em> (1/278, no. 147 dan 2/161, no. 731).</p>
<p><a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> Dalam kitab <em>Dha’îful Jâmi’ish Shagîr</em> (no. 2430 dan 6244).</p>
<p><a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> Dalam kitab <em>al-‘Ilalul Wâridah fil Ahâdîtsin Nabawiyyah</em> (11/29-30).</p>
<p><a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> Kitab <em>Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah</em> (1/279).</p>
<p><a href="#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> Lihat kitab <em>Faidul Qadîr</em> (3/243) dan <em>asy-Syarhul Mumti’</em> (5/441-442).</p>
<p><a href="#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> Lihat penjelasan Imam an-Nawawi dalam kitab <em>Syarhu Shahîhi Muslim</em> (10/61).</p>
<p><a href="#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> HR Abu Dawud (no. 2178), Ibnu Majah (no. 2018) dan Imam-imam lainnya.</p>
<p><a href="#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> Lihat kitab <em>Fathul Bâri</em> (9/356), <em>Irwâ-ul Ghalîl</em> (7/106) dan <em>asy-Syarhul Mumti’</em> (5/441).</p>
 