
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah  meminta syarat jaminan keamanan modal dalam akad mudharabah? Sehingga  ketika proyek usaha gagal, dia wajib mengembalikan modal dan keuntungan  yg pernah didapat?</p>
<p>Semoga Allah memberikan taufiq…</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Jawaban Syaikh Dr. Sa’d Al-Khatslan</p>
<p class="arab">لايصح اشتراط ضمان رأس المال ولا اشتراط نسبة مقطوعة من الأرباح ؛ لأن هذا يحولها من كونها مضاربة إلى قرض بفائدة وهو محرم</p>
<p>Tidak  sah mengajukan syarat adanya penjaminan untuk modal, tidak pula syarat  untuk keuntungan yang didapatkan. Karena persyaratan semacam ini akan  mengubah status transaksi mudaharabah menjadi transaksi utang dengan  bunga, dan itu haram.</p>
<p class="arab">وإنما الجائز هو اشتراط نسبة  مشاعة من الأربح (كالربع أو الثلث مثلا أو بالنسبة المئوية 18%أو30% مثلا  )، وفي حال الخسارة لايضمن المضارب شيئا لأنه قد خسر جهده ، والخسارة إنما  تكون على رب المال</p>
<p>Yang dibolehkan adalah mempersyaratkan nisbah  pembagian keuntungan (misal: 1/4 atau 1/3 atau berdasarkan prosentase:  18 %, atau 30 %).</p>
<p>Kemudian, jika terjadi kerugian, pelaku usaha  (mudharib) tidak menanggung modal sedikitpun. Karena dia juga sudah rugi  dengan kerja yang dia lakukan. Sehingga kerugaian finansial ditanggung  pemilik modal.</p>
<p>Sumber: <em>http://www.saad-alkthlan.com/text-91</em></p>
<p><strong>Artikel www.PengusahaMuslim.com</strong></p>
 