
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/408-hakikat-tasawuf-2.html">Hakikat Tasawuf (Bag. 2)</a></span></strong></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Sekte-Sekte Dalam Ajaran Tasawuf*</strong></span></h2>
<p><strong>*</strong> <em>Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh DR. Muhammad bin Rabi’ Al Madkhali dalam kitabnya Haqiqat Ash Shufiyyah (hal.18-21), dengan sedikit perubahan.</em></p>
<p>Kita dapat membagi ajaran tasawuf yang ekstrem ke dalam tiga sekte:</p>
<p><strong>Pertama, sekte Al Isyraqi</strong>, sekte ini didominasi oleh ajaran filsafat bersama sifat zuhud. Yang dimaksud dengan Al Isyraqi (penyinaran) adalah penyinaran jiwa yang memancarkan cahaya dalam hati, sebagai hasil dari pembinaan jiwa dan penggemblengan ruh disertai dengan penyiksaan badan untuk membersihkan dan menyucikan ruh, yang ajaran ini sebenarnya ada pada semua sekte-sekte tasawuf, akan tetapi ajaran sekte ini cuma sebatas pada penyimpangan ini dan tidak sampai membawa mereka kepada ajaran Al Hulul (menitisnya Allah <em>‘azza wa jalla</em> ke dalam diri makhluk-Nya) dan <em>Wihdatul Wujud</em> (bersatunya wujud Allah <em>‘azza wa jalla</em> dengan wujud makhluk /<em>Manunggaling Gusti ing kawulo</em> – Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan), meskipun demikian ajaran sekte ini bertentangan dengan ajaran islam, karena ajaran ini diambil dari ajaran agama-agama lain yang menyimpang, seperti agama Budha dan Hindu.</p>
<p><strong>Kedua, sekte Al Hulul</strong>, yang berkeyakinan bahwa Allah <em>‘azza wa jalla</em> bisa bertempat/menitis dalam diri manusia -Maha Suci Allah <em>‘azza wa jalla</em> dari sifat ini-. Keyakinan ini diserukan oleh beberapa tokoh-tokoh ekstrem ahli Tasawuf, seperti Hasan bin Manshur Al Hallaj, yang karenanya para Ulama memfatwakan kafirnya orang ini dan dia harus dihukum mati, yang kemudian dia dibunuh dan disalib -Alhamdulillah- pada tahun 309 H. Di dalam Sya’ir yang dinisbatkan kepadanya dia berkata (kitab <em>At Thawasiin</em>, tulisan Al Hallaj hal.130):</p>
<p><em>Maha suci (Allah) yang Nasut (unsur/sifat kemanusiaan)-Nya telah menampakkan</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>rahasia cahaya Lahut (unsur/sifat ketuhanan)-Nya yang menembus</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lalu Tampaklah Dia dengan jelas pada (diri) makhluk-Nya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>dalam bentuk seorang yang sedang makan dan sedang minum</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Hingga (sangat jelas) Dia terlihat oleh makhluk-Nya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>seperti (jelasnya) pandangan alis mata dengan alis mata</em></p>
<p>Dalam sya’ir lain (kitab <em>Al Washaaya</em>, tulisan Ibnu ‘Arabi (hal.27), -Maha Suci Allah dari sifat-sifat kotor yang mereka sebutkan-) dia berkata:</p>
<p><em>Aku adalah yang mencintai dan yang mencintai adalah aku</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>kami adalah dua ruh yang bertempat di dalam satu jasad</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Maka jika kamu melihatku (berarti) kamu melihat Dia</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan jika kamu melihat Dia (berarti) kamu melihat kami</em></p>
