
<p>Bagaimana hukum menjawab salam saat sujud? Berikut fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus. Semoga bermanfaat. Barakallahu fiikum.</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: left;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus</strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></h3>
<p>Bagaimana cara menjawab orang yang mengucapkan salam waktu kita sedang salat tepat pada saat melakukan sujud? Apabila tidak memungkinkan, apakah sebaiknya salam tersebut tidak perlu diucapkan?</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Jawaban:</strong></span></h3>
<p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Rabbul ‘Alamin</em>, selawat dan salam atas utusan Allah <em>rahmatan lil alamin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa ikhwanihi ila yaumiddin</em>, <em>amma Ba’du</em>.</p>
<p>Menjawab salam meskipun ketika sedang salat hukumnya tetap wajib. Karena menjawab perkataan adalah wajib secara <em>kifayah</em> selama belum ada keterangan (dalil) (yang membolehkan tidak menjawab salam ketika salat -pen.). Namun ketika ada uzur untuk menjawab salam dalam salat sebagaimana Sabda Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّ اللهَ يُحْدِثُ مِنْ أَمْرِهِ مَا يَشَاءُ، وَإِنَّ اللهَ جَلَّ وَعَزَّ قَدْ أَحْدَثَ مِنْ أَمْرِهِ أَنْ لاَ تَكَلَّمُوا فِي الصَّلاَةِ</span></p>
<p>“Allah menetapkan perintah-Nya sesuai kehendak-Nya, dan Allah <em>Jalla wa ‘Azza</em> telah menetapkan perintah-Nya yaitu janganlah kamu berbicara ketika sedang salat” [1].</p>
<p>Maka ucapan salam tersebut mesti dijawab baik dengan isyarat tangan, kepala, maupun dengan jemari. Allah <em>Ta’ala</em> telah menjadikan isyarat tersebut sebagai pengganti jawaban salam. Pendapat ini lebih mendekati kebenaran sesuai dengan dalil sebagaimana hadis ‘Abdullah Ibnu ‘Umar <em>Radhiallahu ‘anhu</em> yang berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قُبَاءَ يُصَلِّي فِيهِ، قَالَ: فَجَاءَتْهُ الأَنْصَارُ فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي، قَالَ: فَقُلْتُ لِبِلاَلٍ: «كَيْفَ رَأَيْتَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِينَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي؟» قَالَ: «يَقُولُ هَكَذَا»»، وَبَسَطَ كَفَّهُ، وَبَسَطَ جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ كَفَّهُ، وَجَعَلَ بَطْنَهُ أَسْفَلَ، وَجَعَلَ ظَهْرَهُ إِلَى فَوْقٍ</span></p>
<p>“Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menuju masjid Quba kemudian salat di dalamnya. Lalu datanglah sekelompok orang-orang Anshar seraya mengucapkan salam sementara Rasulullah sedang salat.” ‘Abdullah berkata, “Aku bertanya kepada Bilal, ‘Bagaimana Engkau melihat Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wasallam</em> menjawab salam saat mereka mengucapkan salam sementara beliau sedang shalat?’ ‘Abdullah berkata, ‘Dia (Bilal) menjawab seperti ini, beliau lalu membuka telapak tangannya, Ja’far bin ‘Auf membuka telapak tangannya dan menjadikan perut telapak tangan di bawah, sedangkan punggung telapak tangan di atas’” [2].</p>
<p>Dari Shuhaib <em>Radhiallahu ‘anhu, </em>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَرَرْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -وَهُوَ يُصَلِّي- فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ إِشَارَةً، قَالَ: وَلاَ أَعْلَمُهُ إِلاَّ قَالَ: إِشَارَةً بِإِصْبَعِهِ</span></p>
<p>“Aku lewat dekat Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang sedang salat, lalu aku ucapkan salam kepada beliau. Beliau menjawab salam dengan berisyarat.” Perawi hadis berkata, “Yang aku tahu, Shuhaib yang dikatakan Shuhaib adalah: Nabi berisyarat dengan jarinya” [3].</p>
<p>Adapun dalam hadis Ibnu Mas’ud <em>Radhiallahu ‘anhu</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَنَّهُ سَلّمَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي فَأَوْمَأَ لَهُ بِرَأْسِهِ</span></p>
<p>“Bahwa beliau (Ibnu Mas’ud) mengucapkan salam saat Rasulullah sedang salat. Kemudian Rasulullah memberi isyarat dengan kepalanya” [4].</p>
