
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Sebab adalah hal yang menjadikan timbulnya sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai hamba Allah </span><span style="color: #000000;"><i>Ta’ala, </i></span><span style="color: #000000;">tidak bisa terlepas dari mengambil sebab dalam upaya meraih cita-cit</span>a. Cita-cita yang paling agung adalah <span style="color: #000000;">berjumpa dengan-Nya, melihat wajah-Nya.</span></p>
<p align="LEFT">S<span style="color: #000000;">ecara umum, bentuk mengambil sebab itu ada dua</span></p>
<ol>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Mengambil sebab (usaha) untuk mendapatkan manfaat.</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Mengambil sebab (usaha) untuk menghindar atau terlepas dari</span> <span style="color: #000000;">bahaya.</span></p>
</li>
</ol>
<p align="LEFT">B<span style="color: #000000;">entuk aktifitas kita tidak pernah terlepas dari dua bentuk usaha tersebut.</span> Misalnya saja bertauhid atau beribadah hanya pada Allah semata, mengapa kita bertauhid<span style="color: #000000;">?</span><b> </b>Tentu<span style="color: #000000;"> agar Allah mencintai kita, sehingga memasukkan kita ke dalam Surga-Nya. </span><span style="color: #000000;"><i>Nah</i></span><span style="color: #000000;">,</span> <span style="color: #000000;">dicintai oleh Allah dan masuk </span>s<span style="color: #000000;">urga itu adalah manfaat.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Mengapa kita kerja? Untuk mencari nafkah, ini juga manfaat.</span> <span style="color: #000000;">Mengapa kita tidur dan istirahat? Agar tidak sakit, sehingga bisa beribadah dan beraktifitas dengan baik.</span> <span style="color: #000000;">Bukankah agar “tidak sakit” adalah upaya untuk menghindari bahaya?</span> A<span style="color: #000000;">ktifitas kita dari bangun tidur sampai tidur lagi, semuanya tidak bisa terlepas dari dua bentuk pengambilan sebab itu.</span></p>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>Seputar hukum mengambil sebab</b></span></h4>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Dari prolog di atas, kita</span> <span style="color: #000000;">merasa sangat </span>butuh<span style="color: #000000;"> mengetahui tentang seluk-beluk mengambil sebab dan hukum-hukum Allah tentangnya, mengapa demikian? </span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Simak alasan berikut ini!</span></p>
<ol>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Mengambil sebab adalah perkara yang selalu kita lakukan dalam kehidupan keseharian kita, sebagaimana keterangan di atas.</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Seseorang yang tidak mengenal dan tidak menghiraukan aturan Allah </span><span style="color: #000000;"><i>Ta’ala </i></span><span style="color: #000000;">dalam mengambil sebab, bisa terjatuh ke dalam maksiat, </span><span style="color: #000000;"><i>bid’ah</i></span><span style="color: #000000;"> bahkan syirik ataupun kekufuran! </span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Alasan yang ketiga: s</span><span style="color: #000000;">eseorang yang tidak mengenal tentang hukum sebab</span> <span style="color: #000000;">bisa terperosok ke dalam salah satu dari dua jurang ini:</span></p>
<ol type="a">
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Menjadi tipe orang yang sombong dan membanggakan diri (melampui batasan </span>s<span style="color: #000000;">yari’at) atau</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Menjadi tipe orang yang malas atau berputus asa dari rahmat Allah (mengurangi batasan </span>s<span style="color: #000000;">yari’at).</span></p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>Hukum sebab</b></span></h4>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Nah</i></span><span style="color: #000000;">, berikut ini, penyusun nukilkan isi hukum-hukum sebab dari sebuah kitab seorang ulama besar, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah, </i></span><span style="color: #000000;">beliau</span><i> </i><span style="color: #000000;">berkata dalam kitabnya, </span><span style="color: #000000;"><i>Al-Qaulul Jadiid</i></span><span style="color: #000000;">:</span><i><b> </b></i></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“Seseorang wajib mengetahui bahwa dalam (pembahasan) sebab terdapat tiga perkara (yang mendasar), yaitu:</span></p>
<p style="text-align: right;">أحدها: أن لا يجعل منها سببا إلا ما ثبت أنه سبب شرعا أو قدرا.ثانيها: أن لا يعتمد العبد عليها، بل يعتمد على مسببها ومقدرها،مع قيامه بالمشروع منها، وحرصه على النافع منها. ثالثها: أن يعلم أن الأسباب مهما عظمت وقويت فإنها مرتبطة بقضاء الله وقدره لا خروج لها عنه،</p>
<p align="LEFT"><b>Pertama: </b>Tidak menjadikan sesuatu sebagai sebab, kecuali jika sesuatu tersebut terbukti sebagai sebab, baik secara syar’i<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a> maupun <i>Qadari/Kauni</i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a>. <b>Kedua: </b>Seorang hamba tidak bersandar (hatinya) kepada sebab, namun bersandar kepada Allah, Sang Penyebab berpengaruhnya suatu sebab dan Sang Pentakdirnya, diiringi dengan usaha yang disyari’atkan (untuk dilakukan) dan semangat melakukan yang (paling) bermanfa’at. <span style="color: #000000;"><b>Ketiga: </b></span><span style="color: #000000;">(Wajib) diketahui bahwa suatu sebab, meskipun besar dan kuat (pengaruhnya), maka sesungguhnya tetap terikat dengan ta</span>k<span style="color: #000000;">dir Allah, tidak bisa terlepas darinya”</span><span style="color: #000000;"><i>.</i></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Beliau </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah</i></span><span style="color: #000000;"> juga</span><i> </i><span style="color: #000000;">menjelaskan, yang intisarinya adalah bahwa Allah </span><span style="color: #000000;"><i>Ta’ala </i></span><span style="color: #000000;">mengatur makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, </span></p>
<ul>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Jika Allah menghendaki, maka Allah akan takdirkan suatu sebab berpengaruh sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya, agar seorang hamba mengetahui dengan baik kesempurnaan hikmah-Nya, karena Allah telah mentakdirkan terjadinya akibat, ketika seorang hamba melakukan sebabnya.</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Namun, jika Allah menghendaki sesuatu yang lain, maka Allah takdirkan suatu sebab tidak berpengaruh dan tidak berakibat, agar hati seorang hamba tidak bergantung kepada sebab dan agar ia mengetahui kesempurnaan kekuasaan Allah atas hamba-Nya dan kesempurnaan kehendak-Nya dalam mengatur alam semesta.</span></p>
</li>
</ul>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Beliau </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;">berkata:</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: right;" align="CENTER">فهذا هو الواجب على العبد في نظره وعمله بجميع الأسباب.</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>“Inilah sikap wajib seorang hamba dalam memandang dan melakukan berbagai macam sebab (dalam aktivitasnya)”</i></span><span style="color: #000000;">.</span></p>
<p align="LEFT">(bersambung)</p>
<p align="LEFT">___</p>
<h5 align="LEFT">Catatan kaki</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a><span style="font-size: small;">. Harus terdapat dalil dari Al Qur’an atau As-Sunnah yang shahih, yang menunjukkan bahwa sesuatu itu merupakan sebab.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a><span style="font-size: small;">. Terbukti secara ilmiah atau berdasarkan pengalaman yang jelas bahwa sesuatu itu merupakan sebab.</span></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
</div>
 