
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak diragukan lagi bahwasanya orang-orang kafir senantiasa melakukan makar kepada kaum Muslimin hingga kaum Muslimin mengikuti agama mereka. Di sisi lain, muamalah dengan orang kafir dalam jual beli dan kerja sama duniawi adalah hal yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kaum Muslimin. Oleh karena itu persoalan boikot produk orang kafir menjadi polemik di tengah masyarakat kaum Muslimin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang semisal dengan itu juga, adalah produk dari orang-orang Muslim yang fasiq, ahli maksiat dan yang terang-terangan mendukung maksiat. Apakah boleh dan perlu diboikot produknya? Kita simak pembahasan ringkas ini.</span></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Hukum memanfaatkan produk orang kafir dan ahli maksiat</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Memanfaatkan produk orang kafir hukum asalnya boleh. Boleh membelinya, menjualnya dan memanfaatkannya. Karena ini adalah masalah muamalah duniawi, sehingga hukum asalnya boleh. Kaidah fiqhiyyah yang ditetapkan para ulama:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الأصل في المعاملات الإباحة حتى يدل الدليل على تحريمه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hukum asal perkara muamalah adalah mubah (boleh), sampai datang dalil yang mengharamkannya”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bermuamalah dengan orang kafir juga dibolehkan di dalam Al Qur’an. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil</span></i><span style="font-weight: 400;">” <strong>(QS. Al Mumtahanah: 8).</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga memanfaatkan produk orang kafir dan bermuamalah bisnis dengan orang kafir. Dari Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم اشتَرى طعامًا من يَهودِيٍّ إلى أجلٍ ، ورهَنه دِرعًا من حديدٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan berhutang, lalu beliau menggadaikan baju perang besinya kepada orang tersebut” <strong>(HR. Bukhari no. 2068).</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">واستأجَرَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وأبو بكر رجلًا مِن بني الدِّيلِ ، هاديًا خِرِّيتًا ، وهو على دينِ كفارِ قريشٍ ، فدفعا إليه راحلتيهما ، وواعداه غارَ ثورٍ بعدَ ثلاثَ ليالٍ ، فأتاهما براحلتَيْهما صبحَ ثلاثٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan Abu Bakar menyewa seorang dari Bani Ad-Dail dari Bani Adi bin Adi sebagai penunjuk jalan, padahal ia ketika itu masih kafir Quraisy. Lalu Nabi dan Abu Bakar menyerahkan unta tunggangannya kepada orang tersebut dan berjanji untuk bertemu di gua Tsaur setelah tiga hari. Lalu orang tersebut pun datang membawa kedua unta tadi pada hari ke tiga pagi-pagi”<strong> (HR. Bukhari no. 2264).</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari dalil-dalil di atas, jelas bahwa hukum asal muamalah duniawi dengan orang kafir itu mubah (boleh), dan tidak boleh mengatakan haram tanpa dalil. Dan tidak boleh mengharamkan apa yang tidak diharamkan oleh Allan dan Rasul-Nya. Ini termasuk berdusta atas nama Allah. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”</span></i><strong> (QS. An Nahl: 116).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentunya, hukum boleh ini bisa berubah menjadi haram ketika terdapat keharaman, seperti menjual produk yang haram semisal: khamr, daging babi, alat musik, dll, atau muamalah dalam maksiat kepada Allah seperti kerjasama transaksi riba, menyewakan rumah untuk pelacuran, dll.