
<p><strong>WAJIBNYA <em>ITTIBA’</em> KEPADA NABI <em>SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM</em></strong></p>
<p>Allah <em>Subhanahu  wa Ta‘ala</em> telah mewajibkan kepada setiap orang yang beriman agar mentaati  dan mengikuti (<em>ittiba‘</em>) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> serta menjadikan beliau sebagai satu-satunya hakim, <em>taslim</em> (tunduk) pada  keputusan beliau dan tidak menyalahi perintah beliau baik ketika beliau masih  hidup maupun telah wafat. Dan ketaatan itu menjadi bagian yang tidak dapat  dipisahkan dari ketaatan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta‘ala</em>.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu  Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Taat kepada Allah adalah dengan  mengikuti Kitab-Nya dan taat kepada Rasul adalah dengan mengikuti Sunnah.”</em> [Lihat <em>Tafsir Ibnu Katsir </em>(I/568)]</p>
<p>Allah <em>Jalla  Dzikruhu</em> telah berfirman,</p>
<p class="arab">وَأَطِيْعُوْااللهَ  وَأَطِيْعُوْاالرَّسُوْلَ وَاحْذَرُوْاۚ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ  فَاعْلَمُواأَنَّمَاعَلَى رَسُوْلِنَاالْبَلَغُ الْمُبِيْنُ ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Dan  taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul(Nya) serta  berhati-hatilah. Jika kamu berpaling maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami  hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”</em> (Qs. Al-Ma’idah: 92)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam </em>juga bersabda,</p>
<p class="arab">كُلُّ أُمَّتِي  يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ  يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى .</p>
<p>Artinya: <em>“Setiap  ummatku akan masuk Surga, kecuali yang enggan.” Mereka (para Shahabat)  bertanya: “Siapa yang enggan itu?” Jawab beliau: “Barang siapa yang mentaatiku  pasti akan masuk Surga, dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka sungguh ia  telah enggan</em>.” [Hadits  shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 7280) dan Ahmad (II/361), dari Abu  Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>]</p>
<p>Wajib bagi  setiap <em>mukallaf</em> (orang terbebani kewajiban syar’i) untuk senantiasa  mengikuti Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan tidak boleh  mengikuti orang selain beliau. Sampai-sampai, kalau saja Nabi Musa <em>‘alaihis  salam</em> berada diantara manusia, kemudian manusia mengikuti syari’atnya dan  meninggalkan syari’at yang telah dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em>, pastilah dia akan tersesat. Sebagaimana disebutkan dalam sabda  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini,</p>
<p class="arab">وَالَّذِي نَفْسِي  مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْأَصْبَحَ فِيْكُمْ مُوْسَى ثُـمَّ اتَّبَعْتُمُوْهُ  وَتَرَكْتُمُوْنِيْ لَضَلَلْتُـمْ .</p>
<p>Artinya: <em>“Demi  Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Musa berada diantara  kalian, kemudian kalian mengikuti (ajaran)nya dan meninggalkan (ajaran)ku,  niscaya kalian akan tersesat.”</em> [Hadits shahih lighairihi, diriwayatkan oleh  Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya (III/470-471 dan IV/265-266)]</p>
<p>Jika seorang  Musa <em>‘alaihis salam</em> saja tidak boleh untuk diikuti setelah Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> menyampaikan risalahnya, maka bagaimana orang selain  beliau boleh untuk diikuti, padahal ajarannya bertolak  belakang dengan ajaran Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> …?!</p>
<p>Dengan  demikian, wajib bagi setiap jiwa yang mengaku sebagai seorang muslim untuk  menerima segala ketetapan Allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan batin tanpa  penolakan sedikit pun dan dalam bentuk apa pun. Itulah yang menjadi ‘aqidah  seorang Muslim.</p>
<p><strong>KAPANKAH  HARUS TAQLID?</strong></p>