<p>Memang Al Hallaj -seorang tokoh besar dan populer di kalangan orang-orang ahli Tasawuf ini- adalah penganut sekte Al Hulul, dia meyakini <em>Dualisme hakikat ketuhanan</em> dan beranggapan bahwa Al Ilah (Allah <em>‘azza wa jalla</em>) memiliki dua tabiat yaitu: <em>Al Lahut</em> (unsur/sifat ketuhanan) dan <em>An Nasut</em> (unsur/sifat kemanusiaan/kemakhlukan), yang kemudian Al Lahut menitis ke dalam An Nasut, maka ruh manusia -menurut Al Hallaj- adalah Al Lahut ketuhanan yang sebenarnya dan badan manusia itu adalah An Nasut.</p>
<p>Kemudian meskipun <em>bandit besar</em> ini telah dihukum mati karena ke<em>-zindiq</em>an-nya sehingga sebagian orang-orang ahli Tasawuf menyatakan berlepas diri darinya-, tetap saja ada orang-orang ahli Tasawuf yang menganggapnya sebagai tokoh besar ahli tasawuf, bahkan mereka membenarkan keyakinan sesat dan perbuatannya, dan mengumpulkan serta membukukan ucapan-ucapan kotornya, mereka itu di antaranya adalah Abul ‘Abbas bin ‘Atha’ Al Baghdadi, Muhammad bin Khafif Asy Syirazi dan Ibrahim An Nashrabadzi, sebagaimana hal tersebut dinukil oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam kitab beliau <em>Tarikh Al Baghdad</em> (8/112).</p>
<p><strong>Ketiga, sekte Wihdatul Wujud</strong>, yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain merupakan perwujudan/penampakan Zat Ilahi (Allah <em>‘azza wa jalla</em>) -maha suci Allah <em>‘azza wa jalla</em> dari segala keyakinan kotor mereka-. <em>Dedengkot</em> sekte ini adalah <em>wong elek</em> yang bernama Ibnu ‘Arabi Al Hatimi Ath Thai (Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath Thai Al Hatimi Al Mursi Ibnu ‘Arabi, lihat <em>Siar Al A’lam An Nubala’</em> tulisan Imam Adz Dzahabi 16/354) yang <em>binasa</em> pada tahun 638 H dan dikuburkan di Damaskus.</p>
<p>Dalam kitabnya <em>Al Futuhat Al Makkiyah</em> (seperti yang dinukilkan oleh DR. Taqiyuddin Al Hilali dalam kitabnya <em>Al Hadiyyatul Haadiyah</em> hal.43) dia menyatakan keyakinan kufur ini dengan ucapannya:</p>
<p><em>Hamba adalah tuhan dan tuhan adalah hamba</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>duhai gerangan, siapakah yang diberi tugas (melaksanakan syariat)?</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Jika kau katakan: hamba, maka dia adalah tuhan</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Atau kau katakan: tuhan, maka mana mungkin tuhan diberi tugas?!</em></p>
<p>Dan dalam kitabnya yang lain <em>Fushushul Hikam</em> (hal.192) dia <em>ngelindur:</em> “Sesungguhnya orang-orang yang menyembah anak sapi, tidak lain yang mereka sembah kecuali Allah”.</p>
<p>Meskipun demikian, orang-orang ahli Tasawuf malah memberikan gelar-gelar kehormatan yang tinggi kepada Ibnu ‘Arabi, seperti gelar <em>Al ‘Arif Billah</em> (orang yang mengenal Allah <em>‘azza wa jalla</em> dengan sebenarnya), <em>Al Quthb Al Akbar</em> (pemimpin para wali yang paling agung), <em>Al Misk Al Adzfar</em> (minyak kesturi yang paling harum), dan <em>Al Kibrit Al Ahmar</em> (Permata yang merah berkilau), padahal orang ini terang-terangan memproklamirkan keyakinan <em>Wihdatul Wujud</em> dan keyakinan-keyakinan kufur dan rusak lainnya, seperti pujian dia terhadap Firaun dan keyakinannya bahwa Firaun mati di atas keimanan, celaan dia terhadap Nabi Harun <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang mengingkari kaumnya yang menyembah anak sapi -yang semua ini jelas-jelas bertentangan dengan nash Al Quran-, dan keyakinan dia bahwa kafirnya orang-orang Nasrani adalah karena mereka hanya mengkhususkan Nabi ‘Isa <em>‘alaihis salam</em> sebagai Tuhan, yang kalau seandainya mereka tidak mengkhususkannya maka mereka tidak dikafirkan.</p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Beberapa Contoh Penyimpangan dan Kesesatan Ajaran Tasawuf</strong></span></h2>
