
<p>Ketika ada yang meninggal dari kaum Muslimin, terkadang kematiannya diumumkan kepada banyak orang. Ini disebut dengan <em>an na’yu</em>. Bagaimana hukum <em>an na’yu </em>dalam Islam?</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Definisi <em>an na’yu</em></strong></span></h2>
<p><em>An na’yu </em>artinya mengumumkan kematian seseorang. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Atsir, beliau <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">نعى الميت إذا أذاع موته ، وأخبر به ، وإذا ندبه</span></p>
<p>“<em>Na’al mayyit</em> artinya diumumkan kematiannya, dikabarkan kepada orang-orang, dan memotivasi orang-orang untuk bertakziah” (<em>An Nihayah fi Gharibil Hadits</em>, 5: 85).</p>
<p>Umumnya, <em>an na’yu </em>disertai dengan <em>nida’</em> (panggilan dengan suara yang keras). Oleh karena itu, At Tirmidzi <em>rahimahullah</em> mendefinisikan <em>an na’yu</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">والنعي عندهم أن ينادى في الناس أن فلاناً مات ليشهدوا جنازته</span></p>
<p>“<em>An na’yu</em> menurut para ulama adalah mengumumkan dengan suara yang keras kepada orang-orang bahwa si <em>fulan</em> telah meninggal dan diajak untuk menghadiri pemakamannya” (<em>Jami’ At Tirmidzi</em>, hal. 239).</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hukum <em>an na’yu</em></strong></span></h2>
<p><em>An na’yu</em> ada yang tercela dan ada yang dibolehkan. Para ulama merinci antara <em>an na’yu </em>yang disertai <em>nida</em>‘ (panggilan dengan suara keras) dengan tanpa disertai <em>nida’</em>.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Pertama: <em>an na’yu</em> jika disertai <em>nida’</em></strong></span></h3>
<p>Ulama empat mazhab sepakat bahwa <em>an na’yu</em> jika disertai <em>nida’,</em> hukumnya makruh dan merupakan perbuatan yang tercela, walaupun mereka berbeda dalam rinciannya. Di antara dalilnya adalah perkataan Hudzaifah Ibnul Yaman <em>Radhiallahu’ anhuma</em>, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إذا مِتُّ فلا تُؤذِنوا بي؛ إنِّي أخافُ أن يكون نَعْيًا؛ فإنِّي سَمِعْتُ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلَّم يَنْهَى عن النَّعْيِ</span></p>
<p>“Jika aku meninggal, maka janganlah kalian mengganggu aku (dengan mengumumkan kematianku), karena aku khawatir itu termasuk <em>na’yu</em>. Aku mendengar Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> melarang <em>an na’yu</em>” (HR. At Tirmidzi no. 986, Ibnu Majah no. 1476, Ahmad no. 23502, dihasankan Al Albani dalam <em>Shahih At Tirmidzi</em>).</p>
<p>Dan alasan terlarangnya <em>an na’yu</em> adalah karena menyerupai perbuatan orang-orang Jahiliyah terdahulu. Sedangkan Nabi <em>Shallallahu ’alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</span></p>
<p>“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum itu” (HR. Abu Daud no. 4033, Ahmad no. 5232, disahihkan Al Albani dalam <em>Irwa’ul Ghalil</em> no. 1269).</p>
<p>Bagaimana bentuk <em>an na’yu </em>yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah terdahulu? Yaitu <em>an na’yu</em> yang disertai <em>nida’</em> (seruan dengan suara keras), <em>tanwih </em>(memuji-muji berlebihan), dan <em>tafkhim</em> (membesar-besarkan nama si mayit). Sebagaimana dijelaskan Ibnu Abidin, ulama Hanafiyah, beliau <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وكره بعضهم أن ينادى عليه في الأزقة والأسواق لأنه يشبه نعي الجاهلية والأصح أنه لا يكره إذا لم يكن معه تنويه بذكره وتفخيم</span></p>