<p>Taqlid tidaklah  tercela dan terlarang secara mutlak. Ada  bentuk taqlid yang memang terlarang secara mutlak, ada juga bentuk taqlid yang  malah diwajibkan, dan ada pula bentuk taqlid yang boleh untuk dilakukan karena  beberapa sebab.</p>
<p>Imam lbnu  Qayyim Al-Jauziyyah <em>rahimahullah</em> membagi taqlid menjadi tiga macam,  yaitu: [Lihat <em>I’lamul Muwaqqi’in</em> (III/447)]</p>
<p><strong>Pertama,  Taqlid yang diharamkan,</strong></p>
<p>Ada tiga jenis taqlid yang diharamkan, yaitu:</p>
<p>1. Taqlid kepada  perkataan nenek moyang sehingga manusia berpaling dari apa yang telah  diturunkan Allah. Contohnya: Kaum Jahiliyyah yang taqlid kepada ajaran nenek  moyang mereka untuk menyembah berhala. Sebagaimana disebutkan oleh Allah <em>‘Azza  wa Jalla</em> dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">وَكَذَ لِكَ مَآ أَرْ  سَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَّذِيْرٍ إِلاَّ قَالَ مُتْرَ فُوهَآ  إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَرِهِمْ  مُّقْتَدُوْنَ ۝ قَـلَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْـدَى مِمَّا وَجَدْتُّمْ عَلَيْهِ  ءَابَآءَكُمْۖ قَالُوا إِنَّا بِمَآ أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَفِرُونَ ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Dan  demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau  (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu  berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama)  dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.’ Rasul itu berkata,  ‘Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama)  yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek  moyangmu?’ Mereka menjawab, ‘Sungguh kami mengingkari (agama) yang kamu  diperintahkan untuk menyampaikannya.”</em> (Qs. Az-Zukhruf: 23-24)</p>
<p>2. Taqlid kepada orang yang tidak diketahui apakah dia  pantas diambil perkataannya ataukah tidak.  Contohnya: Taqlidnya seseorang kepada orang lain yang tidak diketahui asal  usulnya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>,</p>
<p class="arab">يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ  ءَامَنُوا إِنْ جَآءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبِإٍ فَتَبَـيَّنُوا أَنْ تُصِيْبُوا  قَوْمًا بِجَهَلَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَدِمِيْنَ ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Wahai orang-orang yang  beriman, jika seorang fasik datang kepadamu dengan membawa berita, maka  telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena  kebodohan (kecerobohan), yang nanti akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”</em> (Qs. Al-Hujurat: 6)</p>
<p>3. Taqlid kepada perkataan seseorang, padahal dia mengetahui  adanya <em>hujjah</em> (bukti) dan dalil yang bertentangan dengan pendapat orang  tersebut. Contohnya: Taqlid yang dilakukan kaum Yahudi dan Nashara kepada para  pendeta dan rahib mereka, sehingga mereka berpaling dari dakwah Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah <em>‘Azza wa  Jalla</em>,</p>
<p class="arab">إِتَّخَذُوا  أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُـمْ أَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللهِ … ۝</p>
<p>Artinya: “<em>Mereka menjadikan  orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai rabb selain  Allah…”</em> (Qs. At-Taubah: 31)</p>
<p><strong>Kedua,  Taqlid yang diwajibkan,</strong></p>
<p>Taqlid yang diwajibkan  adalah taqlid kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih. Ini bukanlah taqlid  dalam arti yang sebenarnya, melainkan dia bermakna kepada <em>ittiba’.</em> Dan  ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Karena Al-Qur’an dan As-Sunnah  merupakan wahyu dari <em>Rabbul ‘Izzati </em>yang terpelihara, sehingga manusia  yang berpegang kepada keduanya tidak akan sesat selama-lamanya.</p>
