
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/53185-hukum-shalat-dengan-menghadap-sutrah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Shalat dengan Menghadap Sutrah (Bag. 1)</a></span></strong></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Hukum Membuat atau Memasang sutrah Ketika Shalat</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari hadits-hadits yang telah kami sebutkan, sebagian ulama mengatakan bahwa hukum membuat sutrah adalah wajib. Di antara ulama yang mengatakan wajib adalah Ibnu Khuzaimah, Asy-Syaukani, sebagian ulama madzhab Hambali, dan juga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Hal ini dengan dua pertimbangan berikut ini:</span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan hal itu. Sedangkan dalam kaidah ilmu ushul fiqh, adanya perintah (tanpa ada keterangan tambahan) menunjukkan hukum wajib.</span></p>
<p><b>Ke dua, </b><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menyebutkan alasan disyariatkannya sutrah. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعِ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mendekatlah ke sutrah (agar) setan tidak akan bisa memutus shalatnya.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 695, dinilai shahih oleh Al-Albani) [1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/53153-apabila-terlambat-datang-ke-masjid-dan-shalat-jamaah-sudah-selesai.html" data-darkreader-inline-color="">Apabila Terlambat datang ke Masjid dan Shalat Jamaah Sudah Selesai</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Pendapat Jumhur Ulama</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa memasang sutrah hukumnya sunnah. Sehingga seseorang tidaklah berdosa jika meninggalkannya. Hal ini karena sutrah dinilai sebagai perkara yang menyempurnakan shalat, sehingga keabsahan shalat tidak bergantung dengannya. Sutrah juga tidak termasuk dalam gerakan di dalam shalat sehingga jika ditinggalkan berarti membatalkan shalat. Hal ini adalah di antara indikasi bahwa sutrah adalah perkara penyempurna shalat seseorang, sehingga hukumnya tidak sampai derajat wajib. Dan menurut jumhur ulama, hal tersebut merupakan indikasi yang memalingkan perintah-perintah dalam hadits di atas dari hukum wajib menjadi sunnah. </span><b>[2]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Indikasi lainnya adalah riwayat dari Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma, </span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلاَمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ، فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ بَعْضِ الصَّفِّ، وَأَرْسَلْتُ الأَتَانَ تَرْتَعُ، فَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ، فَلَمْ يُنْكَرْ ذَلِكَ عَلَيَّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku datang dengan menunggang keledai betina, yang saat itu aku hampir menginjak masa baligh. </span><b>Ketika itu, Rasulullah sedang shalat di Mina dengan tidak menghadap dinding.</b><span style="font-weight: 400;"> Maka aku lewat di depan sebagian shaf kemudian aku melepas keledai betina itu supaya mencari makan sesukanya. Lalu aku masuk kembali di tengah shaf dan tidak ada orang yang menyalahkanku.” </span><b>(HR. Bukhari no. 76 dan Muslim no. 504)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Indikator lain yang memalingkan dari hukum wajib adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang (yang lewat di depannya, pen.), kemudian ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya, maka hendaklah dicegah. Jika dia tidak mau, maka lawanlah dia, karena dia itu adalah setan.” </span><b>(HR. Bukhari no. 509 dan Muslim no. 505)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengomentari hadits di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فإن قوله: «إذا صَلَّى أحدُكم إلى شيء يستره» يدلُّ على أن المُصلِّي قد يُصلِّي إلى شيء يستره وقد لا يُصلِّي، لأن مثل هذه الصيغة لا تدلُّ على أن كلَّ الناس يصلون إلى سُتْرة، بل تدلُّ على أن بعضاً يُصلِّي إلى سُتْرة والبعض الآخر لا يُصلِّي إليها.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Perkataan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang (yang lewat di depannya, pen.)” </span></i><span style="font-weight: 400;">menunjukkan bahwa orang yang shalat terkadang menghadap sesuatu yang membatasi dan terkadang tidak. Model kalimat semacam ini tidaklah menunjukkan bahwa semua orang shalat (harus) shalat menghadap sutrah. Akan tetapi menunjukkan bahwa sebagian orang shalat itu menghadap sutrah dan sebagiannya lagi tidak.” </span><b>(</b><b><i>Asy-Syarhul Mumti’, </i></b><b>3: 276)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/52382-merapatkan-dan-meluruskan-shaf-shalat-jamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Merapatkan dan Meluruskan Shaf Shalat Jama’ah</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Pendapat yang Lebih Kuat dalam Masalah Ini</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan mempertimbangkan indikasi-indikasi tersebut, </span><i><span style="font-weight: 400;">wallahu Ta’ala a’lam, </span></i><span style="font-weight: 400;">yang lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa hukum memasang sutrah itu sunnah, tidak wajib. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وأدلَّة القائلين بأن السُّتْرة سُنَّة وهم الجمهور أقوى، وهو الأرجح</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dalil-dalil ulama, yaitu jumhur ulama, yang berpendapat bahwa sutrah itu hukumnya sunnah adalah pendapat yang lebih kuat dan inilah pendapat yang lebih tepat.” </span><b>(</b><b><i>Asy-Syarhul Mumti’, </i></b><b>3: 277)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abu Malik mengatakan, “Disunnahkan untuk memasang sutrah di depannya ketika shalat, untuk mencegah orang lewat di depannya dan menghalangi pandangannya dari apa yang ada di belakang sutrah.” </span><b>(</b><b><i>Shahih Fiqh Sunnah, </i></b><b>1: 342)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis kitab </span><b><i>Raudhatul Mutanazzih Syarh Bidaayah Al-Mutafaqqih</i></b> <b>(1: 285)</b><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Yang lebih kuat, </span><i><span style="font-weight: 400;">wallahu a’lam, </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah pendapat ke dua yang mengatakan bahwa sutrah itu hukumnya sunnah mu’akkad. Oleh karena itu, dimakruhkan shalat tanpa menghadap sutrah bagi imam atau orang yang shalat sendirian.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga hukum sunnah tersebut tidak berlaku untuk makmum. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أما المَأموم فلا يُسَنُّ له اتِّخاذ السُّترة؛ لأن الصحابة ـ رضي الله عنهم ـ كانوا يصلّون مع النبي صلّى الله عليه وسلّم ولم يتخذ أحدٌ منهم سترة.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Adapun makmum, maka tidak dianjurkan memasang sutrah. Hal ini karena para sahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum, </span></i><span style="font-weight: 400;">mereka dulu biasa shalat bersama Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dan tidak seorang pun di antara mereka yang memasang sutrah.” </span><b>(</b><b><i>Asy-Syarhul Mumti’, </i></b><b>3: 278)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51679-jeda-pemisah-shalat-wajib-shalat-sunnah.html" data-darkreader-inline-color="">Jeda (Pemisah) antara Shalat Wajib</a><a style="font-size: 16px; color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51467-dzikir-dzikir-yang-shahih-setelah-shalat-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> </a><a style="font-size: 16px; color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51679-jeda-pemisah-shalat-wajib-shalat-sunnah.html" data-darkreader-inline-color=""> dengan Shalat Sunnah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51467-dzikir-dzikir-yang-shahih-setelah-shalat-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Dzikir-Dzikir yang Shahih Setelah Shalat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 23 Shafar 1441/22 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Ahkaam Khudhuuril Masaajid, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 123.</span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Asy-Syarhul Mumti’, </i></b><span style="font-weight: 400;">3: 277.</span></p>
 