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Boikot ketika ada maslahat</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Adanya sikap boikot terhadap produk tertentu dari orang kafir itu muncul karena dinilai adanya maslahat atau dalam rangka memperkecil mudharat bagi kaum Muslimin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seperti produk orang kafir yang produsennya diketahui memiliki peranan dalam menjajah negeri-negeri kaum Muslimin. Sehingga dengan membeli produknya, dikhawatirkan akan memperkokoh aksinya dalam menjajah kaum Muslimin. Atau, produk-produk yang diketahui produsennya pendukung LGBT yang membahayakan masyarakat Islam. Untuk maslahat mempersempit gerakan dukung maksiat tersebut, maka diboikot produknya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana ini pernah dilakukan oleh Tsumamah bin Utsal </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">. Disebutkan dalam hadits,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَبَشَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَهُ أَنْ يَعْتَمِرَ، فَلَمَّا قَدِمَ مَكَّةَ، قَالَ لَهُ قَائِلٌ: صَبَوْتَ، قَالَ: لَا، وَلَكِنْ أَسْلَمْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا وَاللَّهِ لَا يَأْتِيكُمْ مِنْ الْيَمَامَةِ حَبَّةُ حِنْطَةٍ حَتَّى يَأْذَنَ فِيهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberikan kabar gembira kepada Tsumamah dan memerintahkannya untuk melaksanakan umrah. Ketika Tsumamah sampai di Makkah (untuk umrah), ada seseorang yang berkata kepadanya: “Apakah engkau telah murtad (dari agama nenek moyangmu)?”. Tsumamah mengatakan : “Tidak, justru aku telah masuk agama Islam bersama Muhammad Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Demi Allah, engkau tidak akan mendapatkan gandum dari Yamamah (sampai kepada kaum Quraisy), kecuali diizinkan masuk oleh Nabi</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari no.4372, Muslim no.1764).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat lain, Tsumamah mengatakan :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لا يصلكم حبة حنطة من اليمامة حتى يأذن فيها رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Gandum dari Yamamah tidak akan sampai kepada kalian, kecuali diizinkan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">”<strong> (</strong></span><strong><i>Fathul Baari</i>, 8/78).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini diantara dalil yang dijadikan </span><i><span style="font-weight: 400;">hujjah</span></i><span style="font-weight: 400;"> oleh para ulama yang berpendapat bolehnya memboikot produk orang kafir ketika ada maslahah. Asy Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan menjelaskan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ragu lagi bahwa memboikot produk orang kafir (itu disyariatkan). Tsumamah bin Utsal ketika ia masuk Islam bersama Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> ia berkata: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Demi Allah biji-bijian dan gandum tidak boleh sampai kepada kaum Quraisy (kecuali diizinkan Rasulullah)”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menyetujui perbuatan beliau.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka memboikot produk orang kafir dan ahlul bid’ah yang kebid’ahannya berbahaya, ini adalah perkara yang sesuai dengan landasan syari’at.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang mengatakan, “tidak perlu lah kita memboikot produk ini dan itu”, ini perkataan yang kurang tepat. Memang betul, kita tidak boleh sembarangan mengharamkan. Namun sebagai sarana untuk memerangi musuh-musuh Islam, dengan mempersempit bisnis mereka, yaitu dengan memboikot produk mereka, ini adalah perkara yang perkara yang hendaknya dilakukan. Sesuai dengan kemampuan dan selama tidak membahayakan kaum Muslimin” (Sumber: </span><a href="https://www.youtube.com/watch?v=30DkiOhlpJk"><span style="font-weight: 400;">https://www.youtube.com/watch?v=30DkiOhlpJk</span></a><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka juga berdalil dengan ayat:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“S</span><i><span style="font-weight: 400;">aling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah saling tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran</span></i><span style="font-weight: 400;">” <strong>(QS. Al Maidah: 2).</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena memboikot produk orang kafir ketika ada maslahat, ini upaya untuk menolong kaum Muslimin dan menghindarkan diri dari menolong orang kafir dan pelaku maksiat yang ingin berbuat makar kepada kaum Muslimin.