
<p>Kami mencoba membahas hukum berobat dengan ekstrak cacing dan memaparkan beberapa pendapat ulama. Dalam masalah fikih perlu berlapang-lapang, saling menghormati pendapat orang lain selama mereka punya <em>hujjah</em> juga dengan penjelasan ulama yang diakui keilmuannya. Kami batasi hanya hukum berobat saja, karena ada hukum lainnya yang terkait yaitu hukum membudidayakan dan menjualnya untuk keperluan lainnya seperti makanan ternak/pakan hewan dan lain-lain</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Cacing termasuk hasyarat</strong></span></h4>
<p>Dalam syariat dikenal istilah hewan hasyarat yaitu hewan-hewan melata kecil yang berada di muka bumi dan cacing termasuk dalam hal ini. Dalam <em>Al-Mu’jam Al-Wasith</em> dijelaskan pengertian hasyarat,</p>
<p dir="rtl" align="right">( الحشرة ) الهامة من هوام الأرض كالخنافس والعقارب والدابة الصغيرة من دواب الأرض كالفئران والضباب و كل كائن يقطع في خلقه ثلاثة أطوار ( يكون بيضة فدودة ففراشة )</p>
<p>“<em>Hasyarat</em> adalah binatang kecil berupa serangga bumi seperti kumbang , kalajengking, melata kecil semisal tikus, kadal/cicak serta semua binantang yang memiliki tiga fase: telur, ulat dan kupu-kupu)”<sup>1</sup></p>
<p>Cacing termasuk dalam <em>hasyarat</em> yaitu binatang kecil yang ada di bumi, karenanya sebagian ulama menjelaskan cacing termasuk <em>hasyarat</em>. Ibnu Hazm berkata,</p>
<p dir="rtl" align="right">لا يحل أكل الحلزون البري، ‏ولاشيء من الحشرات كلها كالوزغ، والخنافس، والنمل، والنحل، والذباب، والدبر، ‏والدود كله</p>
<p>“Tidak halal memakan siput darat, juga tidak halal memakan seseuatupun dari jenis hasyarat, seperti: cicak (masuk juga tokek), kumbang, semut, lebah, lalat, dan semua jenis cacing”<sup>2</sup></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Hukum memakan cacing</strong></span></h4>
<p>Mengenai hukum memakan <em>hasyarat, </em>para ulama berbeda pendapat menjadi dua pendapat:</p>
<h5><strong>1. Pendapat yang mengharamkan</strong></h5>
<p>Salah satu ulama madzhab Syafi’iyah (mayoritas Indonesia) menghukumi haram makan <em>hasyarat</em>. Imam An-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="rtl" align="right">في مذاهب العلماء في حشرات الأرض كالحيات والعقارب والجعلان وبنات وردان والفأرة ونحوها : مذهبنا أنها حرام</p>
<p>“<em>Dalam mazhab ulama Syafi’iyah, hasyaraat bumi (mengenai binatang-binatang kecil ) seperti ular, kalajengking, kumbang/serangga, tikus dan lain-lain, hukumnya adalah haram.”<sup>3</sup></em></p>
<p>Demikian juga pendapat jumhur ulama, dalil mereka:</p>
<ol>
<li>Allah mengharamkan apa yang buruk/<em>khabaits</em> dan hasyarat termasuk dalam hal ini. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,
<p dir="rtl" align="right">وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ</p>
<p><em>“Dan Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” </em>(Al A’raf:157).</p>
<p dir="rtl" align="right">الحشرات من الخبائث تستبعدها الطباع السليمة ،وغير مستطابة</p>
<p>“<em>Binatang-binatang kecil (hasyaraat) termasuk dari khabaits yang dianggap jelek oleh tabiat manusia dan dianggap suatu yang tidak baik (jika dimakan).”<sup>4</sup></em></p>
</li>
<li>
<em>Hasyarat</em> tidak mempunyai cara untuk disembelih agar menjadi halal atau cara untuk membuatnya halal. Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> berkata,
<p dir="rtl" align="right">لا يحل أكل الحلزون البري، ‏ولاشيء من الحشرات كلها كالوزغ، والخنافس، والنمل، والنحل، والذباب، والدبر، ‏والدود كله -طيارة وغير طيارة- والقمل، والبراغيث، والبق، والبعوض وكل ما كان من ‏أنواعها لقول الله تعالى: ( حرمت عليكم الميتة ) وقوله تعالى: ( إلا ما ذكيتم) وقد صح ‏البرهان على أن الذكاة في المقدور عليه لا تكون إلا في الحلق أو الصدر، فما لم يقدر فيه ‏على ذكاة فلا سبيل إلى أكله فهو حرام لامتناع أكله، إلا ميتة غير مذكى</p>
<p>“Tidak halal memakan siput darat, juga tidak halal memakan seseuatupun dari jenis hasyarat, seperti: cicak (masuk juga tokek), kumbang, semut, lebah, lalat, cacing, kutu, nyamuk, dan yang sejenis dengan mereka. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, <em>“Diharamkan untuk kalian bangkai”,</em> dan firman Allah -Ta’ala-,<em> “Kecuali yang kalian sembelih”.</em> Dan telah jelas dalil yang menunjukkan bahwa penyembelihan pada hewan yang bisa dikuasai/dijinakkan, tidaklah teranggap secara syar’i kecuali jika dilakukan pada tenggorokan atau dadanya. Maka semua hewan yang tidak ada cara untuk bisa menyembelihnya, maka tidak ada cara/jalan untuk memakannya, sehingga hukumnya adalah haram karena tidak bisa dimakan, kecuali bangkai yang tidak disembelih (misalnya ikan dan belalang yang halal bangkainya)”.<sup>5</sup></p>
</li>
</ol>
<h5><strong>2. Pendapat yang membolehkan</strong></h5>
<p>Yaitu dari para ulama madzhab Malikiyah, dengan alasan:</p>
<ol>
<li>Hukum asal makanan adalah halal. Selama tidak membahayakan maka <em>hasyarat</em> halal dengan syarat dimatikan terlebih dahulu.
