
<p><span style="font-weight: 400;">Tragedi jatuhnya </span><i><span style="font-weight: 400;">raafi’ah (crane) </span></i><span style="font-weight: 400;">di Masjidil Haram, Kerajaan Arab Saudi,</span> <span style="font-weight: 400;">yang terjadi pada hari Jumat, 27 Dzul Qa’dah 1436 H (11/9)</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">sungguh sangat menyedihkan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hal ini karena kaum muslimin adalah saudara. Mereka diikat dengan ikatan </span><i><span style="font-weight: 400;">Ukhuwwah Islamiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, ikatan iman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS.Al-Hujuraat: 10).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang-orang yang beriman kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">diibaratkan sebagai sebuah tubuh, dalam hal cinta dan kasih sayang. Dari An-Nu’man bin Basyir dari Nabi s</span><i><span style="font-weight: 400;">hallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau bersabda: </span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Perumpamaan kaum mukminin dalam hal cinta dan kasih sayang dan tolong-menolong mereka, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lainnya ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad, lafazh ini milik Muslim).</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">Hadits ini menunjukkan, bahwa ciri khas keimanan yang baik adalah merasa sedih oleh sesuatu yang membuat sedih saudaranya. Kita sedih atas musibah jatuhnya </span><i><span style="font-weight: 400;">raafi’ah (crane) </span></i><span style="font-weight: 400;">di Masjidil Haram dan kitapun ingin menghibur saudara-saudara kita seiman yang sedang tertimpa musibah tersebut. Kita juga berusaha menghindari segala hal yang justru memberatkan kesedihan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Itulah tuntutan keimanan yang benar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun senang di atas kesedihan kaum muslimin, bergembira tersiarnya berita-berita kesalahan kaum muslimin, melontarkan pernyataan, sikap dan tindakan yang semakin memperberat tanggungjawab pihak yang mengurus urusan kaum muslimin, menyampaikan komentar-komentar yang memperkeruh suasana duka cita kaum muslimin, maka ini adalah lawan dari ciri khas keimanan yang baik!</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Maukah kita, saat kita sudah jatuh kemudian tertimpa tangga pula?</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Maukah kita, saat kita tertimpa musibah, sekedar menjadi bahan “share, tontonan dan komentar” tanpa uluran tangan ,tanpa do’a terucap di bibir dan tanpa hiburan penghilang rasa sedih??</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Maukah kita, saat kita tertimpa musibah, menjadi bahan olokan musuh-musuh Islam dan bahkan menjadi kegembiraan mereka???</span></i></p>
<p><b>Jika kita tidak mau, maka kitapun tidak mau hal itu menimpa saudara kita yang seiman!</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukankah Rasulullah s</span><i><span style="font-weight: 400;">hallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah bersabda: </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ</span><i><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai untuk saudaranya apa saja (dari kebaikan) yang dia sukai untuk dirinya sendiri”</span></i><span style="font-weight: 400;"> [HR. Al-Bukhari dan Muslim].</span></p>
<p><b>Ingat, wahai saudaraku!</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menjelaskan bahwa hukum “menyukai suatu kebaikan untuk saudara seiman yang juga kita sukai untuk diri kita” adalah </span><b>wajib </b><span style="font-weight: 400;">dan bukanlah sunnah!</span><span style="font-weight: 400;"> Dengan demikian, siapapun di antara kita, yang di dalam hatinya tidak terdapat hal itu, maka dia telah terjatuh kedalam dosa, karena telah meninggalkan kewajiban tersebut!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukankah Rasulullah s</span><i><span style="font-weight: 400;">hallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga telah bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْه</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hendaknya ia bersikap kepada orang lain dengan apa yang ia suka untuk disikapi dengannya” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari hadits yang agung di atas, renungkanlah hal-hal berikut ini :</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jika ada saudara kita yang melakukan kesalahan kepada kita, maka apa sikap kita kepadanya? Berempatilah! Seandainya kita menjadi saudara kita yang bersalah itu, maka apakah yang kita harapkan? Bukankah kita berharap untuk dimaafkan, tidak disebar-sebarkan aib kita tersebut, kitapun tidak ingin dituduh melebihi kesalahan kita, tidak ingin diungkit-ungkit kesalahan yang telah lalu sambil diingkari dan dilupakan kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan?</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Jika demikian, maka maafkanlah ia, saudara kita yang seiman itu! Jangan sebar-sebarkan kesalahan saudara kita, jangan kita katakan kesalahannya secara berlebihan, jangan ungkit kesalahan-kesalahan lampaunya dan jangan lupakan jasa-jasanya!</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Jika saudara kita tertimpa musibah -apalagi jika musibah itu besar-, maka apa sikap kita kepadanya? Bayangkanlah kita jadi dia!