<p>Allah <em>‘Azza  wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p class="arab">قُلْ أَطِيْعُوا اللهَ  وَالرَّسُوْلَۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَفِرِيْنَ ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Katakanlah  (Muhammad): ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, ketahuilah  sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.’”</em> (Qs. Ali ‘Imran: 32)</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">خَلَّفْتُ فِيكُمْ  شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِى وَلَنْ  يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَىَّ الْحَوْضَ .</p>
<p>Artinya: <em>“Aku  tinggalkan (untuk kalian) dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama  kalian berpegang teguh kepada keduanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta  keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendapatiku di Al-Haudh (telaga di  Surga).”</em> [Hadits shahih<em>, </em>diriwayatkan oleh Al-Hakim (I/93),  Al-Baihaqi (X/114) dan Malik (hal. 686), dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu‘anhu</em>]</p>
<p><strong>Ketiga,  Taqlid yang dibolehkan.</strong></p>
<p>Taqlid yang  dibolehkan adalah taqlid yang dilakukan oleh seorang awam kepada orang yang  lebih ‘alim dan memiliki kemampuan untuk berijtihad, karena orang tersebut  tidak mampu untuk melakukan <em>tahqiq </em>(penelitian dalil) dan <em>tarjih </em>(menyimpulkan  hukum yang paling dekat kebenarannya dengan dalil) dalam menentukan hukum  syari’at. Para ulama bersepakat bahwa seorang  awam boleh taqlid kepada ulama yang berjalan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah,  sebagai perwujudan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">فَسْئَلُوا أَهْلَ  الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Maka  bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.</em>(Qs.  Al-Anbiya’: 7)</p>
<p>Akan tetapi,  ada beberapa syarat yang harus diperhatikan berkaitan dengan dibolehkannya  taqlid dalam kondisi semacam ini, antara lain:</p>
<p>1.  Seorang yang taqlid adalah seorang yang benar-benar awam terhadap perkara  syari’at dan tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui hukum Allah <em>Ta’ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>2.  Hendaknya orang yang menjadi sasaran taqlid adalah orang  yang baik agamanya, dan ilmunya mendalam, serta memiliki kemampuan untuk  berijtihad.</p>
<p>3.  Orang yang taqlid itu belum<strong> </strong>mengetahui adanya pendapat lain yang lebih  baik dan lebih dekat kepada kebenaran dari pada pendapat yang dia pegangi secara taqlid.</p>
<p>4.  Tidak boleh untuk taqlid pada permasalahan yang menyelisihi nash syari’at atau <em>ijma’</em> (kesepakatan) kaum muslimin<strong>.</strong></p>
<p>5.  Orang yang taqlid tidak boleh mewajibkan dirinya untuk mengambil satu madzhab  saja dalam semua perkara syari’at. Hendaknya dia berusaha untuk mencari  kebenaran dan berpegang pada pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Meskipun  pendapat tesebut ada di berbagai madzhab.</p>
<p>6.  Tidak boleh berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab yang lainnya dengan  tujuan mencari <em>rukhshah</em> (keringanan) dan mencari kemudahan dalam  menjalankan syari’at. Sehingga dia hanya mengambil yang dia anggap paling  ringan dan paling sesuai dengan nafsunya.</p>
<p>[Lihat <em>Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa  Fadhlihi </em>(II/170), <em>I’lamul Muwaqqi’in </em>(III/462), <em>Al-Mukhtasharul  Hatsits</em> (hal. 197), <em>Syarah Ushul min ‘Ilmil Ushul </em>(hal. 594-597),  dan <em>Mulia dengan Manhaj Salaf</em> (hal. 300-301)]</p>
<p><strong>BOLEHKAH  BERMADZHAB?</strong></p>
<p>Diperbolehkan  bagi seseorang untuk mengikuti madzhab tertentu karena dua hal:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>,  ketidakmampuannya dalam memahami nash-nash agama,</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>,  dengan mengikuti madzhab tertentu, dapat mencegahnya dari dampak buruk yang  timbul akibat ketidaktahuannya terhadap perkara syari’at. Misalnya, membuat  pendapat baru yang sama sekali tidak pernah disampaikan oleh ulama.</p>
