
<p>Berikut adalah beberapa nasehat dari ayat al Qur’an, hadits dan perkataan ulama yang semoga bisa menghibur setiap orang yang sedang mengalami musibah.</p>

<h2><span style="color: #ff0000;">Musibah Terasa Ringan dengan Mengingat Penderitaan yang Dialami Orang Sholih</span></h2>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.</em>”<sup><sup>1</sup></sup><br>
Dalam lafazh yang lain disebutkan.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ <span style="font-size: 14pt;"><br>
</span></p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Siapa saja yang terasa berat ketika menghadapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.</em>”<sup><sup>2</sup></sup> Ternyata, musibah orang yang lebih sholih dari kita memang lebih berat dari yang kita alami. Sudah seharusnya kita tidak terus larut dalam kesedihan.</p>
<h2><span style="color: #ff0000;">Semakin Kuat Iman, Memang Akan Semakin Terus Diuji</span></h2>
<p dir='"RTL"'>Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?</em>” Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.</em>”<sup><sup>3</sup></sup></p>
<h2><span style="color: #ff0000;">Di Balik Musibah, Pasti Ada Jalan Keluar</span></h2>
<p dir='"RTL"'>Dalam surat Alam Nasyroh, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan</em>.” (QS. An Nasyr: 5)<br>
Ayat ini pun diulang setelah itu,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan</em>.” (QS. An Nasyr: 6)<br>
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata <em>al ‘usr</em> (kesulitan) menggunakan <em>alif-lam</em> dan menunjukkan umum (<em>istigroq</em>) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”<sup><sup>4</sup></sup><br>
Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Bersama kesulitan, ada kemudahan.</em>”<sup><sup>5</sup></sup></p>
<h2><span style="color: #ff0000;">Merealisasikan Iman adalah dengan Bersabar</span></h2>
<p dir='"RTL"'>‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.</em>”<sup><sup>6</sup></sup></p>
<h2><span style="color: #ff0000;">Musibah Awalnya Saja Terasa Sulit, Namun Jika Bersabar akan Semakin Mudah</span></h2>
<p dir='"RTL"'>Hudzaifah ibnul Yaman mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ اللهَ لَمْ يَخْلُقْ شَيْئاً قَطٌّ إِلاَّ صَغِيْراً ثُمَّ يَكْبَرُ، إِلاَّ المصِيْبَة فَإِنَّهُ خَلَقَهَا كَبِيْرَةً ثُمَّ تَصْغُرُ.</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan sesuatu melainkan dari yang kecil hingga yang besar kecuali musibah. Adapun musibah, Allah menciptakannya dari keadaan besar kemudian akan menjadi kecil.</em>”<sup><sup>7</sup></sup> Allah menciptakan segala sesuatu, misalkan dalam penciptaan manusia melalui tahapan dari kecil hingga beranjak dewasa (besar) semacam dalam firman Allah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua.</em>” (QS. Ghofir: 67)</p>
<p dir='"RTL"'>Namun untuk musibah tidaklah demikian. Musibah datang dalam keadaan besar, yakni terasa berat. Akan tetapi, lambat laut akan menjadi ringan jika seseorang mau bersabar.</p>
<h2><span style="color: #ff0000;">Bersabarlah Sejak Awal Musibah</span></h2>
<p dir='"RTL"'>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.</em>”<sup><sup>8</sup></sup> Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.</p>
<h2><span style="color: #ff0000;">Pahala Orang yang Mau Bersabar Tanpa Batas</span></h2>
<p dir='"RTL"'>Ingatlah janji Allah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).</em>” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan bahwa  ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. <em>Maksudnya, pahala mereka tak terhingga</em>. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga.<sup><sup>9</sup></sup></p>
<h2><span style="color: #ff0000;">Akan Mendapatkan Ganti yang Lebih Baik</span></h2>
<p dir='"RTL"'>Ummu Salamah -salah satu istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam- </em>berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.</p>
<p dir='"RTL"'>“<em>Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.</em>” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</em><sup><em><sup>10</sup></em></sup></p>
<p dir='"RTL"'>Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.</p>
<div style="text-align: center;"><em>Semoga yang mendapati musibah semakin ringan menghadapinya dengan sedikit hiburan ini. Semoga kita selalu dianugerahi kesabaran dari Allah Ta’ala.</em></div>
<div style="text-align: center;"><em>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</em></div>
<p> </p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <span style="text-decoration: underline;">https://rumaysho.com</span></p>
<p>Diselesaikan pada malam 11 Muharram 1431 H di Panggang-Gunung Kidul (kediaman mertua tercinta)</p>
<div id='"sdfootnote1"'><strong>Baca Juga:</strong></div>
<div></div>
<div>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/20957-doa-agar-nikmat-tidak-hilang-dan-musibah-tidak-datang-secara-mendadak.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Doa Agar Nikmat Tidak Hilang dan Musibah Tidak Datang Secara Mendadak</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/24814-hamba-yang-kanud-banyak-menghitung-musibah-lupa-akan-nikmat.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hamba yang Kanud, Banyak Menghitung Musibah, Lupa akan Nikmat</strong></span></a></li>
</ul>
<p> </p>
</div>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong><span style="font-size: 14pt;">Footnote:</span></strong></span></p>
<div>1 Shahih Al Jami’, 5459, dari Al Qosim bin Muhammad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits</div>
<div>ini <em>shahih.</em>
</div>
<div id='"sdfootnote2"'>2 Disebutkan dalam <em>Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis</em>, Ibnu ‘Abdil Barr, hal. 249, Mawqi’ Al Waroq.</div>
<div id='"sdfootnote3"'>3 HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.</div>
<div id='"sdfootnote4"'>4<em>Taisir Karimir Rahman</em>, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 929, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H</div>
<div id='"sdfootnote5"'>5 HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>.</div>
<div id='"sdfootnote6"'>6<em> Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis</em>, hal. 250.</div>
<div id='"sdfootnote7"'>7 Idem.</div>
<div id='"sdfootnote8"'>8 HR. Bukhari no. 1283, dari Anas bin Malik.</div>
<div id='"sdfootnote9"'>9 Lihat <em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, Ibnu Katsir, 7/89, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.</div>
<div id='"sdfootnote10"'>10 HR. Muslim no. 918.</div>
 