<p>Berikut kami akan nukilkan beberapa ucapan dan keyakinan sesat dan kufur dari tokoh-tokoh yang sangat diagungkan oleh orang-orang ahli Tasawuf, yang menunjukkan besarnya penyimpangan ajaran ini dan sangat jauhnya ajaran ini dari petunjuk Al Quran dan As Sunnah.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Ibnu Al Faridh yang <em>binasa</em> pada tahun 632 H, tokoh besar sufi yang menganut paham <em>wihdatul wujud</em> dan meyakini bahwa seorang hamba bisa menjadi Tuhan, bahkan -yang lebih kotor lagi- dia menggambarkan sifat-sifat Tuhannya seperti sifat-sifat wanita, sampai-sampai dia menganggap bahwa Tuhannya telah menampakkan diri di hadapan Nabi Adam <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam bentuk Hawwa (istri Nabi Adam <em>‘alaihis salam</em>)?! Untuk lebih jelas silakan merujuk pada kitab <em>Hadzihi Hiya Ash Shufiyyah</em> (hal. 24-33), tulisan Syaikh Abdurrahman al Wakil yang menukil ucapan-ucapan kufur Ibnu Al Faridh ini.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Ibnu ‘Arabi dalam kitabnya <em>Fushushul Hikam</em> yang berisi segudang kesesatan dan kekufuran. Dalam kitabnya ini dia mengatakan bahwa Rasullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lah yang memberikan padanya kitab ini, dan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata kepadanya: “Bawalah dan sebarkanlah kitab ini pada manusia agar mereka mengambil manfaat darinya”, kemudian Ibnu ‘Arabi berkata: “Maka aku pun (segera) mewujudkan keinginan (Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) itu seperti yang beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentukan padaku tidak lebih dan tidak kurang, kemudian Ibnu ‘Arabi berkata:</p>
<p><em>(Kitab ini) dari Allah, maka dengarkanlah!</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>dan kepada Allah kembalilah!</em></p>
<p>(<em>Fushushul Hikam, </em>dengan perantaraan kitab <em>Hadzihi Hiya Ash Shufiyyah</em> hal.19)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, At Tilmisani, seorang tokoh besar Tasawuf, ketika dikatakan padanya bahwa kitab rujukan mereka <em>Fushushul Hikam</em> bertentangan dengan Al Quran, dia malah menjawab, “Seluruh isi Al Quran adalah kesyirikan, dan sesungguhnya Tauhid hanya ada pada ucapan kami”. Maka dikatakan lagi kepadanya, “Kalau kalian mengatakan bahwa seluruh yang ada (di alam semesta) adalah satu (esa), mengapa seorang istri halal untuk disetubuhi, sedangkan saudara wanita haram (disetubuhi)?” Maka dia menjawab, “Menurut kami semuanya (istri dan saudara wanita) halal (untuk disetubuhi), akan tetapi orang-orang yang terhalang dari penyaksian keesaan seluruh alam, mengatakan bahwa saudara wanita haram (disetubuhi), maka kami pun ikut-ikut mengatakan haram”. (Dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, lihat <em>Majmu’ul Fatawa</em> 13/186)</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Abu Yazid Al Busthami, yang pernah berkata: Aku heran terhadap orang yang telah mengenal Allah, mengapa dia tetap beribadah kepada-Nya?! (Dinukil oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam kitabnya <em>Hilyatul Auliya’</em>, 10/37). Dia juga berkata, “Sungguh aku telah menghimpun amalan ibadah seluruh penghuni tujuh langit dan tujuh bumi, kemudian aku masukkan ke dalam bantal dan aku letakkan di bawah pipiku” (<em>Hilyatul Auliya’</em> 10/35-36).</p>
