
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/74275-hikmah-puasa-bag-1.html">Hikmah Puasa (Bag. 1)</a></strong></p>
<p><em>Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,</em></p>
<h3><strong>SEBAB KETAKWAAN SELAIN PUASA PADA BULAN RAMADAN</strong></h3>
<p>Sebagaimana telah dijelaskan bahwa puasa Ramadan termasuk sebab ketakwaan yang terbesar. Dan sebab-sebab ketakwaan yang lain pada bulan Ramadan -alhamdulillah- itu banyak, di antaranya:</p>
<p><em>Pertama, </em>dibukanya pintu-pintu surga dan tidak satu pun pintu surga yang ditutup. Itu berarti terbuka kesempatan yang luas untuk melakukan banyak amal saleh dan mengandung dorongan yang kuat untuk taat kepada Allah semata.</p>
<p><em>Kedua, </em>ditutupnya pintu-pintu neraka dan tidak satu pun pintu neraka yang dibuka. Ini isyarat bahwa pada bulan Ramadan sedikit kemaksiatan yang dilakukan oleh hamba yang beriman.</p>
<p><em>Ketiga, </em>dibelenggunya dedengkot setan-setan. Ini isyarat tidak adanya alasan bagi mukalaf untuk bermaksiat. Masalahnya lebih kepada berjihad mengendalikan hawa nafsu dan jiwa yang banyak mengajak kepada keburukan karena dedengkot setan telah dibelenggu.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1899) dan Muslim (no. 1079), dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ’anhu</em>,  bahwa sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ </span></p>
<p>“<em>Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan dibelenggu.</em>”</p>
<p>Dalam <em>Shahih Ibnu Khuzaimah rahimahullah</em> terdapat riwayat,</p>
<p style="text-align: center; padding-left: 40px;"><span style="font-size: 21pt;">ﻭﺻﻔﺪﺕ ﻣﺮﺩﺓ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ</span></p>
<p><em>“Dan dibelenggu dedengkot setan-setan”</em></p>
<p>Maksud “<em>maradatusy syayathin</em>” adalah pembesar/dedengkot setan-setan yang membangkang kepada Allah. Oleh karena itu, di antara setan lainnya masih bisa menggoda manusia. <strong><a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></strong></p>
<p><em>Keempat, </em>bulan Ramadan adalah bulan ibadah kepada Allah semata, kaum muslimin secara serentak bersemangat melaksanakan berbagai macam ibadah, berpuasa bersama, salat lima waktu berjemaah bersama, salat tarawih bersama, sahur dan buka pada waktu yang bersamaan, mengeluarkan zakat fitrah bersama, iktikaf bersama, berlomba-lomba baca Al-Qur’an, berbagi makanan buka puasa, dan berbagai ketaatan lainnya. Pemandangan ketaatan ada di mana-mana, di masjid, di rumah, di jalan, di kantor, dan berbagai tempat lainnya.</p>
<p>Tentunya ini menjadi hal yang memudahkan kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah semata karena suasana kebersamaan dalam beribadah kepada Allah semata itu mempengaruhi suasana hati untuk semangat melaksanakan perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya.</p>
<p><em>Kelima, </em>di bulan Ramadan, Allah persiapkan berbagai sebab ampunan Allah. Ini tentunya dorongan kuat seorang hamba untuk bersih dari dosa dengan banyak tobat dan banyak melakukan amalan sebab didapatkannya ampunan Allah.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/17913-aturan-dalam-puasa-sunnah.html">Aturan dalam Puasa Sunnah</a></strong></p>
<h3><strong>SEBAB AMPUNAN ALLAH DAN PENGHAPUSAN DOSA DI BULAN RAMADAN</strong></h3>
<p>Sebab-sebab ampunan Allah di bulan Ramadan adalah:</p>
<h3><strong>Puasa Ramadan</strong></h3>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena beriman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<h3><strong>Antara salat lima waktu, dan antara salat Jumat, jika dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta menghindari dosa besar</strong></h3>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ</span></p>
<p>“<em>Antara salat yang lima waktu, antara (</em><em>salat) </em><em>jumat yang satu dengan (salat) jumat berikutnya, antara (puasa) Ramadan yang satu dan (puasa) Ramadan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa (pelakunya) selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar</em>.” (HR. Muslim)</p>
<h3><strong>Salat tarawih</strong></h3>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan </em><em>salat tarawih </em><a href="#_ftn2" name="_ftnref2"><strong>[2]</strong></a> <em>di bulan </em><em>Ramadan karena beriman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<h3><strong>Salat malam dan ibadah lainnya di malam <em>lailatul qadar</em></strong></h3>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa mengerjakan ibadah pada malam lailatul qadar karena beriman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni</em>.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Maksud “mengerjakan ibadah” di sini adalah ibadah salat, membaca Al-Qur’an, sedekah, doa, dan seluruh ibadah lainnya. <strong><a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></strong></p>
