
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">بسم الله الرحمان الرحيم<br>
<strong><span style="color: #800000;">السلام عليكم ورحمة الله وبركاته</span></strong><br>
<strong><span style="color: #800000;"> شيخنا حفظكم الله، هل الذُّؤابة من خصائص النبي صلى الله عليه وآله وسلم؟</span></strong></p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>, “Apakah memakai sorban yang berekor adalah salah satu hal yang hanya boleh untuk Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em>?”</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">بسم الله الرحمن الرحيم<br>
ليست الذؤابة في العمامة خاص بالنبي صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Jawaban Syaikh Mahir bin Zhafir al Qahthani, “Sorban yang berekor bukanlah termasuk hal khusus yang hanya boleh dilakukan oleh Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">بل أن لبس النبي صلى الله عليه وسلم للعمامة أصلا لم يكن تعبدا بل لأنه وافق لبس قومه فلايشرع اليوم لبسها تعبدا لأن ذلك حينئذ يكون في مخالفة لمفصد النبي صلى الله عليه وسلم في الباطن وإن كان ذلك موافقا له في الظاهر</p>
<p>Bahkan Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em> memakai sorban sama sekali bukan karena motif mencari pahala dengan memakai sorban namun Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em> sekedar mengikuti model pakaian yang biasa dipakai oleh masyarakat sekelilingnya. Oleh karena itu, pada hari ini tidaklah dituntunkan untuk memakai sorban karena motif ibadah karena adanya motif semacam ini berarti menyelisihi maksud Nabi dalam bersorban meski secara lahiriah telah meneladani Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فمقصود التأسي به أن يكون في الظاهر والباطن وليس في الظاهر وحسب</p>
<p>Yang disebut meneladani atau mengikuti Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em> adalah mengikuti Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em> dari sisi lahiriah dan dari sisi maksud, bukan hanya dari sisi lahiriah semata.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ويدل على ذلك ماجاء في مصنف ابن أبي شيبة أو عبد الزاق أن عمر بن الخطاب رآهم يتتابعون على مكان يصلون فيه فقال ماهذا فقيل له مكان صلى فيه رسول الله عليه وسلم فقال أيها الناس من بدت له صلاة فليصلي ومن لا فلا فإنما أهلك من كان قبلكم اتباعهم آثار أنبيائهم</p>
<p>Dalil dalam masalah ini adalah perkataan Umar bin al Khattab yang diriwayatkan dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah atau Mushannaf Abdurrazzaq. Umar melihat orang berduyun-duyun mendatangi suatu tempat untuk mengerjakan shalat di sana. Beliau lantas bertanya, “Ada kejadian apa?”. Ada yang memberi jawaban, “Itu adalah tempat yang pernah Nabi pergunakan untuk shalat”. Beliau lantas mengatakan, “Wahai sekalian manusia, siapa saja yang bertepatan dengan waktu shalat mana kala dia sedang berada di suatu tempat maka silahkan shalat. Namun jika tidak, terus saja berlalu. Yang menyebabkan binasanya umat sebelum kalian hanyalah karena mereka napak tilas jejak para nabi mereka”.</p>
<p><strong>Sumber</strong>:<br>
http://www.al-sunan.org/vb/showthread.php?t=7804</p>
<p>Artikel <a href="https://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a> </p>
 