</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ketika itu, kita ingin agar kita tidak sekedar dijadikan bahan gunjingan dan tontonan orang lain. Ketika itu kita berharap kepada Allah supaya menghilangkan atau meringankan musibah tersebut dan berharap pula agar Dia menolong kita! Kita senang saudara-saudara kita mendo’akan, menjenguk, menolong serta menghibur kita dan keluarga kita! Jika demikian, lakukanlah apa yang kita senangi dan kita harapkan ketika itu, untuk saudara kita tersebut!</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وكذلك من لا يحب لأخيه المؤمن ما يحب لنفسه، لم يكن معه ما أوجبه اللّه عليه من الإيمان، فحيث نفى اللّه الإيمان عن شخص، فلا يكون إلا لنقص ما يجب عليه من الإيمان، ويكون من المعرضين للوعيد، ليس من المستحقين للوعد المطلق </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Demikian pula,barangsiapa yang tidak menyukai untuk saudaranya yang beriman, apa yang dia sukai untuk dirinya, maka dalam dirinya tidak ada keimanan yang diwajibkan oleh Allah kepadanya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika Allah menafikan keimanan dari seseorang</span><span style="font-weight: 400;">, maka tidaklah ini terjadi melainkan karena adanya kekurangan pada keimanannya yang wajib (ada), sehingga pelakunya termasuk orang-orang yang terkena ancaman Allah dan bukan termasuk orang-orang yang berhak memperoleh janji yang sempurna dari Allah.” (Majmu’ Fataawa: VII/41).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka dalam rangka menunaikan kewajiban kita, yaitu mencintai untuk saudara kita suatu kebaikan yang kita cintai untuk diri kita, maka berikut ini beberapa kalimat penghibur duka bagi saudara-saudaraku yang sedang tertimpa musibah, semoga bermanfaat.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wabillahi nasta’iin,</span></i></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Kita semua pasti diuji!</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang-orang yang beriman pastilah akan diuji di dunia ini, karena dunia ini adalah tempat ujian keimanan, sedangkan Akhirat adalah tempat pembalasan. Tidaklah mereka dibiarkan masuk ke dalam surga tanpa ujian!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman :</span></p>
<p style="text-align: right;">أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk Surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian?” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Al-Baqarah: 214).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ujian dari Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> itu ada dua:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Ujian kesenangan</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Ujian kesusahan (musibah)</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;">كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan”</span></i> <span style="font-weight: 400;">(</span><span style="font-weight: 400;">QS. Al-Anbiyaa`: 35).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun ujian musibah, maka bisa jadi suatu musibah berat yang kita rasakan menghasilkan banyak kebaikan. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><b><br>
</b><b>فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلُ اللهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maka bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS An-Nisaa`: 19).</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Di balik musibah ada hikmah yang indah!</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dibalik musibah pasti ada hikmah yang indah bagi orang-orang yang beriman! Banyak hikmah dari sebuah musibah, di antaranya adalah sebagai penghapus dosa dan untuk mengangkat derajat seorang hamba. </span></p>
<p><b>1. Musibah merupakan penghapus dosa</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Hurairoh </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallah ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata : Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi was sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَة</span><span style="font-weight: 400;">ٌ</span><span style="font-weight: 400;">  </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Bencana akan senantiasa menimpa kepada orang mukmin pria maupun wanita, pada dirinya, anaknya dan hartanya hingga ia bertemu dengan Allah (dalam keadaan) tidak memiliki dosa”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Turmudzi dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama telah menjelaskan bahwa seorang hamba yang sabar dan mengharap pahala dari Allah ketika ditimpa musibah pada dirinya, anak dan hartanya, lalu Allah terus mengujinya dengan berbagai macam ujian, hingga ia meninggal dan bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa, akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan telah bersih dari kesalahan adalah sebuah kenikmatan yang besar! Betapa indahnya buah orang yang sabar dan mengharap pahala dari Allah ketika ditimpa musibah dan betapa ruginya orang yang berkeluh kesah, marah, protes terhadap takdir dan tidak sabar dalam menghadapi ujian musibah!</span></p>