<h3><strong>Tobat kepada Allah<em> Ta’ala</em> semata</strong></h3>
<p>Orang yang tidak bertobat dari dosa disebut dalam Al-Qur’an, surah Al-Hujurat ayat 11, sebagai orang yang zalim. Ini menunjukkan bahwa bertobat itu wajib. Dan bertobat kepada Allah itu penyebab ampunan Allah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah dalam surah Al-Furqan ayat 70,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا</span></p>
<p><em>“Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Mahapengampun, Mahapenyayang.”</em></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">التائب من الذنب كمن لا ذنب له</span></p>
<p><em>“Seorang yang bertaubat seperti orang yang tidak memiliki dosa.”</em> (HR. Ibnu Majah, hadits hasan)</p>
<p>Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pernah menghitung seratus kali dalam satu majelis Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mengucapkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 24pt;">ربِّ اغفر لي، وتُب عليَّ، إنَّكَ أنتَ التَّوَّابُ الرَّحيمُ</span></p>
<p><em>“Ya Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Mahapenerima taubat lagi Yang Mahapenyayang. </em>(HR. Abu Dawud, sahih)</p>
<p>Jika sudah sedemikian lengkapnya sebab-sebab takwa dan sebab ampunan Allah pada bulan Ramadan, maka sungguh sangat merugi orang keluar dari Ramadan tidak bertakwa kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan tidak diampuni dosa-dosanya.</p>
<p>Barangsiapa yang masuk madrasah Ramadan, namun gagal meraih takwa kepada Allah, maka ibarat seorang murid yang masuk sekolah, namun tidak bisa baca dan tulis dan tidak menguasai ilmu yang diajarkan di sekolah tersebut. Maka, haruslah orang yang berpuasa itu berbeda dengan orang yang tidak berpuasa. Orang yang berpuasa lebih mudah melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, mudah bertakwa kepada Allah semata.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/7195-hukum-puasa-sunnah-pada-hari-sabtu.html">Hukum Puasa Sunnah pada Hari Sabtu</a></strong></p>
<h3><strong>Kebaikan-kebaikan menghapus dosa</strong></h3>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ</span></p>
<p><em>“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” </em>(QS. Hud: 114)</p>
<h3><strong>PUASA VVIP</strong></h3>
<p>Ibnu Qudamah <em>rahimahullah </em>dalam ringkasan kitab Ibnul Jauzi <em>rahimahullah </em>yang dinamakan <em>Mukhtashar Minhajil Qashidin </em>(hal. 44), beliau menjelaskan tentang tingkatan puasa,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وللصوم ثلاث مراتب : صوم العموم ، وصوم الخصوص ، وصوم خصوص الخصوص</span></p>
<p><em>“Dan puasa memiliki tiga tingkatan: 1) p</em><em>uasa umum; 2) p</em><em>uasa khusus; dan 3) p</em><em>uasa super khusus.”</em></p>
<p>Beliau pun menjelaskan satu persatu macam-macam puasa tersebut,</p>
<h3><strong>Pertama, puasa orang umum</strong></h3>
<p>Ibnu Qudamah <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فأما صوم العموم : فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة</span></p>
<p><em>“Adapun puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menuruti selera syahwat </em>(baca: menahan diri dari melakukan berbagai pembatal puasa, seperti makan, minum, dan bersetubuh).”</p>
<p>Puasa jenis umum ini jelas sekali diambil dari dalil-dalil tentang adanya pembatal-pembatal puasa.</p>
<h3><strong>Kedua, puasa orang khusus (VIP)</strong></h3>
<p>Ibnu Qudamah <em>rahimahullah </em>melanjutkan penjelasannya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وأما صوم الخصوص : فهو كف النظر ، واللسان ، والرجل ، والسمع ، والبصر ، وسائر الجوارح عن الآثام</span></p>
<p><em>“Dan puasa khusus adalah menahan pandangan, lisan, kaki, pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa.”</em></p>
<p>Puasa jenis khusus ini diambil dari dalil-dalil yang menunjukkan bahwa hakikat disyariatkannya puasa itu untuk sebuah hikmah meraih derajat ketakwaan dan takut kepada Allah. Sehingga dengannya orang yang berpuasa bersih jiwanya dari seluruh kemaksiatan dan menjadi orang yang diridai oleh-Nya.</p>
<p>Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</span></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa (Ramadan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” </em>(QS. Al-Baqarah: 183)</p>
<p>Lihatlah tafsirnya kembali dalam artikel seri sebelumnya.</p>