<p><strong>Kelima</strong>, Abu Hamid Al Ghazali, seorang yang termasuk tokoh-tokoh ahli Tasawuf yang paling besar dan tenar, di dalam kitabnya <em>Ihya ‘Ulumud Din</em> ketika dia membicarakan tingkatan-tingkatan dalam tauhid, dia mengatakan, “Dalam Tauhid ada empat tingkatan: … Tingkatan yang <span style="text-decoration: underline;">kedua</span>: Dengan membenarkan makna lafazh di dalam hati sebagaimana yang dilakukan oleh umumnya kaum muslimin, dan ini adalah keyakinannya orang-orang awam?! Tingkatan yang <span style="text-decoration: underline;">ketiga</span>: mempersaksikan makna tersebut dengan jalan <em>Al Kasyf</em> (penyingkapan tabir) melalui perantaraan cahaya Al Haq (Allah <em>‘azza wa jalla</em> ) dan ini adalah tingkatan <em>Al Muqarrabin</em>, yaitu dengan seseorang melihat banyaknya makhluk (di alam semesta), akan tetapi dia melihat semuanya bersumber dari Zat Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa, dan tingkatan yang <span style="text-decoration: underline;">keempat</span>: dengan tidak menyaksikan di alam semesta ini kecuali satu zat yang esa, dan ini merupakan penyaksian para <em>Shiddiqin</em>, dan diistilahkan oleh orang ahli Tasawuf dengan sebutan: <em>Al Fana’ Fit Tauhid</em> (telah melebur dalam tauhid/pengesaan) karena dia tidak melihat kecuali satu, bahkan dia tidak melihat dirinya sendiri… Dan inilah puncak tertinggi dalam tauhid.</p>
<p>Jika anda bertanya bagaimana mungkin seseorang tidak melihat kecuali hanya satu saja, padahal dia melihat langit, bumi dan semua benda-benda yang benar-benar nyata, dan itu banyak sekali? dan bagaimana sesuatu yang banyak menjadi hanya satu? Ketahuilah bahwa ini adalah puncak ilmu <em>Mukasyafat</em> (tersingkapnya tabir) (maksudnya adalah cerita bohong orang-orang ahli Tasawuf yang bersumber dari bisikan jiwa dan perasaan mereka, yang sama sekali tidak berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, -pen), dan rahasia-rahasia ilmu ini tidak boleh ditulis dalam sebuah kitab, karena orang-orang yang telah mencapai tingkatan Ma’rifah berkata, ‘membocorkan rahasia ketuhanan adalah kekafiran’. Sebagaimana seorang manusia dikatakan banyak bila anda melihat rohnya, jasad, sendi-sendi, urat-urat, tulang belulang dan isi perutnya, padahal dari sudut pandang lain dikatakan dia adalah satu manusia” (Lihat kitab <em>Ihya ‘Ulumud Din</em> 4/241-242).</p>
<p>Al Ghazali juga berkata, “Pandangan terhadap tauhid jenis pertama, yaitu pandangan tauhid yang murni, dengan pandangan ini, Anda pasti akan dikenalkan bahwa Dialah yang bersyukur dan disyukuri, dan Dialah yang mencintai dan dicintai, ini adalah pandangan orang yang meyakini bahwa tidaklah ada di alam semesta ini melainkan Dia (Allah <em>‘azza wa jalla</em>)” (Ibid, 4/83).</p>
<p><strong>Keenam</strong>, Asy Sya’rani, seorang tokoh besar Tashawuf yang telah menulis sebuah kitab yang berjudul <em>Ath Thabaqat Al Kubra</em>, yang memuat biografi tokoh-tokoh ahli Tasawuf dan kisah-kisah (kotor) yang dianggap oleh orang-orang ahli Tasawuf sebagai tanda kewalian. Di antaranya kisah seorang wali (?) yang bernama Ibrahim Al ‘Uryan, orang ini bila naik mimbar dan berceramah selalu dalam keadaan telanjang bulat!? (lihat <em>At Thabaqat Al Kubra</em> 2/124)</p>
<p>Kisah lainnya tentang seorang (wali Setan) yang bernama Syaikh Al Wuhaisyi yang bertempat tinggal di rumah pelacuran, yang mana setiap ada orang yang selesai berbuat zina, dan hendak meninggalkan tempat tersebut, dia berkata kepadanya: “Tunggulah sebentar hingga aku selesai memberikan syafaat untukmu sebelum engkau meninggalkan tempat ini!?” Dan di antara kisah tentang orang ini: bahwa setiap kali ada seorang pemuka agama setempat sedang menunggang keledai, dia memerintahkannya untuk segera turun, lalu berkata kepadanya: Peganglah kepala keledaimu, agar aku dapat melampiaskan birahiku padanya!? (lihat <em>At Thabaqat Al Kubra</em> 2/129-130)</p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Penutup</strong></span></h2>
