
<p>Ketika shalat, disyariatkan untuk membaca doa ta’awudz sebelum membaca Al-Qur’an (surat Al-Fatihah). Doa ta’awudz ini diistilahkan juga dengan doa isti’adzah (doa memohon perlindungan). Tulisan ini akan membahas seputar hukum yang berkaitan dengan bacaan ta’awudz ketika shalat.</p>

<h2>Lafadz-lafadz bacaan ta’awudz</h2>
<p>Terdapat beberapa lafadz untuk doa ta’awudz, yaitu:</p>
<p><b>Pertama, </b>membaca:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ </span></p>
<p>“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”</p>
<p>Imam Asy-Syafi’i, Abu Hanifah, dan mayoritas ahli qira’ah menilai bahwa lafadz inilah yang paling afdhal berdasarkan surat An-Nahl ayat 98,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</span></p>
<p>“Apabila kamu membaca Al-Qur’an, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” <b>(QS. An-Nahl [16]: 98)</b></p>
<p><b>Kedua, </b>membaca:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ </span></p>
<p>“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar dan Maha mengetahui dari setan yang terkutuk.”</p>
<p>Imam Ahmad, Al-A’masy, Al-Hasan bin Shalih, Nafi’, Ibnu ‘Amir dan Al-Kisai <i>rahimahumullahu Ta’ala </i>menilai bahwa lafadz inilah yang paling afdhal.</p>
<p><b>Ketiga, </b>membaca:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</span></p>
<p>“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar dan Maha mengetahui dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha mendengar dan Maha mengetahui.”</p>
<p>Lafadz ini diriwayatkan dari Al-Hasan dan Ats-Tsauri, berdasarkan firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</span></p>
<p>“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” <b>(QS. Fushilat [41]: 36)</b></p>
<p><b>Keempat, </b>membaca:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَستعيذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</span></p>
<p>“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”</p>
<p>Lafadz ini dipilih oleh Ibnu Sirin dan Hamzah Az-Zayyaat.</p>
<p><b>Kelima, </b>membaca:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ</span></p>
<p>“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar dan Maha mengetahui dari setan yang terkutuk, dari gangguannya, dari tiupannya dan dari semburannya.”</p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi berkata, “Setiap lafadz tersebut memiliki atsar (riwayatnya), sehingga perkara ini longgar (boleh memilih mana saja, pent.).”</p>
<p>Lihat pembahasan lafadz-lafadz di atas dalam <b><i>Shifat Shalat Nabi </i></b>(hal. 89-90), karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi dan <b><i>Shahih Fiqh Sunnah </i></b>(1: 332), karya Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.</p>
<h2>Hukum membaca doa ta’awudz</h2>
<p>Para ulama berselisih pendapat tentang hukum membaca ta’awudz ketika shalat. Jumhur (mayoritas) ulama menyatakan bahwa hukumnya adalah <b>sunnah</b> (dianjurkan). Di antara ulama kontemporer yang berpendapat bahwa hukumnya sunnah adalah Syaikh Masyhur Hasan Salman <b>(</b><b><i>Al-Qaulul Mubiin, </i></b><b>hal. 109).</b></p>
<p>Sebagian ulama yang lain, di antaranya adalah ‘Atha’, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’i, dan Ibnu Hazm <i>rahimahumullahu Ta’ala,</i> menyatakan bahwa hukum membacanya adalah <b>wajib. (</b><b><i>Shahih Fiqh Sunnah, </i></b><b>1: 331)</b></p>
<p>Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</span></p>
<p>“Apabila kamu membaca Al-Qur’an, <b>mintalah perlindungan</b> kepada Allah dari setan yang terkutuk.” <b>(QS. An-Nahl [16]: 98)</b></p>
<p>Ayat di atas menunjukkan perintah untuk meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala ketika hendak membaca Al-Qur’an. Dan sebagaimana kita ketahui dalam ilmu ushul fiqh bahwa hukum asal perintah adalah wajib.</p>
<p>Dari dua pendapat di atas, pendapat yang lebih tepat adalah pendapat jumhur ulama yang menyatakan sunnah. Hal ini karena terdapat dalil yang memalingkan perintah Allah Ta’ala dalam surat An-Nahl ayat 98 dari hukum asal wajib menjadi sunnah (dianjurkan).</p>
