
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian pasangan suami istri, terutama ketika tidak memiliki keturunan, mereka akan mengambil anak untuk diadopsi. Anak tersebut akan diakui (diklaim) sebagai anaknya, dan sebaliknya, sang anak pun akan mengakui pasangan suami istri tersebut sebagai ayah atau ibunya. Lebih jauh dari itu, bisa jadi suami istri tersebut kemudian membuatkan akta kelahiran bagi sang anak hasil adopsi, dan dicatatkan bahwa anak hasil adopsi tersebut adalah anak kandungnya. Kemudian anak adopsi tersebut dianggap setara dengan anak kandung dari sisi mahram </span><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">ataupun hak mendapatkan warisan.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/11213-sayangilah-anak-yatim-dan-orang-miskin.html" data-darkreader-inline-color="">Sayangilah Anak Yatim dan Orang Miskin!</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Adopsi Anak Budaya Jahiliyyah?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Adopsi anak termasuk di antara adat atau tradisi jahiliyah. Orang-orang jahiliyah dahulu biasa mengadopsi anak, kemudian anak angkat tersebut dianggap sebagaimana anak kandung. Anak angkat tersebut dinasabkan (di-“bin”-kan) kepada bapak angkatnya, tidak dinasabkan kepada bapak kandungnya. Juga dianggap sebagai mahramnya. Misalnya, istri dari anak angkatnya itu tidak boleh dinikahi oleh ayah angkatnya. Dalam masalah warisan, anak angkat juga berhak mendapatkan warisan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah di antara tradisi jahiliyah. Ketika mereka melihat ada seorang anak yang secara fisik membuat mereka tertarik, mereka pun mengklaimnya sebagai anak dan dinasabkan kepada mereka (bapak angkat). Tradisi ini pun pernah dijalani oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai anak angkatnya setelah beliau  </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memerdekakannya dari perbudakan. Setelah diangkat sebagai anak, Zaid pun menyebut dirinya dengan “Zaid bin Muhammad”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لقد كانوا -أيها الإخوة- يدعون الإنسان لمن تبناه، فيأتي إنسان يتبنى شخصاً له أب معروف، فيلغي اسم أبيه، وينسبه إلى نفسه، أو له أب غير معروف فيعطيه اسماً يضيفه إليه، وينسبه إلى نفسه</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai saudaraku, sungguh mereka dahulu memanggil seseorang dengan nama ayah angkatnya. Ada seseorang yang mengangkat orang lain sebagai anak angkatnya, anak itu memiliki ayah kandung yang sudah dikenal. Kemudian (setelah dijadikan sebagai anak angkat), dia tutupi (hilangkan) nama ayah kandungnya, dan dia nasabkan kepada dirinya sendiri. Atau anak itu tidak diketahui siapa ayah kandungnya, kemudian dia beri nama yang dia sandarkan kepada dirinya dan dia nasabkan kepada dirinya.” </span><b>(</b><b><i>Duruus li Syaikh Muhammad Al-Munajjid, </i></b><b>3: 184 [Maktabah Syamilah])</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/8601-keutamaan-menyantuni-anak-yatim.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Menyantuni Anak Yatim</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Islam Berlepas Diri dari Tradisi Jahiliyyah</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Tradisi jahiliyah itu pun kemudian dihapus dalam syariat Islam. Berikut penjelasan dari Al Qur’an dan Sunnah:</span></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Menasabkan Anak Angkat pada Bapak Angkat</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala dengan menurunkan ayat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ ؛ ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا </b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).</span></p>
<p><b>Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka.</b><span style="font-weight: 400;"> Itulah yang lebih adil pada sisi Allah. Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu (hamba sahayamu). Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” </span><b>(QS. Al-Ahzab [33]: 4-5)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala melarang seorang anak angkat dipanggil (dinasabkan) kepada ayah angkat mereka. Dan sungguh karena keimanan Zaid bin Haritsah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau mengatakan setelah turunnya ayat ini, “Saya (bernama) Zaid bin Haritsah.” Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak lagi menyebut dirinya dengan Zaid bin Muhammad. Hal ini menunjukkan tingginya iman para sahabat, sehingga mudah bagi mereka untuk bersegera melaksanakan perintah Allah Ta’ala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Abdullah bin ‘Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَنَّ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ، مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كُنَّا نَدْعُوهُ إِلَّا زَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ حَتَّى نَزَلَ القُرْآنُ، {ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ}</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Zaid bin Haritsah, budak Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dulu, tidaklah kami memanggilnya kecuali dengan nama Zaid bin Muhammad, sampai turun Al-Qur’an (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Ahzab [33]: 5).” </span><b>(HR. Bukhari no. 4782)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47188-hukum-mencium-tangan-kaki-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Mencium Tangan dan Kaki Orang Tua</a></strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Menikahi Mantan Istri dari Anak Angkat</span></strong></h3>
<p>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>menikahi Zainab, setelah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menegaskan dihapusnya tradisi jahiliyah tersebut, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">pun menikahi Zainab binti Jahsy </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha. </span></i><span style="font-weight: 400;">Zainab adalah mantan istri Zaid bin Haritsah. Di masa jahiliyah, menikahi mantan istri anak angkat adalah hal yang tabu (terlarang), karena sekali lagi, anak angkat dianggap sebagai anak kandung sendiri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kisah menikahnya Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan Zainab ini tercantum dalam firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka tatkala Zaid </span><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia (Zainab), supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri dari anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” </span><b>(QS. Al-Ahzab [33]: 37) [3]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وتزوج النبي صلى الله عليه وسلم زينب زوجة زيد ، وكان من أكبر العيوب في الجاهلية، أن يتزوج الإنسان زوجة ابنه بالتبني، فكان تحطيمها بتزويج زينب للنبي عليه الصلاة والسلام، لإزالة تلك العادة الجاهلية، ونسخ ذلك</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menikahi Zainab, (mantan) istri Zaid (bin Haritsah). Pernikahan semacam itu termasuk aib besar dalam tradisi jahiliyyah, yaitu seseorang menikahi istri dari anak angkatnya. Beliau menghapus tradisi itu dengan menikahi Zainab, untuk menghilangkan adat kebiasaan jahiliyah tersebut dan menghapusnya.” </span><b>(</b><b><i>Duruus li Syaikh Muhammad Al-Munajjid, </i></b><b>3: 184 [Maktabah Syamilah])</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44134-kenapa-seseorang-lari-dari-istri-anak-dan-ayah-ibunya-di-hari-kiamat.html" data-darkreader-inline-color="">Kenapa Seseorang Lari dari Anak, Istri, dan Orang Tuanya di Hari Kiamat?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/39028-orang-tua-tidak-pernah-menafkahi-wajibkah-anak-tetap-berbakti.html" data-darkreader-inline-color="">Orang Tua Tidak Pernah Menafkahi, Wajibkah Anak Tetap Berbakti?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 14 Dzulhijjah 1440/15 Agustus 2019</span></p>
<p><b>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Catatan Kaki</b></span></h2>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Misalnya, setelah sang anak perempuan adopsi beranjak dewasa dan mencapai usia baligh, tetap tinggal satu rumah dengan ayah angkat dan tidak menutup aurat ketika berada di rumah.</span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Yaitu Zaid bin Haritsah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu.</span></i></p>
<p><b>[3] </b><span style="font-weight: 400;">Ayat ini menunjukkan keutamaan sahabat Zaid bin Haritsah. Karena beliau adalah satu-satunya sahabat yang disebut namanya secara langsung dalam Al-Qur’an yang dibaca sampai sekarang.</span></p>
 