<p><b>2. Musibah</b> <b>penyebab diangkatnya derajat</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi was salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda : </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> ما من شيء يصيب المؤمن حتى الشوكة تصيبه إلا كتب الله له بها حسنة ، أو حطّت عنه بها خطيئة  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidaklah sesuatupun yang menimpa orang mukmin, sampai duri yang menancapnya kecuali Allah catat baginya kebaikan dan dihilangkan darinya kesalahan, dengan sebab musibah tersebut</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim).</span></p>
<p><b>3. Bahkan terkadang, besarnya musibah itu menjadi tanda kuatnya keimanan seorang mukmin yang terkena musibah tersebut.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">At-Tirmidzi meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqosh </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata : Saya</span> <span style="font-weight: 400;">bertanya :</span></p>
<p style="text-align: right;">يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاءً ؟  الأَنْبِيَاءُ , ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ , فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ , فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاؤُهُ , وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ , فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ .</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai Utusan Allah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam menjawab,</span></i> <span style="font-weight: 400;">‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Para Nabi, kemudian orang yang paling baik (imannya sesudah mereka, pent.) dan orang yang paling baik lagi (sesudahnya). Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat, maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.’</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (143)).</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Terkhusus untuk saudaraku seiman yang tertimpa musibah jatuhnya </b><b><i>raafi’ah (crane) </i></b><b>dan keluarga mereka </b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Meskipun sesungguhnya tragedi jatuhnya </span><i><span style="font-weight: 400;">raafi’ah (crane) </span></i><span style="font-weight: 400;">di Masjidil Haram, Arab Saudi, yang terjadi pada hari Jumat, 27 Dzul Qa’dah 1436 H adalah musibah bagi seluruh kaum muslimin, namun nasehat dan hiburan ini lebih diperuntukkan bagi korban luka-luka dan keluarga korban yang meninggal dunia. Namun tetaplah nasehat dan hiburan ini berfungsi untuk menghibur kita semua kaum muslimin yang ikut merasakan kesedihan mereka juga. Semoga hal ini bisa bermanfa’at untuk meningkatkan keimanan kita semua dan meningkatkan kecintaan kita kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nasehat dan hiburan ini penyusun olah dari ceramah Syaikh DR. Sulaiman Ar-Ruhaili </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan beberapa perubahan dan tambahan.</span></p>
<p><b>Do’a mengawali nasehat dan hiburan ini</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita ikut berduka cita atas musibah jatuhnya </span><i><span style="font-weight: 400;">raafi’ah (crane)</span></i> <span style="font-weight: 400;"> yang menimpa saudara-saudara kita yang seiman, kita memohon kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">agar menerima ibadah saudara-saudara kita yang meninggal dunia dalam musibah tersebut, mengampuni dosa-dosa mereka dan memuliakan tempat kembalinya mereka. </span><i><span style="font-weight: 400;">Amiin.</span></i></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Tanda Khusnul Khatimah</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam musibah besar tersebut, kita ingin sampaikan beberapa perkara yang semoga bisa menghibur diri kita dan keluarga korban yang ditinggalkan, dengan beberapa kalimat berikut ini:</span></p>
<p><b>1. Mereka berada dalam tiga kemuliaan.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saudara-saudara kita yang meninggal dunia dalam musibah tersebut berada dalam tiga kemuliaan, yaitu kemuliaan tempat, zaman, dan keadaan.</span></p>
<p><b>Kemuliaan waktunya</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saudara-saudara kita yang meninggal dunia dalam musibah tersebut meninggal pada hari Jum’at, Hari Jum’at adalah hari yang paling mulia</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> menuturkan bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا .</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hari paling baik di mana matahari terbit pada hari itu adalah hari Jum’at, pada hari itu Nabi Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Nabi Adam dimasukkan ke dalam Surga, serta diturunkan dari Surga”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apalagi keruntuhan </span><i><span style="font-weight: 400;">raafi’ah (crane)</span></i><span style="font-weight: 400;"> terjadi pada sekitar pukul 17.23 waktu setempat, berarti di akhir hari Jum’at. Waktu inipun memiliki keutamaan tersendiri, yaitu waktu yang mustajab untuk berdo’a.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Jabir bin ‘Abdillah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, dari Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً ، لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ. </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hari Jum’at itu dua belas bagian waktu</span></i><i><span style="font-weight: 400;">. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya untuknya. Maka carilah waktu tersebut pada akhir waktu (pada hari Jum’at) yang jatuh setelah ‘Ashar.