
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin <i>rahimahullah Ta’ala</i></strong></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada orang yang menyeru untuk mendekatkan antar agama. Diserukan bahwa orang Islam, yahudi, dan nasrani, bersepakat pada pokok tauhid. Apakah ia dihukumi kafir? Apa pendapatmu tentang hal ini?</span></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Jawaban: </strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya berpandangan bahwa (orang) ini kafir. Orang yang berpendapat bahwa agama Islam, yahudi, dan nasrani bersepakat di atas tauhid adalah kafir. Ia telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Apabila ia berpendapat bahwa orang-orang nasrani yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari yang tiga </span><span style="font-weight: 400;">(trinitas)”</span><span style="font-weight: 400;"> adalah orang yang bertauhid </span><span style="font-weight: 400;">(mengesakan Allah)</span><span style="font-weight: 400;">, maka dia </span><span style="font-weight: 400;">-orang yang berpendapat tersebut-</span><span style="font-weight: 400;"> bukanlah orang yang bertauhid. Karena dia telah rida atas kekufuran dan kesyirikan. Bagaimana bisa bersepakat antara orang yang mengatakan “Sesungguhnya Isa adalah anak Allah”, dan “‘Uzair adalah anak Allah”, dengan orang yang mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَدُ ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<em>Katakanlah, ‘Dialah Allah yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada satu pun yang setara bagi-Nya</em>.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, saya katakan kepada orang ini, “Bertobatlah kepada Allah ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Azza Wa Jalla</span></i><span style="font-weight: 400;">, karena ini adalah perbuatan murtad, yang dengannya dihalalkan darah dan harta anda, pernikahan anda menjadi batal. Dan jika anda mati, maka tidak ada kehormatan untuk anda. Anda akan dilemparkan ke liang lahat supaya manusia tidak terganggu dengan bau Anda. Tidak dibolehkan seorang pun untuk memintakan ampun untuk Anda jika mati dalam keadaan seperti ini.”</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a href="https://muslim.or.id/71674-dakwah-tauhid-perusak-persatuan.html"><strong>Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?</strong></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sampai-sampai Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihish shalatu wassalaam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">«والذي نفسي بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي أو نصراني ثم لا يؤمن -أو قال:« لا يتبع ما جئت به»- إلا كان من أصحاب النار».</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<em>Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini yang mendengar tentang ajaranku, baik dari kalangan yahudi atau nasrani, lalu ia tidak beriman,” (atau beliau bersabda), “Dia tidak mengikuti apa yang aku datang dengannya, kecuali termasuk dari penghuni neraka.</em>”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Agama-agama <em>“</em></span><em><span style="font-weight: 400;">samawi</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>”</em> adalah agama selama belum dihapus. </span><span style="font-weight: 400;">Apabila telah dihapus, maka tidak bisa dikatakan sebagai agama.</span><span style="font-weight: 400;"> Orang yahudi yang ketika syariat Nabi Musa masih berlaku, mereka mengikuti ajarannya, maka mereka berada di atas agama Islam. Orang n</span><span style="font-weight: 400;">asrani yang </span><span style="font-weight: 400;">ketika syariat Nabi Isa berlaku, dan mereka mengikuti ajarannya, maka mereka termasuk orang Islam. Akan tetapi, setelah pengutusan Rasul </span><span style="font-weight: 400;">(Muhammad)</span> <i><span style="font-weight: 400;">‘alaihish shalatu wassalaam</span></i><span style="font-weight: 400;">, mereka semua menjadi kafir dan amalan mereka tidak akan diterima </span><span style="font-weight: 400;">(jika mereka tidak beriman dengan Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span><span style="font-weight: 400;">. Hal ini berdasarkan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْأِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<em>Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama) itu, dan dia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi</em>.” (QS. Ali Imran: 85)</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/58418-sebab-sebab-menuju-persatuan-umat.html">Sebab-Sebab Menuju Persatuan Umat</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><a href="https://muslim.or.id/7692-landasan-dan-langkah-mewujudkan-persatuan.html"><strong>Landasan dan Langkah Mewujudkan Persatuan</strong></a></li>
</ul>
<p>***</p>
<p><strong>Penerjemah: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Muhammad Fadhli, S.T.</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Sumber: <a href="https://binothaimeen.net/content/676">https://binothaimeen.net/content/676</a></strong></span></p>
 