
<p>Bahan kulit untuk pembuatan tas, jaket, sepatu, dan aksesoris, serta berbagai perlengkapan banyak ditemui di sekitar kita. Secara umum, bahan kulit hewan berdasarkan dari mana asalnya terbagi menjadi tiga macam:</p>
<ol>
<li>Kulit hewan yang halal dimakan dan bukan bangkai (mati dengan cara tidak disembelih).</li>
<li>Kulit hewan halal dimakan dan sudah menjadi bangkai.</li>
<li>Kulit hewan yang haram dimakan.</li>
</ol>
<p>Boleh dan tidaknya digunakan tergantung dari mana asalnya. Mari kita ulas satu persatu-satu.</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kulit hewan yang halal dimakan dan bukan bangkai (mati dengan cara disembelih)</strong></span></h2>
<p>Contohnya, seperti kulit kambing, sapi, dan binatang halal lainnya.</p>
<p>Kulit hewan jenis ini, tidak membutuhkan kajian panjang, ia halal dan suci dipergunakan. Sebagaimana daging hewannya halal, maka kulit yang menjadi bagian dari hewan tersebut pun menjadi halal dan suci.</p>
<p>Dalilnya hadis Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">دباغها ذكاتها</span></p>
<p>“Samaknya kulit hewan yang halal dimakan adalah proses sembelihnya’’ (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh <em>Syaikh</em> Al-Albani dalam <em>Ghoyatul Murom</em>).</p>
<p>Proses samak adalah syarat agar kulit hewan yang najis menjadi suci. Khusus hewan yang mati tidak sebagai bangkai dan tergolong yang halal dimakan, maka samak ini sudah terganti dengan proses meyembelih yang sesuai syariat. Sehingga begitu hewan disembelih, kulitnya otomatis menjadi halal dan suci. Tanpa harus melalui proses samak yang kita kenal.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/61440-mencampur-pakaian-najis-dengan-pakaian-lain-ketika-mencuci.html" data-darkreader-inline-color="">Mencampur Pakaian Najis dengan Pakaian Lain Ketika Mencuci</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kulit hewan halal dimakan dan sudah menjadi bangkai</strong></span></h2>
<p>Suatu hari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat seorang menyeret kambingnya yang sudah mati, lalu bertanya kepada Sang Tuan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">هلا أخذتم إهابها</span></p>
<p>“Alangkah baik jika Anda manfaatkan kulitnya.”</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إنها ميتة</span></p>
<p>“Ini kulit bangkai, ya Rasulullah.” Jawab tuan sang pemilik kambing.</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يطهره الماء والقرض</span></p>
<p>“Bisa disucikan dengan air dan dedaunan untuk menyamak” (HR. Abu Dawud, dinilai sahih oleh <em>Syaikh</em> Al-Albani dalam <em>Shilshilah As-Ashahihah</em> no. 2163).</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa kulit bangkai yang awalnya najis, bisa menjadi suci jika disamak. Sehingga boleh dijadikan jaket, tas, sepatu, dompet, dan lain sebagainya. Begitu pun suci dipakai ketika salat.</p>
<p>Sebagaimana keterangan dalam kitab <em>Bidayatul Faqih</em> (ringkasan <em>Syarah Al-Mumti’</em> karya <em>Syaikh</em> Ibnu ‘Utsaimin <em>Rahimahullah</em>) berikut,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فإذا دبغ الجلد فصار طاهرا وأبيح استعماله في الرطب واليابس</span></p>
<p>“Jika kulit bangkai telah disamak, maka ia berubah menjadi suci dan halal dipergunakan baik saat basah maupun kering” <strong>(<em>Bidayatul Faqih</em> hal.</strong> <strong>17).</strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kulit hewan yang haram dimakan</strong></span></h2>
<p>Seperti kulit babi, anjing, ular dan binatang buas lainnya, maka tidak suci digunakan meskipun sudah disamak. Dalilnya adalah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang telah kami sebut di atas,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">دباغها ذكاتها</span></p>
<p>“Samaknya kulit hewan yang halal dimakan adalah proses sembelihnya” (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh <em>Syaikh</em> Al-Albani dalam <em>Ghoyatul Murom</em>).</p>
<p>Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> mennyebut hewan yang kulitnya halal dan suci dipergunakan, dengan sebutan ذكاة <em>dzakaah,</em> yang artinya sembelihan. Kita ketahui bersama bahwa <em>dzakaah</em> hanya dapat menjadikan halal dan suci hewan-hewan yang dagingnya halal, seperti kambing, sapi, dan lain sebagainya. Tidak dapat menghalalkan hewan yang haram, seperti babi dan anjing. Ini menunjukkan bahwa kulit hewan yang haram dimakan, tidak halal dan suci meskipun telah disembelih atau disamak.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/58739-pakaian-yang-utama-adalah-mengikuti-kebiasaan-masyarakat.html" data-darkreader-inline-color="">Pakaian yang Utama Adalah Mengikuti Kebiasaan Masyarakat </a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57393-hukum-memakai-pakaian-berwarna-merah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Memakai Pakaian Berwarna Merah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><em>Wallahu a’lam bis showab</em>.</p>
<p><strong>Ditulis oleh: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/aanshori" data-darkreader-inline-color="">Ahmad Anshori</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi</strong>:</p>
<p><strong><em>Bidayatul Faqih,</em></strong> karya Dr. Salim Al-Ajmi, penerbit Maktabah Ahlul Atsar.</p>
<p> </p>
 