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Abu Dawud dan An-Nasaa`i, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kejadian itupun terjadi pada bulan bulan </span><i><span style="font-weight: 400;">zulqa’dah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang merupakan salah satu dari empat bulan haram. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Bakrah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa beliau sedang berkhutbah di hadapan manusia, pada hari raya Idul Adha, saat haji Wada’. Di antara yang beliau sabdakan adalah </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ ، وَذُو الْحِجَّةِ ، وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبٌ ، شَهْرُ مُضَرَ ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya zaman ini telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu zu’qa’dah, zulhijjah, muharram, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan</span> <span style="font-weight: 400;">bulan</span><i><span style="font-weight: 400;"> rajab, yaitu bulan yang dikenal oleh suku Mudhar yang berada di antara bulan Jumada (Akhir) dan bulan Sya’ban</span></i><span style="font-weight: 400;">.”  </span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> mennjelaskan tentang keutamaan bulan-bulan haram,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراما ، وعظم حرماتهن ، وجعل الذنب فيهن أعظم ، والعمل الصالح والأجر أعظم . </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kemudian Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan-bulan haram dan Allah pun mengagungkan kemuliaannya. Allah juga menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan didalamnya lebih besar. Demikian pula, Allah pun menjadikan amalan shalih dan ganjaran yang didapatkan didalamnya lebih besar pula” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/26)</span></p>
<p><b>Kemuliaan tempatnya</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka meninggal di Masjid Haram dan di samping Ka’bah. Masjid Haram memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاه</span><span style="font-weight: 400;">ُ</span> <span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Satu shalat di Masjidil Haram lebih utama dibandingkan seratus ribu shalat di tempat lainnya</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani).</span></p>
<p><b>Kemuliaan keadaannya</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada saat detik-detik jatuhnya </span><i><span style="font-weight: 400;">raafi’ah (crane) </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut, secara umum mereka sedang beribadah kepada Allah. Di antara mereka ada yang sedang duduk membaca Al-Qur’an, ada juga yang baru selesai melakukan Thawaf dan yang lainnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka semua beribadah kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">semata, merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda : </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> إِذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَبْدٍ خَيْرًا عَسَلَهُ قِيلَ وَمَا عَسَلُهُ قَالَ يَفْتَحُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا قَبْلَ مَوْتِهِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ ” </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jika Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah memperbagus pujian untuknya di tengah-tengah masyarakat. Ada orang yang bertanya: “Apa maksud memperbagus pujian untuknya? Beliau menjawab: </span></i><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Allah ‘Azza wa Jalla membukakan untuknya (kesempatan sehingga bisa) beramal shaleh sebelum kematiannya, kemudian Allah cabut nyawanya dalam keadaan beramal shaleh tersebut</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Al-Albani).</span></p>
<p><b>2. Mereka meninggal pada hari Jum’at</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana telah dijelaskan bahwa saudara-saudara kita yang meninggal dunia dalam musibah tersebut, mereka meninggal </span><span style="font-weight: 400;">pada hari yang paling mulia</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu: Jum’at.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan dalam suatu hadits dijelaskan bahwa keadaan seorang hamba, saat-saat akhir menutup usianya, menunjukkan nilai tersendiri,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَـوَاتِيْمُ.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya</span></i><span style="font-weight: 400;">“. [HR Bukhari dan lainnya]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara nilai dan makna yang khas itu adalah ketika seorang muslim meninggal pada hari Jum’at!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda :</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum`at atau malam Jum`at, melainkan Allah akan menjaganya dari siksa kubur</span></i><span style="font-weight: 400;">“. (HR. At-Tirmidzi) [</span><span style="font-weight: 400;">1]</span><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga saudara-saudara kita yang meninggal dunia pada hari Jum’at tersebut, dijaga oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">dari siksa kubur. </span><i><span style="font-weight: 400;">Allahumma Amiin.</span></i></p>