<p dir="rtl" align="right">حِلُّ أصنافها كلها لمن لا تضره. وإليه ذهب المالكية. لكنهم اشترطوا في الحل ‏تذكيتها</p>
<p>“<em>Pendapat yang membolehkan makan hasyaraat semuanya, asalkan tidak membahayakan. Ini adalah pendapat ulama Malikiyah. Akan tetapi mereka mempersyaratkan halalnya dengan cara disembelih/dimatikan.”<sup>6</sup></em></p>
</li>
<li>Terdapat hadits dari Milqab bin Talibb dari ayahnya, bahwa tidak ada pengharaman <em>hasyaraat</em>
<p dir="rtl" align="right">صَحِبْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم فَلَمْ أَسْمَعْ لِحَشَرَةِ الأَرْضِ تَحْرِيمًا</p>
<p>“<em>Aku menemai Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah mendengar haramnya hasyaraat bumi.”<sup>7<br>
</sup></em>Akan tetapi hadits ini <em>dhaif</em> (lemah). Seandainya shahih pun, maka tidak menutup kemungkinan yang lain pernah mendengarkannya mengenai keharamannya.</p>
</li>
</ol>
<h4><span style="color: #ff0000;">Kesimpulan</span></h4>
<ol>
<li>Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai hukum memakan hasyarat</li>
<li>Dalam hal berobat dengan yaitu dengan mengkonsumsi/meminum ekstrak cacing, maka kami memilih pendapat jumhur ulama dan madzhab Syafi’iyah yaitu haram. Dengan pertimbangan:
<ol>
<li>Masih ada metode lainnya untuk berobat selain dengan ekstrak cacing</li>
<li>Lebih berhati-hati agar terlepas dari perselisihan pendapat ulama</li>
</ol>
</li>
<li>Silahkan saja jika ada yang ingin memilih pendapat ulama lainnya seperti pendapat ulama Malikiyah yang membolehkan makan <em>hasyarat</em>, terlebih jika di daerah itu metode ekstrak cacing adalah satu-satunya obat untuk penyakit tersebut. Demikian juga MUI mengeluarkan fatwa bolehnya budidaya cacing dan menjadikan sebagai obat dengan memilih pendapat yang membolehkan<sup>8</sup>
</li>
<li>Perlu diketahui salah satu yang menjadi perselisihan dalam pembahasan hasyarat adalah mengenai “anggapan <em>khabist</em>/jelek”, penilaian khabits bisa berbeda-beda setiap orang. Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa semua hasyaraat khabaits haram kecuali yang dikecualikan oleh dalil. Beliau berkata,
<p dir="rtl" align="right">أكلُ الخبائثِ، وأكلُ الحيَّاتِ والعقاربِ حرامٌ بإجماعِ المسلمينَ</p>
<p>“<em>Memakan khabaits, ular dan kalajengking diharamkan dengan Ijma’ kaum muslimin.”<sup>9</sup></em></p>
</li>
<li>Sekali lagi ini adalah masalah fikih yang kita perlu berlapang-lapang dan menghormati pendapat orang lain selama mereka punya <em>hujjah</em> juga dengan penjelasan ulama yang diakui keilmuannya, jangan sampai bermusuhan dan berpecah belah.</li>
</ol>
<p>Demikian semoga bermanfaat.</p>
<p>***</p>
<p>@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar – Sabalong Samalewa</p>
<p>Penulis: dr. Raehanul Bahraen</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
<p>____</p>
<p>1<sup></sup> Al-Mu’jam Al-Wasith 1/175, syamilah</p>
<p>2<sup></sup> Lihat Al-Muhalla: 7/405</p>
<p>3<sup></sup> Al-Majmu’ 9/17-18</p>
<p>4<sup></sup> Tafsirul Manar 8/145</p>
<p>5<sup></sup> Lihat Al-Muhalla: 7/405</p>
<p>6<sup></sup> Sumber: <a href="http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=8361" target="_blank" rel="noopener">http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=8361</a></p>
<p>7<sup></sup> HR. Abu Dawud dan didhaifkan oleh syaikh Al-Albani dalam Dhaif Sunan Abi Dawud</p>
<p>8<sup></sup> Silahkan lihat di: http://halalmui.org/images/stories/Fatwa/cacing%20dan%20jangkrik.pdf</p>
<p>9<sup></sup> Majmu’ Fatawa 11/609</p>
 