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Fatwa para ulama</b></span></h2>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>Fatwa Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di</strong></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau mengatakan:</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Diantara jihad yang paling agung di zaman sekarang adalah mengusahakan kelancaran perekonomian kaum Muslimin dan memberikan kelonggaran-kelonggaran untuk kebutuhan pokok mereka yang sifatnya darurat maupun kebutuhan tambahan. Melonggarkan pekerjaan-pekerjaan mereka, baik usahanya maupun pekerjanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga, diantara jihad yang paling agung adalah memboikot usaha-usaha musuh Islam di sisi hulu (produsen) dan hilir (pasaran). Jangan berikan kelonggaran bagi usaha dagang mereka di pasaran, jangan membuka peluang bagi mereka di pasar kaum Muslimin. Dan hendaknya tidak memberikan peluang bagi mereka untuk menggapai negeri-negeri kaum Muslimin … Bahkan kaum Muslimin tidak butuh kepada hasil-hasil produksi negeri-negeri mereka. Dan kaum Muslimin menginginkan hasil-hasil produksi dari negeri-negeri Muslim”<strong> (Dinukil dari kitab </strong></span><strong><i>Sabilur Rasyad fi Khairil ‘Ibad</i>, karya Syaikh Muhammad Taqiyuddin Al Hilali, halaman 504).</strong></p>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>Fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin</strong></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika ditanya tentang hukum minum minuman kola yang diproduksi oleh perusahan Yahudi, beliau menjawab:</span></p>
<ol>
<li style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ألم يبلغك ان النبي صلى الله عليه وسلم اشترى من اليهودي طعاما لأهله ومات ودرعه مرهونة عند هذا اليهودي؟ ألم يبلغك ان الرسول عليه الصلاة والسلام قَبِلَ الهدية من اليهود؟ ولو اننا قلنا: لا، فات علينا شيء كبير من استعمال سيارات ما يصنعها اليهود واشياء نافعة اخرى لا يصنعها الا اليهود</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidakkah sampai kepada anda bahwa Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> pernah membeli makanan untuk keluarganya, dari orang Yahudi? Dan bahwa beliau meninggal dalam keadaan baju besinya tergadaikan kepada orang Yahudi tersebut? Tidakkah sampai kepada anda bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah menerima hadiah dari orang Yahudi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita mengatakan: kami tidak akan menggunakan produk mereka. Maka kita kan terluput banyak hal yang bermanfaat seperti mobil-mobil, yang hanya dibuat oleh orang-orang Yahudi. Atau akan hilang di tengah-tengah hal-hal yang bermanfaat lainnya yang hanya diproduksi oleh orang-orang Yahudi” <strong>(Sumber: </strong></span><strong><a href="https://www.youtube.com/watch?v=HOclJb86eaQ">https://www.youtube.com/watch?v=HOclJb86eaQ</a> [tidak kami terjemahkan semua]).</strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 14pt;">Fatwa Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika ditanya tentang hukum membeli barang dari orang Syi’ah Rafidhah. Beliau menjawab:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">هذا محل نظر، الشراء من الكفرة جائز والنبي صلى الله عليه وسلم اشترى من اليهود، اشترى منهم ومات ودرعه مرهونة عند يهودي في طعام صلى الله عليه وسلم. لكن يبين لهم عقيدتهم حتى لا يتخذهم اصحاب ولا رفقاء، اما كونه يشتري منهم شيئا اذا دعت الحاجة لشرائه الامر سهل، المقصود الحذر من الموالاة والمحبة أو التساهل معهم أو تمرير اعمالهم والتساهل فيها يبين للناس كفرهم وضلالهم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Masalah ini perlu ditinjau. Membeli barang dari orang kafir hukumnya boleh. Nabi</span><i><span style="font-weight: 400;"> Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> membeli barang dari orang Yahudi. Beliau pernah membeli makanan dari orang Yahudi, dan beliau wafat dalam keadaan besinya tergadaikan kepada orang Yahudi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun hendaknya kita menjelaskan akidah mereka (kepada masyarakat) dan mewanti-wanti masyarakat agar tidak menjadikan mereka sebagai teman dekat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun masalah membeli sesuatu dari mereka, jika memang