<p><b>3. Mereka meninggal jauh dari tempat kelahirannya.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang meninggal dunia jauh dari tempat kelahirannya, maka akan diukur jarak dari tempat lahirnya sampai tempat meninggalnya, lalu ukuran jarak tersebut diperuntukkan untuk ukuran tempatnya di Surga!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang yang berkelahiran kota Madinah, meninggal di kota tersebut. Kemudian Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menshalatinya, lalu bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">يا ليته مات بغير مولده</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Duhai seandainya dia mati bukan di tempat kelahirannya!</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para Sahabat bertanya: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Mengapa demikian, wahai Utusan Allah?</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">إن الرجل إذا مات بغير مولده قيس له من مولده إلى منقطع أثره في الجنة</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Seorang (muslim) itu jika meninggal dunia bukan di tempat kelahirannya, maka akan diukur baginya (jarak) antara tempat kelahirannya sampai tempat penghabisan umurnya, (lalu diberi seluas itu pula, tempat kembalinya) di Surga! </span></i><span style="font-weight: 400;">[HR. An-Nasaa`i dan dihasankan oleh Al-Albani].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menganugerahkan untuk mereka keluasan tempat kembali di Surga sejauh jarak tanah kelahiran mereka di negara Indonesia sampai kota Mekah di Kerajaan Saudi Arabia. </span><i><span style="font-weight: 400;">Allahumma Amiin.</span></i></p>
<p><b>4. Mereka meninggal di bawah reruntuhan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meninggal karena tertimpa reruntuhan adalah salah satu golongan yang dikategorikan kedalam mati syahid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">الشُّـهَدَاءُ خَمْسَةٌ: المَـطْعُوْنُ، المَـبْطُوْنُ، والغَـرْقُ وَصَاحِبُ الهَـدْمِ والشَّهِـيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Orang yang mati syahid ada lima, (yaitu) : orang yang (mati) terkena penyakit tha’un, sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang terkena reruntuhan dan orang yang syahid di jalan Allah</span></i><span style="font-weight: 400;">“.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan termasuk dalam hadits ini adalah reruntuhan</span> <i><span style="font-weight: 400;">raafi’ah (crane) </span></i><span style="font-weight: 400;">yang menimpa saudar-saudara kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menjadikan mereka termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang mati syahid. </span><i><span style="font-weight: 400;">Allahumma Amiin.</span></i></p>
<p><b>5. Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya!</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekian banyak saudara-saudara kita tersebut, meninggal dalam keadaan beribadah kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka kita berharap agar Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">membangkitkan mereka kelak dalam keadaan melakukan peribadatan, sesuai dengan kondisi meninggalnya mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah bersabda :</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR Muslim no 2878)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkata Al-Munaawi dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Faidhul Qadiir </span></i><span style="font-weight: 400;">(6/457)</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">أي على الحال التي مات عليها من خير وشر</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Maksudnya: sesuai dengan keadaan matinya, baik dalam keadaan baik maupun buruk.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, ketika ada seorang jama’ah haji yang meninggal di </span><span style="font-weight: 400;">Arafah, </span><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">فَإِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّياً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Karena sesungguhnya Allah akan membangkitkannya kelak di hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah!</span></i><span style="font-weight: 400;">”. [HR. Al-Bukhari dan Muslim].</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Penutup</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Nasehat dan hiburan yang sederhana ini, semoga besar manfa’atnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> menerima ibadah saudara-saudara kita yang meninggal dunia dalam musibah tersebut, mengampuni dosa-dosa mereka dan memuliakan tempat kembalinya mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menganugerahkan kesabaran kepada para keluarga korban dan mengganti sesuatu yang hilang dari mereka dengan yang lebih baik darinya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula, tak lupa kita berdo’a agar Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menolong pemerintah RI dan pemerintah KSA supaya lancar urusan mereka dalam menyelesaikan masalah ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana juga kita berdo’a agar Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memberi taufik kepada kaum muslimin seluruh dunia untuk bersatu mensikapi masalah ini dengan arif dan bijak serta bahu-membahu menolong mereka yang sedang kesusahan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Allahumma Amiin.</span></i></p>
<p><b>___</b></p>
<h5>Catatan kaki</h5>
<p><span style="font-weight: 400;">[1] Syaikh </span> <span style="font-weight: 400;">Al-Albani menyatakan hasan atau shahih, setelah dikumpulkan </span> <span style="font-weight: 400;">jalan-jalan periwayatannya.</span></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 