<p>[Lihat <em>Majmu’  Fatawa</em> (XI/514 dan XX/209), <em>Al-Mukhtasharul Hatsits</em> (hal. 195), dan <em>Mulia  dengan Manhaj Salaf</em> (hal. 302)]</p>
<p>Meskipun  demikian, orang tersebut harus tetap berusaha menuntut ilmu syar’i dan tidak  boleh merasa cukup dengan apa yang diperolehnya dari madzhab yang dia ikuti.  Sehingga apabila dia mendapati pendapat lain yang lebih benar dari pendapat  madzhab yang dia ikuti, wajib baginya untuk meninggalkan pendapat yang salah  dan mengambil pendapat yang benar tersebut.</p>
<p>***</p>
<p>Islam  ditegakkan di atas ilmu. Oleh karena itu dalam setiap pelaksanaan syari’at  haruslah dilandasi dengan ilmu. Adapun taqlid, itu bukanlah ilmu, sehingga  orang-orang yang taqlid tidak boleh mengatakan bahwa pendapat orang yang dia  ikuti itu adalah pendapat yang paling benar, sampai dia mampu untuk melakukan pembuktian  secara ilmiyah bahwa pendapat tersebut adalah benar.</p>
<p>Dengan  demikian, wajib bagi seluruh manusia yang menginginkan keselamatan di dunia  maupun di akhirat untuk senantiasa berpegang teguh kepada Sunnah Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>, dan tidak menyelisihinya karena perkataan atau perbuatan  manusia. Sebab Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah manusia yang paling utama untuk diikuti dan petunjuknya  adalah sebaik-baik petunjuk.</p>
<p>Allah <em>Tabaraka  wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">اتَّبِعُوا مَآأُنزِلَ  إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَتَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَۗ قَلِيلاً  مَاتَذَكَّرُونَ ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Ikutilah  apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti  pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari  padanya).”</em> (Qs. Al-A’raf: 3)</p>
<p>Pada ayat di  atas, Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengikuti apa yang telah  diturunkan-Nya melalui perantara hamba-Nya, yakni Rasulullah Muhammad <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>, dan Allah melarang kita untuk mengikuti perintah selain  dari perintah-Nya.</p>
<p>Hendaknya  orang-orang yang taqlid itu mengetahui sumber pengambilan hukum dari orang yang  ditaqlidinya dalam rangka mengikuti ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> dan menghormati para ulama <em>rahimahumullah</em>. Dan barang siapa  yang menganggap bahwa taqlid tanpa ilmu itu sebagai perbuatan baik maka  ketahuilah, bahwa tidak ada kebaikan sama sekali dalam taqlidnya itu. Karena  para ulama ber-Islam atas dasar ilmu dan <em>ittiba’</em>, bukan atas dasar <em>ra’yu</em> (pemikiran/persangkaan dengan akal) dan hawa nafsu semata.</p>
<p class="arab">والله تعالى أعلم</p>
<p>سبحانك اللهم وبحمدك  أشهـد أن لا إله إلا أنت، استغـفـرك وأتوب إليك
</p>
<p>***<br>
<a href="https://muslimah.or.id/">muslimah.or.id</a><br>
Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad<br>
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<p>1. <em>Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam</em>, Imam Abu Muhammad ‘Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm Azh-Zhahiri, cetakan Maktabah Athif, Kairo.</p>
<p>2. <em>Al-Masa’il Jilid 3</em>, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Darus Sunnah, Jakarta.</p>
<p>3. <em>Antara Taqlid dan Ittiba’</em>, Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, dimuat dalam Majalah Al-Furqon Edisi 2 Tahun V, Gresik.</p>
<p>4. <em>I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin Jilid 3 dan 4</em>, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cetakan Daar Ibnul Jauzi, Riyadh.</p>
<p>5. <em>Jami Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi Jilid 1 dan 2</em>, Abu ‘Umar Yusuf bin ‘Abdil Barr, cetakan Daar Ibnul Jauzi, Riyadh.</p>
<p>6. <em>Kitabul ‘Ilmi</em>, Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cetakan Daar Tsuraya, Riyadh.</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 