
<p>Semua ibadah, baik berbentuk ucapan ataupun perbuatan, lahir maupun batin, terkait dengan badan maupun harta, maka tidak lain merupakan amal <i>tazkiyyatun nufus</i>, pensucian jiwa dan hati dari kekotoran. Setiap ibadah itu adalah gizi bagi hati yang membuahkan kebersihan hati, kebaikan akhlak, dan meningkatkan keimanan. Contohnya adalah empat ibadah yang penting dan berstatus rukun Islam, yaitu shalat, puasa ramadhan, zakat mal, dan haji berikut ini.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Shalat</b></span></h4>
<p>Tentang shalat, Allah <i>Ta’ala </i>mengaitkan ibadah shalat dengan buahnya<i>, </i>berupa kebersihan jiwa dari kekejian dan kemungkaran<i>,</i>Dia berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ</p>
<p><i>“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari kekejian dan kemungkaran” </i>(Al-‘Ankabuut: 45).</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Zakat</b></span></h4>
<p>Tentang zakat, Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab">خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا</p>
<p><i>“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”</i> (At-Taubah: 103).</p>
<p>Di dalam Ayat tersebut terdapat penjelasan zakat jika ditunaikan dengan baik adalah untuk mensucikan jiwa dari kotoran-kotoran dosa.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Haji</b></span></h4>
<p>Rukun Islam kelima, haji, Allah <i>Ta’ala </i>berfirman:</p>
<p class="arab">الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ</p>
<p><i>“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats</i><i>, berbuat fasik (kemaksiatan) dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji”</i> (Al-Baqarah: 197).</p>
<p>Di dalam Ayat tersebut, terdapat penjelasan, bahwa haji yang baik tidaklah pernah selaras dengan <i>rafats,  fasik</i> (kemaksiatan) dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Seseorang yang menunaikan haji dengan benar akan suci jiwanya dari perkara-perkara tersebut.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Puasa</b></span></h4>
<p>Demikian pula untuk ibadah puasa, <i>insyaallah</i> akan kami sebutkan setelah ini.</p>
<h5><b>Renungan</b></h5>
<p>Ketauhilah, bahwa setiap ibadah yang kita lakukan, namun tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan kebersihan jiwa, berarti ibadah tersebut telah terkontaminasi. Bisa jadi termasuki kotoran riya, tujuan duniawi, atau kotoran ilmu yang salah dalam memandang sebuah ibadah dan yang semisalnya.</p>
<p>Ibnul Qoyyim <i>rahimahullah</i> berkata,</p>
<p class="arab">كُلُّ عِلْمٍ وَعَمَلٍ لاَ يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلٌ، وَكُلُّ إِيمَانٍ لاَ يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدْخُوْلٌ</p>
<p>“Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki kotoran (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki kotoran” (<em>Al-Fawaid</em>).</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Lihatlah hakikat, jangan tertipu dengan lahiriyah suatu amal!</b></span></h4>
<p>Dari penjelasan di atas, mari kita intropeksi diri, bagimanakah ibadah-ibadah yang selama ini kita lakukan? Apakah terpenuhi kriteria ibadah yang diterima oleh Allah? Ataukah justru ibadah-ibadah yang kita lakukan selama ini, banyak yang sekedar aktifitas lahiriyyah tanpa ada ruhnya? Jika memang demikian, tidakkah kita malu mempersembahkan kepada Rabb kita sesuatu tanpa ruh, ibarat bangkai tak bernyawa?</p>
<p>Apakah selama ini kita benar-benar telah perhatian terhadap hakikat peribadatan ataukah dalam mengerjakan ibadah masih lebih banyak perhatian kepada lahiriyyah suatu ibadah; asal sah ibadah tersebut atau asal gugur kewajiban ibadah tersebut?</p>
<p>Perhatikan beberapa nukilan berikut ini yang menggambarkan bahwa para ulama dari dulu sangat perhatian terhadap hakikat suatu amal!</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam  kitabnya <i>Al-Ubudiyyah </i>menyatakan,</p>
<p class="arab">فالعاقل ينظر إلى الحقائق لا إلى الظواهر</p>
<p>“(Ciri khas) orang yang berakal adalah melihat hakikat (sesuatu),tidak terjebak dengan lahirnya”</p>
<p>Demikian pula Ibnu Rajab <i>rahimahullah</i> berkata,</p>
<p class="arab">رب قائم حظه من قيامه السهر، كم من قائم محروم و من نائم مرحوم، هذا نام و قلبه ذاكر و هذا قام و قلبه فاجر</p>
<p>“Bisa jadi orang yang shalat malam, namun hanya mendapatkan begadang saja (tidak dapat pahala). (Ingatlah) berapa banyak orang yang shalat malam namun tidak dirahmati (oleh Allah), sedangkan yang tidur justru dirahmati. Rahasianya adalah orang yang kedua memang lahirnya (yang nampak) tidur, namun hatinya ingat Allah (bertakwa), adapun orang yang pertama memang zhahirnya shalat malam, namun sayangnya hatinya menyimpan maksiat”</p>
<p>Beliau juga berkata,</p>
<p class="arab">كم من مستغفر ممقوت و ساكت مرحوم ، هذا استغفر و قلبه فاجر و هذا سكت و قلبه ذاكر</p>
<p>“(Ingatlah)berapa banyak orang yang lisannya istighfar,namun dibenci (oleh Allah),sedangkan orang yang lisannya diam,malah justru dirahmati. Rahasianya adalah orang yang pertama ini lisannya memang istighfar, namun hatinya menyimpan maksiat, adapun orang yang kedua, lisannya diam,namun hatinya ingat Allah (bertakwa)” (<em>Lathoiful Ma’arif</em>, Ibnu Rajab <i>rahimahullah</i>).</p>
<p>Pada artikel selanjutnya, <i>insyaallah</i> akan penulis sebutkan beberapa dalil yang menjelaskan tentang hakikat puasa yang dikehendaki oleh Allah <i>Ta’ala, </i>yaitu puasa yang membuahkan ketakwaan dan kebersihan jiwa. Silahkan baca: <b>Hakekat Puasa (6)</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 