<p>Setelah pembahasan di atas, maka jelaslah bagi kita semua bahwa ajaran Tasawuf adalah ajaran sesat yang menyimpang sangat jauh dari petunjuk Al Quran dan As Sunnah, yang dengan mengamalkan ajaran ini –<em>na’udzu billah min dzalik</em>– seseorang bukannya makin dekat kepada Allah <em>‘azza wa jalla</em>, tapi malah semakin jauh dari-Nya, dan hatinya bukannya makin bersih, akan tetapi malah semakin kotor dan penuh noda. Kemudian jika timbul pertanyaan, “Kalau begitu usaha apa yang harus kita lakukan dalam upaya untuk menyucikan jiwa dan hati kita?”, Maka jawabannya adalah sederhana sekali, yaitu, <strong>Pelajari dan amalkan syariat islam ini lahir dan batin, maka dengan itulah jiwa dan hati kita akan bersih </strong>(untuk lebih jelasnya silakan pembaca menelaah kitab <em>Manhajul Anbiya’ fii Tazkiyatin Nufus</em> tulisan Syaikh Salim Al Hilali, yang ditulis khusus untuk menjelaskan masalah penting ini), karena di antara tugas utama yang dibawa para Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah menyucikan jiwa dan hati manusia dengan mengajarkan kepada mereka syariat Allah <em>‘azza wa jalla</em>, sebagaimana firman Allah:</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْأَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُالْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ</span></p>
<p><em>“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”</em>. (QS. Ali ‘Imran: 164).</p>
<p>Maka orang yang paling banyak memahami dan mengamalkan petunjuk Al Quran dan As Sunnah dengan baik dan benar, maka dialah orang yang paling bersih dan suci hati dan jiwanya dan dialah orang yang paling bertakwa kepada Allah <em>‘azza wa jalla</em>, karena semua orang berilmu sepakat mengatakan bahwa: “Penghalang utama yang menghalangi seorang manusia untuk dekat kepada Allah <em>‘azza wa jalla</em> adalah (kekotoran) jiwanya” (Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya <em>Igatsatul Lahafan</em> dan <em>Al Fawa’id</em>). Oleh karena inilah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mempermisalkan petunjuk dan ilmu yang Allah turunkan kepada beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan air hujan yang Allah turunkan dari langit, karena sebagaimana fungsi air hujan adalah untuk menghidupkan, membersihkan dan menumbuhkan kembali tanah yang tandus dan gersang, maka demikian pula petunjuk dan ilmu yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah untuk menghidupkan, menyucikan dan menumbuhkan hati manusia, dalam hadits Abi Musa Al ‘Asy’ari <em>radhiyallahu ‘anhu</em> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضاً… الحديث</span></p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya permisalan dari petunjuk dan ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi…”</em> (HR. Bukhari 1/175, <em>Fathul Bari</em> dan Muslim no. 2282).</p>
<p>Semoga tulisan ini Allah <em>‘azza wa jalla</em> jadikan bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi semua orang yang membacanya.</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا الحمد لله رب العالمين</span></p>
<p class="arab" style="text-align: left;">***</p>
<p class="arab" style="text-align: left;">Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.<br>
Artikel www.muslim.or.id</p>
 