<h3><strong>Ketiga, puasa super khusus (VVIP)</strong></h3>
<p>Ibnu Qudamah <em>rahimahullah </em>melanjutkan penjelasannya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وأما صوم خصوص الخصوص : فهو صوم القلب عن الهمم الدنية ، والأفكار المبعدة عن الله ـ سبحانه وتعالى ـ ، وكفه عما سوى الله ـ سبحانه وتعالى ـ بالكلية</span></p>
<p><em>“Dan adapun puasa super khusus adalah puasanya hati dari selera yang rendah dan pikiran yang menjauhkan hatinya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menahan hati dari berpaling kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala secara totalitas.”</em></p>
<p>Dalil-dalil tentang jenis puasa khusus yang telah disebutkan di atas dan dalil tentang bahwa baiknya hati adalah asas bagi baiknya anggota tubuh yang lainnya. Sehingga ketakwaan yang asasi adalah ketakwaan hati. Jika hikmah disyariatkannya puasa itu adalah untuk meraih ketakwaan, maka hakikatnya, yang pertama kali tercakup adalah ketakwaan hati. Hal ini karena ketakwaan yang paling mendasar dan paling agung adalah ketakwaan hati.</p>
<h3><strong>Buah puasa yang hakiki</strong></h3>
<p>Demikianlah hakikat puasa yang sempurna itu, ketika seluruh anggota tubuh sama-sama berpuasa. Jika seseorang melakukan ibadah puasa dengan bentuk yang seperti itu, maka akan didapatkan buah-buah manis seperti yang dijelaskan Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah </em>di bawah ini,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فإنْ تكلَّم لم يتكلَّم بما يجرح صومه، وإن فعل لم يفعل ما يفسد صومه، فيخرج كلامه كلُّه نافعًا صالحًا، وكذلك أعماله،</span></p>
<p><em>“Jika ia berbicara, tidaklah mengucapkan ucapan yang menodai puasanya. Dan jika ia berbuat, tidaklah melakukan perbuatan yang merusak puasanya. Hingga keluarlah seluruh ucapannya dalam bentuk ucapan yang bermanfaat lagi baik, demikian pula untuk perbuatannya.”</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فهي بمنزلة الرَّائحة الَّتي يشمُّها من جالس حامل المسك، كذلك من جالس الصَّائم انتفع بمجالسته، وأَمِن فيها من الزُّور والكذب والفجور والظُّلم، هذا هو الصَّوم المشروع لا مجرَّد الإمساك عن الطَّعام والشَّراب</span></p>
<p><em>“Maka ucapan dan perbuatannya tersebut seperti bau harum yang dicium oleh orang yang duduk menemani pembawa minyak wangi misk.</em></p>
<p><em>Demikianlah orang yang menemani orang yang sedang berpuasa (dengan sebenar-benar puasa), niscaya akan mengambil manfaat dari pertemanannya tersebut. Ia akan merasa aman dari ucapan batil, dusta, kefajiran, dan kezaliman.</em></p>
<p><em>Inilah sesungguhnya puasa yang disyariatkan. Ia tidak sekedar menahan dari makan dan minum.” </em>(<em>Shahih Al-Wabilish Shayyib</em>, hal. 54)</p>
<h3><strong>Mengapa bukan hanya makanan dan minuman yang dituntut untuk ditinggalkan saat berpuasa?</strong></h3>
<p>Simaklah penuturan Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah </em>berikut ini,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فالصَّوم هو صوم الجوارح عن الآثام، وصوم البطن عن الشَّراب والطَّعام؛ فكما أنَّ الطَّعام والشَّراب يقطعه ويفسده، فهكذا الآثام تقطع ثوابَه، وتفسدُ ثمرتَه، فتُصَيِّره بمنزلة من لم يصُم</span></p>
<p><em>“Maka, puasa (yang hakiki) adalah puasanya seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa dan puasanya perut dari minuman dan makanan. Sebagaimana makan dan minum itu menentukan sahnya puasa dan merusaknya, maka demikian pula dosa-dosa akan memutuskan pahala puasa dan merusak buahnya, hingga membuatnya menjadi seperti kedudukan orang yang tidak berpuasa.” </em>(<em>Shahih Al-Wabilish Shayyib</em>, hal. 54-55)</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/5472-puasa-sunnah-dalam-setahun.html">Puasa Sunnah dalam Setahun</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/1382-keutamaan-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawwal.html">Keutamaan Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawwal</a></strong></li>
</ul>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukkasyah</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Diintisarikan dari penjelasan Syekh Muqbil <em>rahimahullah.</em></p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Syekh Bin Baz <em>rahimahullah </em>menyatakan waktunya terserah antara habis isya sampai sebelum subuh, bisa semua di awal malam, bisa semua di akhir malam, bisa sebagian di awal, sebagian di akhir malam, dan pada sepuluh hari terakhir <em>afdhol</em>-nya semalam suntuk. (https://binbaz.org.sa/fatwas/11649)</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Sebagaimana dijelaskan Ibnu Baz <em>rahimahullah </em>(http://fatawapedia.com/9403)</p>
 