<p>“Sebagian ulama memakruhkan <em>an na’yu</em>, jika disertai dengan seruan yang keras di gang-gang dan di pasar-pasar. Karena ini menyerupai perbuatan kaum Jahiliyah. Namun yang lebih tepat, <em>an na’yu</em> tidak dimakruhkan jika tidak disertai <em>tanwih </em>(memuji-muji berlebihan) terhadap mayit dan <em>tafkhim</em> (membesar-besarkan nama si mayit)” (<em>Hasyiah Ibnu Abidin</em>, 2: 239).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/66507-kematian-pasti-datang.html" data-darkreader-inline-color="">Kematian Pasti Datang</a></strong></p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah</em>, ulama besar Syafi’iyah, mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اِسْتِحْبَاب الإِعْلام بِالْمَيِّتِ لا عَلَى صُورَة نَعْي الْجَاهِلِيَّة , بَلْ مُجَرَّد إِعْلَام للصَّلَاة عَلَيْهِ وَتَشْيِيعه وَقَضَاء حَقّه فِي ذَلِكَ , وَاَلَّذِي جَاءَ مِنْ النَّهْي عَنْ النَّعْي لَيْسَ الْمُرَاد بِهِ هَذَا , وَإِنَّمَا الْمُرَاد نَعْي الْجَاهِلِيَّة الْمُشْتَمِل عَلَى ذِكْر الْمَفَاخِر وَغَيْرهَا</span></p>
<p>“Dianjurkan mengumumkan kematian jika bukan dengan cara kaum Jahiliyah. Namun sekedar mengumumkan agar bisa menghadiri salat jenazah, memberitahukan info kepada orang lain, dan untuk menunaikan hak mayit. <em>An na’yu </em>yang dilarang oleh Nabi bukanlah <em>an na’yu</em> dengan tujuan ini, namun <em>an na’yu</em> ala kaum Jahiliyah yang disertai dengan menyebutkan pujian-pujian berlebihan terhadap mayit dan menyebutkan perkara lainnya” (<em>Syarah Shahih Muslim</em>, 7: 21).</p>
<p>Ringkasnya, sebagian ulama memakruhkan <em>an na’yu</em> secara mutlak jika disertai <em>nida’</em>. Dan sebagian ulama merinci, bahwa yang makruh adalah jika disertai <em>tanwih </em>(memuji-muji berlebihan) dan <em>tafkhim</em> (membesar-besarkan nama si mayit).</p>
<p>Yang <em>rajih</em> adalah pendapat kedua, bahwa boleh <em>an na’yu</em> disertai <em>nida’</em> jika tidak disertai <em>tanwih </em>dan <em>tafkhim</em>. Syekh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah </em>ketika ditanya, “Bolehkan mengumumkan kematian seseorang di koran?” Beliau <em>rahimahullah </em>menjawab,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">لا نعلم فيه شيئًا، من باب الخبر</span></p>
<p>“Kami memandang perbuatan tersebut tidak mengapa. Karena perbuatan demikian termasuk kebaikan” (<em>Masail Al Imam Ibni Baz</em>, no. 295, hal. 108).</p>
<p>Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">الإعلان عن موت الميت : فإن كان لمصلحة مثل أن يكون الميت واسع المعاملة مع الناس بين أخذ وإعطاء ، وأعلن موته لعل أحداً يكون له حق عليه فيقضى أو نحو ذلك : فلا بأس</span></p>
<p>“Mengumumkan kematian seseorang yang sudah meninggal, jika dilakukan untuk suatu maslahat, semisal jika si mayit tersebut muamalahnya luas di tengah masyarakat, sering melakukan transaksi, lalu diumumkan kematiannya karena bisa jadi ada seseorang yang haknya belum ditunaikan oleh si mayit, sehingga dengan diumumkan, hak tersebut bisa ditunaikan, atau maslahat yang semisalnya, ini hukumnya tidak mengapa” (<em>Majmu’ Fatawa war Rasail</em>, 17: 461).</p>
<p>Syekh Abdullah bin Jibrin <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">لا بأس بنشر الخبر عن وفاة بعض الأشخاص المشهورين بالخير والصلاح ، ليحصل الترحم عليهم والدعاء لهم من المسلمين ، ولكن لا يجوز مدحهم بما ليس فيهم ، فإنَّ ذلك كذب صريح</span></p>
<p>“Tidak mengapa menyebarkan berita kematian sebagian orang yang dikenal sebagai orang baik dan salih. Agar ia didoakan rahmat oleh kaum Muslimin serta didoakan kebaikan. Akan tetapi, tidak boleh memuji orang tersebut secara berlebihan dengan sifat-sifat yang tidak ada pada dirinya, karena ini merupakan bentuk dusta yang nyata” (<em>Fatawa Islamiyah</em>, 2: 106).</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Kedua: <em>an na’yu</em> jika tanpa disertai nida’</strong></span></h3>
<p>Adapun <em>an na’yu</em> tanpa disertai <em>nida’</em>, maka ulama empat mazhab sepakat akan bolehnya. Bahkan dinukil ijmak akan hal ini. Karena Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pun melakukan <em>an na’yu</em> dengan model ini. Di antara dalilnya adalah hadis dari Abu Hurairah <em>Radhiallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم نعى النَّجاشيَّ في اليومِ الذي مات فيه؛ خَرَجَ إلى المُصلَّى، فصَفَّ بهم، وكَبَّرَ أربعًا</span></p>
