
<p>Syaikhul Islam mengatakan:</p>
<p class="arab">أن الأصل في كل دم خارج أن يكون حيضا لأن دم الاستحاضة دم عارض لعلة والأصل عدمها</p>
<p>“Hukum asal setiap darah yang keluar dari rahim wanita adalah darah haid. Karena  darah istihadhah adalah darah di luar kebiasaan, yang keluar karena sebab tertentu. Dan hukum asal darah istihadhah itu tidak ada” (<em>Syarhul Umdah</em>, 1/476).</p>
<p>Diantara dalil yang menunjukkan kaidah ini adalah beberapa hadis, diantaranya,</p>
<p>Hadis A’isyah ketika mengisahkan hajinya menyertai Nabi <em>shallallahu ‘alihi wa sallam</em>,</p>
<p>“Kami menuju Mekkah dengan niat haji. Setelah sampai di daerah Saraf (lembah dekat Mekah), saya mengalami haid. Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menemuiku, aku menangis. Beliau betanya: “Mengapa istriku nangis, apa sedang haid?” ‘Ya.’ Jawabku. Kemudian beliau bersabda,</p>
<p class="arab">إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ</p>
<p><em>“Haid merupakan keadaan yang Allah tetapkan untuk anak perempuan Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, selain thawaf di Ka’bah.”</em> (HR. Bukhari 294, Muslim 1211, dan yang lainnya).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebut darah haid yang dialami wanita sebagai kodrat wanita. Artinya itu adalah perkara wajar, dan itulah hukum asal wanita.</p>
<p>Dalam kasus lain, suatu hari datang sahabat wanita, Fatimah bintu Abi Jahsy <em>radhiyallahu ‘anha</em>, menghadap Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>“Ya Rasulullah, saya wanita yang selalu keluar darah (istihadhah), apakah saya harus meninggalkan shalat? ” Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لاَ، إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ، وَلَيْسَ بِحَيْضٍ، فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي</p>
<p><em>“Jangan tinggalkan shalat, darah ini hanyalah darah urat, bukan haid. Jika datang masa haidmu (seperti kebiasaan sebelumnya) maka tinggalkanlah shalat dan jika sudah selesai, cuci bekas darahmu kemdian shalatlah.”</em>  (HR. Bukhari 228, Muslim 333 dan yang lainnya).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebut darah istihadhah sebagai <em>irqun</em>, darah di luar kondisi normal. Karena itu, kita tidak bisa menghukumi darah yang keluar sebagai istihadhah, kecuali ada indikator yang menunjukkan hal itu.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p>***<br>
Muslimah.or.id<br>
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 