<p>Maka dari keumuman hadis-hadis di atas dapat disimpulkan bahwa dibolehkan menjawab salam ketika sedang melaksanakan salat bahkan pada saat sujud melalui isyarat. Apabila tidak mampu dengan tangan, maka bisa dengan jari. Jika tidak mampu, maka bisa diakhirkan setelah gerakan sujud. Menjawab salam dengan isyarat saat salat sama dengan menjawab salam di luar salat dengan perkataan.</p>
<p>Adapun hadis yang berbunyi,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَنْ أَشَارَ فِي صَلاَتِهِ إِشَارَةً تُفْهَمُ عَنْهُ، فَلَيُعِدْ صَلاَتَهُ</span></p>
<p>“Barangsiapa yang memberikan isyarat yang bisa dipahami, maka dia harus mengulangi -salat- nya” [5].</p>
<p>ini merupakan hadis yang <em>bathil</em>. Sebab salah satu perawi hadis ini adalah Abu Ghathafaan dari Abu Hurairah, sementara Abu Ghathafaan adalah perawi yang <em>majhul</em>.</p>
<p><em>Wal ‘ilmu ‘indallāh</em>. <em>Akhīru al-kalām, wa al-ḥamdu li al-lāhi Rabbi al-‘ālamīna wa ṣallā al-lāhu ‘alā al-nabiyyi Muḥammadin wa ‘alā aṣhābihī wa ikhwānihī ilā yaumi al-dīn, wa sallama taslīman.</em></p>
<p><strong>Sumber</strong> : <a href="http://ferkous.com/home/?q=fatwa-901" target="_blank" rel="noopener">http://ferkous.com/home/?q=fatwa-901</a></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/18688-fatwa-ulama-ucapan-salam-kepada-banyak-orang-yang-terdapat-orang-kafir.html" target="_blank" rel="noopener">Ucapan Salam Kepada Banyak Orang Yang Terdapat Orang Kafir</a></strong></em></p></blockquote>
<p>—</p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
[1] HR. Abu Daud dalam Kitab <em>“as-Shalah”;</em> Bab <em>Raddu as-Salam fi as-Shalat</em> (no. 924) dari hadis ‘Abdulah bin Mas’ud <em>Radhiallahu ‘anhu</em> yang disahihkan oleh Syaikh Amad Syaakir dalam <em>Tahqiq-</em>nya untuk <em>Musnad Ahmad</em> (6: 91) dan al-Albani dalam <em>Shahih al-Jaami’</em> (no. 1892). Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Baari</em> (13: 499) berkata, “Asal riwayat ini ada dalam kita <em>shahihain </em>dari riwayat Iqlima dari Ibnu Mas’ud. Namun ia berkata bahwa di dalam salat ada “kesibukan”.
[2] HR. Abu Dawud dalam kitabnya <em>as-shalah;</em> Bab <em>Raddu as-Salam</em> <em>fi as-Shalah </em>(no. 927) dari hadis Ibnu ‘Umar <em>Radhiallahu ‘anhuma</em>. Hadis tersebut disahihkan oleh <em>an-Nawawi</em> dalam kitab <em>“al-Khulashah”</em> (1: 508) dan al-Albani dalam <em>as-Silsilah as-Shahihah </em>(no. 185).
[3] HR. Abu Dawud dalam kitab <em>as-shalah;</em> Bab <em>Raddu as-Salam</em> <em>fi as-Shalah </em>(no. 925) dan at-Tirmidzi dalam kitab <em>as-Shalah</em>; Bab <em>Maa-Jaa-a fi al-Isyarah</em> fi as-Shalah (no. 367), <em>an-Nasaa’i </em>dalam <em>as-Sahwu;</em> Bab <em>Raddu as-Salam biil Isyarah fi as-Shalah</em> (no. 1186) dari hadis Shuhaib <em>Radhiallahu ‘anhu</em> yang disahihkan oleh al-Albani dalam <em>Shahih Abi Dawud</em> (no. 925).
[4]  HR. Baihaqi dalam <em>as-Sunan al-Kubra</em> (3222) dari Hadits ‘Abdullah bin Mas’ud <em>Radhilallahu ‘anhu</em>.
[5] HR. Abu Dawud dalam kitab <em>as-shalah;</em> Bab <em>al-Isyarah fi as-Shalah</em> (944), ad-Daaru Quthni dalam Sunan (no. 1867) dari hadits Abu Hurairah <em>Radhiallahu ‘anhu</em> yang datang di <em>Nashab ar-Raayah</em> karya az-Zili’iy (2: 90). Ishaq bin Ibrahim bin Hani’ berkata bahwa Ahmad ditanya tentang hadis مَن أشار في صلاته إشارةً تفهم عنه فليعد الصلاة ; maka ia (Ahmad) berkata, “Sanadnya tidak kuat dan tidak dapat dijadikan landasan hukum.” Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya (1: 248) berkata, “Hadis ini <em>wahm”</em>. An-Nawawi juga mendha’ifkan hadis ini dalam <em>al-Khulashah </em>(1: 511) dan al-Albani dalam <em>as-Silsilah ad-Dha’ifah</em> (no. 1104).
<p>—</p>
<p><strong>Penerjemah : <a href="https://muslim.or.id/author/fauzanhidayat">Fauzan Hidayat, S. STP., MPA</a></strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
 