ada kebutuhan, maka ini perkara yang longgar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang diutamakan adalah mentahdzir mereka agar umat tidak loyal dan cinta kepada mereka, agar tidak berjalan bersama mereka dan bermudah-mudah berinteraksi dengan mereka. Jelaskan kepada masyarakat tentang kekufuran mereka dan kesesatan mereka” (Sumber: </span><a href="http://www.saltaweel.com/articles/118"><span style="font-weight: 400;">http://www.saltaweel.com/articles/118</span></a><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><b>Fatwa Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فلو كان البلغاريون يذبحون هذه الذبائح التي نستوردها منهم ذبحا شرعيا حقيقة ، أنا أقول لا يجوز لنا أن نستوردها منهم بل يجب علينا أن نقاطعهم حتى يتراجعوا عن سفك دماء إخواننا المسلمين هناك ، فسبحان الله مات شعور الأخوة التي وصفها الرسول عليه السلام بأنها كالجسد الواحد : ( مثل المؤمنين في تواددهم وتراحمهم كمثل الجسد الواحد ، إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسحر )</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Andaikan orang-orang Bulgaria menyembelih daging-daging yang kita impor tersebut dengan penyembelihan yang benar-benar syar’i, maka saya katakan, hendaknya kita tidak mengimpornya dari mereka. Bahkan wajib bagi kita untuk memboikot mereka sampai mereka berhenti menumpahkan darah saudara kita kaum Muslimin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Subhanallah! Telah mati rasa persaudaraan yang digambarkan oleh Rasul ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">alaihissalam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa kaum Muslimin itu bagai sebuah jasa, (beliau bersabda): </span><i><span style="font-weight: 400;">“Permisalan orang-orang Mukmin, mereka seperti sebuah jasad, dalam hal kasih sayang dan kecintaan sesama mereka. Jika satu bagian tubuh mengeluhkan sakit, maka bagian tubuh lain ikut merasakan demam dan nyeri”</span></i><span style="font-weight: 400;">”<strong> (</strong></span><strong><i>Silsilah al Huda wan Nur</i>, no. 190).</strong></p>
<h3>Fatwa Syaikh Shalih Al Luhaidan</h3>
<p>Telah kami sebutkan di atas, setelah hadits Tsumamah bin Utsal.</p>
<h3><strong><span style="font-size: 14pt;">Fatwa Asy Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau mengatakan:</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Saya sering katakan bahwa memboikot produk orang kafir itu disyariatkan. Disyariatkan di sini maksudnya sesuai dengan dalil-dalil syar’i. Namun saya tidak mewajibkan boikot, atau dengan kata lain mengatakan bahwa orang tidak melakukannya itu berdosa.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">Saya hanya katakan, saya mendukung boikot. Adapun orang yang tidak ikut memboikot produk ini dan itu, saya tidak bisa katakan ia berdosa atau orang fajir. Kecuali ketika pemerintah menetapkan dilarangnya membeli produk ini dan itu, maka ketika itu saya baru memfatwakan bahwa haram membeli produk ini dan itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun ketika perkaranya longgar dan terbuka, dan kita ada kemungkinan kita memberikan bahaya pada musuh-musuh kita dengan boikot, maka saya katakan, boikotlah mereka! Namun saya tidak bisa memvonis berdosa dan fajir bagi orang yang tidak melakukannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebih lagi, yang mewajibkan untuk memboikot (produk orang kafir) ternyata hanya sebagian produk saja yang bisa diboikot. Sebagian produk mereka ada yang tidak terlalu kita butuhkan maka hendaknya diboikot produk tersebut. Demikian juga sebagian makanan dan minuman. Namun ulama yang mengajak untuk memboikot (produk orang kafir), tentu saja saya yakin bahwa mereka tidak mengatakan wajib untuk memboikot semua (produk orang kafir)” .