
<p>Apa itu kanud? Ringkasnya, kanud adalah orang yang terus menerus menghitung musibah demi musibah dan melupakan nikmat.</p>
<p> </p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan:</p>
<p>Allah mencela orang yang disebut kanud yaitu yang tidak mensyukuri nikmat. Mengenai ayat,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya</em>.” (QS. Al-‘Adiyat: 6).</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri mengatakan mengenai ayat ini,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">يَعُدُّ المَصَائِبَ وَيَنْسَى النِّعَمَ</span></p>
<p>“Orang yang kanud adalah yang terus menerus menghitung musibah demi musibah, lantas melupakan berbagai nikmat yang telah Allah beri.” (‘<em>Uddah Ash-Shabirin</em> <em>wa Dzakhirah Ash-Shabirin</em>, hlm. 151)</p>
<p>Ibnul Qayyim itu mengatakan bahwa karenanya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengabarkan bahwa kebanyakan wanita menjadi penduduk neraka karena sifat di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ</span></p>
<p>“<em>Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’</em>.” (HR. Bukhari, no. 5197 dan Muslim, no. 907).</p>
<p>Kalau tidak mensyukuri pemberian suami saja hukumannya seperti ini, padahal hakikatnya nikmat tersebut juga berasal dari Allah, bagaimana lagi jika kita enggan bersyukur atas nikmat Allah sama sekali. Lihat <em>‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin </em>karya Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>, hlm. 151.</p>
<p><strong>Baca Juga: <a href="https://rumaysho.com/16599-berdoa-di-akhir-shalat-agar-rajin-berdzikir-bersyukur-dan-memperbagus-ibadah.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000;">Berdoa di Akhir Shalat Agar Rajin Berdzikir, Bersyukur dan Memperbagus Ibadah</span></a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Belajar dari Nabi Ayyub ‘alaihis salam</strong></span></p>
<p>Nabi Ayyub tidak banyak hitung musibah karena nikmat yang diberi Allah begitu banyak.</p>
<p>Nabi Ayyub diberi sehat 70 tahun. Ia diberi sakit berat.  Namun, masih bersabar kala itu karena nikmat yang diperoleh masih lebih banyak dari musibahnya.</p>
<p>Ibnu Syihab mengatakan bahwa Anas menyebutkan bahwa Nabi Ayyub mendapat musibah selama 18 tahun. Wahb mengatakan selama pas hitungan tiga tahun. Ka’ab mengatakan bahwa Ayyub mengalami musibah selama 7 tahun, 7 bulan, 7 hari. Al-Hasan Al-Bashri menyatakan pula selama 7 tahun dan beberapa bulan. (Lihat <em>Tafsir Al-Baghawi</em>, 17:181, juga lihat riwayat-riwayat dalam <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 5:351).</p>
<p>Namun, Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah menyatakan bahwa penyebutan jenis penyakitnya secara spesifik dan lamanya beliau menderita sakit sebenarnya berasal dari berita israiliyyat. (Lihat <em>Adhwa’ Al-Bayan</em>, 4:852)</p>
<p>Saat mengurus dan membawa bekal pada beliau, istrinya sampai pernah bertanya kepada Nabi Ayyub yang sudah menderita sakit sangat lama, “Wahai Ayyub andai engkau mau berdoa pada Rabbmu, tentu engkau akan diberikan jalan keluar.” Nabi Ayyub menjawab, “Aku telah diberi kesehatan selama 70 tahun. Sakit ini masih derita yang sedikit yang Allah timpakan sampai aku bisa bersabar sama seperti masa sehatku yaitu 70 tahun.” Istrinya pun semakin cemas. Akhirnya karena tak sanggup lagi, istrinya mempekerjakan orang lain untuk mengurus suaminya sampai memberi makan padanya. (Lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 5:349-350)</p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/15439-21-pelajaran-dari-kisah-nabi-ayyub-sang-penyabar.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">21 Pelajaran dari Kisah Nabi Ayyub Sang Penyabar</a></span></strong></span></p>
<p> </p>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>Referensi:</strong></span></h3>
<p><em>‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin.</em> Cetakan kedua, Tahun 1429 H. Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Az-Zar’i (Ibnu Qayyim Al-Jauzi). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.</p>
<p> </p>
<p>* Penjelasan ini adalah penyampaian singkat dari Khutbah Jumat, 20 Syawal 1441 H di Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul</p>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p>Diselesaikan di <a href="https://darushsholihin.com">Darush Sholihin</a>, Sabtu siang, 21 Syawal 1441 H, 13 Juni 2020</p>
<p><a href="https://rumaysho.com/about-me">Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p><strong>Artikel<a href="https://rumaysho.com"> Rumaysho.Com</a></strong></p>
<p> </p>
<h3><strong>Tonton di Channel Rumaysho TV tentang Hamba yang Kanud:</strong></h3>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/4NIktHIoOmI" width="auto" height="auto" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start">﻿</span></iframe></p>
 