<p>“Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> melakukan <em>an </em><em>na’yu</em> terhadap wafatnya an-Najasyi di hari ia wafat. Beliau lalu keluar menuju lapangan dan membariskan para sahabat dalam saf, kemudian bertakbir 4 kali” (HR. Bukhari no. 1245 dan Muslim no. 951).</p>
<p>Juga hadis dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أنَّ رجلًا أسودَ- أو امرأةً سوداءَ- كان يقمُّ  المسجِدَ فمات، فسألَ النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم عنه، فقالوا: مات، قال: أفلا كُنْتُم آذنْتُموني به، دُلُّوني على قبره- أو قال قبرِها- فأتى قبْرَها فصلَّى عليها</span></p>
<p>“Ada seorang lelaki (atau wanita) berkulit hitam yang biasa menyapu masjid. Dan Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bertanya tentang orang tersebut. Orang-orang menjawab bahwa orang tersebut sudah meninggal. Nabi berkata, ‘Mengapa kalian tidak mengabarkan kepadaku? Kabarkan kepadaku di mana kuburnya!’ Kemudian Nabi pun mendatangi kubur orang tersebut” (HR. Bukhari no. 458 dan Muslim no. 956).</p>
<p>Perkataan Nabi <em>“mengapa kalian tidak mengabarkan kepadaku?”</em> menunjukkan bolehnya dan tidak tercelanya mengabarkan kematian seseorang tanpa <em>nida’</em>.</p>
<p>Ibnu Hajar al Asqalani <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">النَّعْي لَيْسَ مَمْنُوعًا كُلّه , وَإِنَّمَا نُهِيَ عَمَّا كَانَ أَهْل الْجَاهِلِيَّة يَصْنَعُونَهُ فَكَانُوا يُرْسِلُونَ مَنْ يُعْلِن بِخَبَرِ مَوْت الْمَيِّت عَلَى أَبْوَاب الدُّور وَالأَسْوَاق</span></p>
<p>“<em>An na’yu</em> tidak terlarang semuanya. Yang dilarang adalah jika serupa dengan yang dilakukan kaum Jahiliyah. Mereka mengutus orang untuk mengumumkan dengan suara keras tentang kematian seseorang, ke rumah-rumah, gang-gang, dan pasar-pasar” (<em>Fathul Bari</em>, 3: 117).</p>
<p>Al Buhuti <em>rahimahullah</em>, ulama Hanabilah, mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قالوا: لا بأسَ أن يُعْلِمَ به أقاربَه وإخوانَه من غير نداءٍ</span></p>
<p>“Para ulama Hanabilah berkata: tidak mengapa melakukan <em>an </em><em>na’yu</em> atas kematian kerabat dan saudara, tanpa melakukan <em>nida’</em>” (<em>Kasyful Qana’</em>, 2: 85).</p>
<p>Bahkan dinukil ijmak akan bolehnya <em>an na’yu</em> jika tanpa <em>nida’</em>. Ibnu Rusyd Al Jadd <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وأمَّا الإِذْنُ بها، والإعلامُ من غير نداءٍ، فذلك جائزٌ بإجماعٍ</span></p>
<p>“Adapun jika <em>an na’yu</em> sudah atas izin keluarga, dan diumumkan tanpa disertai <em>nida’</em>, maka hukumnya boleh berdasarkan ijmak” (<em>Al Bayan wat Tahshil</em>, 2: 218).</p>
<p>Al Mawwaq <em>rahimahullah </em>juga mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وأمَّا الأذانُ والإعلامُ مِن غير نداءٍ؛ فذلك جائزٌ بإجماع</span></p>
<p>“Adapun memanggil orang-orang dan mengumumkan kematian tanpa disertai <em>nida’</em>, ini hukumnya boleh berdasarkan ijmak ulama” (<em>At Taj wal Iklil</em>, 2: 241).</p>
<p>Ringkasnya, <em>an na’yu</em> jika tanpa disertai <em>nida’</em>, maka hukumnya boleh tanpa <em>khilaf</em> ulama. <em>Wallahu a’lam</em>. Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberi taufik.</p>
<p><strong>***</strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>Mausu’ah Fiqhiyyah Duraris Saniyyah </em>dengan beberapa tambahan.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/43190-hukum-berdoa-mengharapkan-kematian.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Berdoa Mengharapkan Kematian</a></strong></span></li>
<li><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/42113-menyia-nyiakan-waktu-lebih-berbahaya-dari-kematian.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Menyia-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian</strong></a></li>
</ul>
</div>
<p> </p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color=""> Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000;">Muslim.or.id</span></a></strong></p>
 