</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Sumber:</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><a href="https://www.youtube.com/watch?v=oMth3vl-Vo4"><span style="font-weight: 400;">https://www.youtube.com/watch?v=oMth3vl-Vo4</span></a><span style="font-weight: 400;"> [tidak kami terjemahkan semua])</span></p>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><b>Fatwa Asy Syaikh Shalih Al Fauzan</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika ditanya mengenai perkataan sebagian orang melalui media koran mereka mengajak memboikot produk Amerika, dan mengatakan bahwa hukumnya </span><i><span style="font-weight: 400;">fardhu ‘ain</span></i><span style="font-weight: 400;">, ulama Islam semuanya mengajak untuk memboikotnya dan yang tetap membelinya maka ia berbuat dosa besar. Beliau menjawab:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pertama, saya ingin meminta edisi koran yang disebutkan oleh penanya tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, perkataan ini tidak benar. Ulama tidak ada yang memfatwakan haramnya membeli produk Amerika. Dan produk Amerika banyak yang beredar di pasar kaum Muslimin. Dan mereka (Amerika) tidak terkena bahaya jika kita tidak membeli produk-produk mereka. Itu tidak membahayakan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka tidaklah dilakukan pemboikotan kecuali yang ditetapkan oleh waliyul amri. Jika waliyul amri melarang membeli produk dari suatu negara, maka wajib kita melakukan boikot.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun sekedar ajakan dan fatwa dari sebagian orang yang mengharamkan suatu produk, maka ini termasuk mengharamkan apa yang Allah halalkan. Tidak diperbolehkan”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Sumber: </span><a href="https://www.youtube.com/watch?v=oXx0yijA6dE"><span style="font-weight: 400;">https://www.youtube.com/watch?v=oXx0yijA6dE</span></a><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Mengkompromikan fatwa para ulama</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Mungkin sebagian orang mengira bahwa telah terjadi perselisihan pendapat di antara ulama tentang hukum memboikot produk orang kafir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, andai kita cermat memahami fatwa para ulama di atas, sebenarnya bisa kita kompromikan penjelasan mereka dalam beberapa poin:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Menjual dan membeli produk orang kafir atau pelaku maksiat, hukum asalnya halal selama produknya halal.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Ulama sepakat, tidak diperbolehkan menganggap haram sesuatu yang halal dan tidak diharamkan oleh syari’at.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Memboikot produk orang kafir dan pendukung kemaksiatan dengan niat untuk mempersempit gerak musuh-musuh Islam, ini boleh saja. Bahkan termasuk jihad yang utama. Selama niatnya bukan mengharamkan yang halal.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Jika ada ketetapan boikot dari pemerintah, maka wajib melakukan boikot.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Selama tidak ada ketetapan boikot dari pemerintah, tidak boleh memaksa orang lain untuk memboikot dan tidak boleh mencela serta menganggap dosa orang yang tidak ikut memboikot.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Yang berhak memboikot dengan sifat memaksa hanyalah pemerintah.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Memboikot produk orang kafir jangan sampai membuat kaum Muslimin kehilangan banyak manfaat dari produk-produk yang hanya diproduksi oleh orang kafir atau pelaku maksiat.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Memboikot produk orang kafir atau pelaku maksiat, memang tidak bisa menyeluruh, namun dilakukan sesuai kemampuan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Tidak benar pernyataan orang yang mengatakan bahwa yang tidak ikut memboikot dan tetap membeli produk orang kafir adalah orang fajir atau pelaku dosa besar. Selama ulil amri tidak mewajibkan boikot.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Andaikan seseorang membeli produk orang kafir atau ahli maksiat, dan tidak memboikot, maka tetap wajib menjelaskan kekeliruan dan kesesatan mereka.</span></li>
</ol>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam. Wabillahi at taufiq was sadaad.</span></i></p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: Yulian Purnama</strong></p>
<p><strong>Artikel Muslim.or.id</strong></p>
 