<p>Diriwayatkan dari Anas <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, dia berkata, “Suatu ketika Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> berada di tengah-tengah kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa Engkau tertawa, wahai Rasulullah?”</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mengatakan, “Baru saja turun kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَر</span></p>
<p>“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al-Kautsar: 1-3).” <b>(HR. Muslim no. 400)</b></p>
<p>Dalam kisah turunnya surat Al-Kautsar di atas, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>membaca surat Al-Kautsar tanpa membaca ta’awudz terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa hukum membaca ta’awudz sebelum membaca Al-Qur’an tidak sampai derajat wajib. <i>Wallahu Ta’ala a’lam.</i></p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi <i>hafidzahullahu Ta’ala </i>berkata, “Yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan sunnah.” <b>(</b><b><i>Shifat Shalat Nabi, </i></b><b>hal. 90)</b></p>
<h2>Membaca doa ta’awudz dengan lirih</h2>
<p>Hukum asal membaca doa ta’awudz adalah dibaca dengan suara lirih <i>(sirr)</i>. Hal ini karena tidak pernah dikabarkan dari Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bahwa beliau membaca doa tersebut dengan keras <i>(jahr)</i>. Demikian pula, tidak terdapat riwayat dari para <i>khulafaur rasyidin</i> bahwa mereka mengeraskan bacaan doa tersebut ketika shalat.</p>
<p>Akan tetapi, diperbolehkan bagi imam untuk sesekali mengeraskan bacaan tersebut dalam rangka memberikan contoh atau pengajaran kepada para makmum. <b>(</b><b><i>Shahih Fiqh Sunnah, </i></b><b>1: 332)</b></p>
<h2>Apakah bacaan ta’awudz disyariatkan untuk dibaca di setiap raka’at?</h2>
<p>Mayoritas ulama berpendapat bahwa doa ta’awudz cukup dibaca di raka’at pertama, dan tidak perlu diulang di raka’at-raka’at berikutnya. Sedangkan para ulama yang lainnya menganjurkan untuk membaca doa ta’awudz di setiap raka’at sebelum membaca Al-Qur’an.</p>
<p>Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim berkata, “Sisi pendalilan (dianjurkannya membaca setiap raka’at) adalah bahwa ayat di atas menunjukkan (menuntut) diulangnya doa ta’awudz setiap kali mengulang bacaan Al-Qur’an. Ketika terdapat jeda (pemisah) antara dua bacaan Al-Qur’an (antara rakaat pertama, ke dua, dan seterusnya, pent.) dengan ruku’, sujud, dan semisalnya, maka disyariatkan untuk membaca doa ta’awudz.” <b>(</b><b><i>Shahih Fiqh Sunnah, </i></b><b>1: 332)</b></p>
<p>Syaikh Masyhur Hasan Salman <i>hafidzahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p>“Yang tampak (baca: dzahir) adalah disyariatkannya membaca doa isti’adzah di setiap raka’at, berdasarkan cakupan makna umum dari firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</span></p>
<p>“Apabila kamu membaca Al-Qur’an, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” <b>(QS. An-Nahl [16]: 98)</b></p>
<p>Inilah pendapat terkuat dalam madzhab Syafi’iyyah dan dikuatkan oleh Ibnu Hazm.” <b>(</b><b><i>Al-Qaulul Mubiin, </i></b><b>hal. 109)</b></p>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/29551-fawaid-seputar-basmalah.html" target="_blank" rel="noopener">Fawaid Seputar Bacaan Basmalah</a></strong></em></p></blockquote>
<p><b>—</b></p>
<p>@Rumah Lendah, 4 Jumadil akhir 1440/ 9 Februari 2018</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://acadstaff.ugm.ac.id/msaifudinhakim" target="_blank" rel="noopener">M. Saifudin Hakim</a></strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
<p>—</p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><b><i>Al-Qaulul Mubiin fi Akhtaa’i Al-Mushalliin, </i></b>karya Syaikh Masyhur Hasan Salman, penerbit Daar Ibnu Hazm dan Daar Ibnul Qayyim, cetakan ke empat tahun 1416.</p>
<p><b><i>Shahih Fiqh Sunnah, </i></b>karya Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, penerbit Maktabah At-Tauqifiyyah.</p>
<p><b><i>Shifat Shalat Nabi, </i></b>karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, cetakan ke tujuh tahun 1439.</p>
 