
<p>Apakah memperingati hari ibu harus dilakukan? Bagaimana pandangan islam tentang hal ini? Simak penjelasannya di artikel berikut ini.</p>

<p><a href="https://muslim.or.id/13047-seni-berbakti-pada-orang-tua.html" target="_blank" rel="noopener">Berbakti kepada orang tua</a> khususnya ibu memang lebih dianjurkan oleh agama Islam. Karena memang ibu sangat besar jasanya bagi anak-anaknya melebihi bapak. Oleh karena itu berbakti kepada Ibu didahulukan daripada berbakti kepada Bapak. Sebagaimana dalam hadits berikut,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ</span></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallaahu ‘anhu</em>, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasallam</em> dan berkata, ‘wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi <em>shalallaahu ‘alaihi wasallam</em> menjawab, ‘<em>Ibumu!</em>’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘kemudian siapa lagi?’ Nabi <em>shalallaahu ‘alaihi wasallam</em> menjawab, ‘<em>Ibumu!</em>’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘<em>Ibumu</em>’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘kemudian siapa lagi’, Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wasallam</em> menjawab, ‘<em>Kemudian ayahmu</em>’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).</p>
<p>Akan tetapi haruskah hari Ibu diperingati setiap setahun sekali? Perlukah memperingati hari ibu? Bagaimana hukum Islam mengenai hal ini?</p>
<h2>Hari Ibu Setiap Hari</h2>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <span style="line-height: 1.5em;">“seorang ibu lebih berhak untuk senantiasa dihormati sepanjang tahun, daripada hanya satu hari saja, bahkan seorang ibu mempunyai hak terhadap anak-anaknya untuk dijaga dan dihormati serta ditaati selama bukan dalam kemaksiatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, di setiap waktu dan tempat” (<em>Majmu’ Fatawa wa Rasa’il</em> no. 535 2/302, Darul wathan, 1413 H, Asy Syamilah).</span></p>
<h2>Pandangan Islam Terhadap Perayaan Hari Ibu</h2>
<p>Hari ibu biasanya dirayakan setiap tanggal 22 Desember, berikut fatwa <em>Al-Lajnah Ad- Daimah</em> (semacam MUI di Saudi) mengenai hal ini. <em>Al Lajnah Ad Daimah</em> ditanya, “kapan tanggal yang tepat untuk memperingati hari ibu?”</p>
<p><strong>Mereka menjawab:</strong></p>
<p><span style="line-height: 1.5em;">“Tidak boleh mengadakan peringatan yang dinamakan dengan peringatan hari ibu, dan tidak boleh juga memperingati perayaan peringatan tahunan yang dibuat-buat (tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an dan As-sunnah, karena perayaan (<em>ied</em>) tahunan yang diperbolehkan dalam Islam hanya Idul Fitri dan Idul Adha, pent).</span></p>
<p>Nabi Muhammad <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak pernah kami tuntunkan, maka amalan itu tertolak</em>”</p>
<p>Perayaan hari ibu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em>, para sahabat <em>radhiallahu anhum</em> dan para imam <a href="https://muslim.or.id/18935-siapakah-salafus-shalih.html" target="_blank" rel="noopener">salafus shalih</a>. Perayaan ini adalah sesuatu yang diada-adakan dan menyerupai orang kafir (<em>tasyabbuh</em>) (Fatawa Komite Tetap Kajian Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi, jilid 3 hal.85, http://goo.gl/sU2cG2).</p>
<p><span style="line-height: 1.5em;">Demikian semoga bermanfaat.</span></p>
<p>—</p>
<p><strong>Penyusun: <a href="https://muslimafiyah.com/tentang-saya" target="_blank" rel="noopener">dr. Raehanul Bahraen</a></strong></p>
<p><strong>Artikel Muslim.or.id</strong></p>
 