
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/53332-hukum-shalat-dengan-menghadap-sutrah-bag-5.html" data-darkreader-inline-color=""> Shalat dengan Menghadap Sutrah (Bag. 5)</a></span></strong></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Ketentuan Sutrah Ketika Shalat di Masjidil Haram</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui bahwa dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya sutrah ketika shalat dan mencegah orang yang hendak lewat di depan orang shalat itu bersifat umum, mencakup juga ketika berada di masjidil haram. Hal ini karena dalil-dalil tersebut bersifat umum dan tidak ada pengecualian. Bahkan terdapat hadits-hadits yang menunjukkan dipasangnya sutrah ketika shalat di Mekah secara umum atau ketika di masjidil haram secara khusus. Dari ‘Aun bin Abu Juhaifah, beliau berkata, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالهَاجِرَةِ، فَصَلَّى بِالْبَطْحَاءِ الظُّهْرَ وَالعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَنَصَبَ بَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةً وَتَوَضَّأَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> keluar saat terik matahari. Kemudian beliau melaksanakan shalat zhuhur dan ‘ashar dua rakaat dua rakaat di Bathha’. Sementara di hadapannya ditancapkan sebuah tongkat. Ketika beliau berwudhu, maka orang-orang mengusapkan bekas air wudhunya (ke badan).” </span><b>(HR. Bukhari no. 501 dan Muslim no. 503)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Bukhari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menempatkan hadits tersebut di bawah judul bab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>بَابُ السُّتْرَةِ بِمَكَّةَ وَغَيْرِهَا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bab (dipasangnya) sutrah di Makkah dan selainnya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فأراد البخاري التنبيه على ضعف هذا الحديث وأن لا فرق بين مكة وغيرها في مشروعية السترة واستدل على ذلك بحديث أبي جحيفة وقد قدمنا وجه الدلالة منه وهذا هو المعروف عند الشافعية وأن لا فرق في منع المرور بين يدي المصلي بين مكة وغيرها</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Al-Bukhari bermaksud memberikan </span><i><span style="font-weight: 400;">tanbih</span></i><span style="font-weight: 400;"> (penekanan) atas lemahnya hadits (yaitu hadits Al-Muththalib yang nanti akan disebutkan, pent.) dan bahwa tidak ada perbedaan antara Mekah dan selainnya dalam hal disyariatkannya memasang sutrah. Al-Bukhari berdalil dengan hadits Abu Juhaifah dan telah kami bahas sisi pendalilannya. Inilah yang ma’ruf (dikenal) dalam madzhab Syafi’iyyah bahwa tidak ada perbedaan dalam mencegah orang yang lewat di depan orang shalat antara (shalat di) Mekah dan selainnya.” </span><b>(</b><b><i>Fathul Baari, </i></b><b>1: 576)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula diriwayatkan dari sahabat Jabir </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu, </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam hadits yang sangat panjang ketika menyebutkan tatacara haji Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">Jabir berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ثُمَّ نَفَذَ إِلَى مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام، فَقَرَأَ: {وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى} [البقرة: 125] فَجَعَلَ الْمَقَامَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kemudian beliau terus menuju ke maqam Ibrahim </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alahis salaam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> lalu beliau membaca ayat (yang artinya), “Jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat shalat” (QS. Al-Baqarah [2]: 125). Lalu ditempatkannya maqam itu di antara beliau dengan baitullah.” Kemudian disebutkan bahwa beliau shalat dua raka’at. </span><b>(HR. Muslim no. 1218)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, beliau berkata, “Aku melihat Anas bin Malik di masjidil haram menancapkan tongkat kemudian shalat menghadapnya.” </span><b>(HR. Ibnu Abi Syaibah 1: 277)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/20966-orang-kafir-tidak-boleh-masuk-ke-masjid-haram.html" data-darkreader-inline-color="">Orang Kafir Tidak Boleh Masuk Ke Masjidil Haram</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Tetap Disyariatkan Memasang Sutrah </span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka dalil-dalil itu jelas menunjukkan bahwa memasang sutrah di masjidil haram atau di Mekah secara umum adalah perkara yang disyariatkan. Oleh karena itu, tidak boleh lewat di depan orang shalat secara umum, karena tidak ada dalil yang mengecualikan masjidil haram. Ancaman untuk orang yang lewat di depan orang shalat itu bersifat umum, mencakup semua orang yang lewat di depan orang shalat di tempat mana saja. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26318-fatwa-ulama-shalat-di-semua-masjid-di-mekkah-pahalanya-sama-seperti-di-masjidil-haram.html" data-darkreader-inline-color="">Shalat Di Semua Masjid Di Mekkah Pahalanya Sama Seperti Di Masjidil Haram?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Hadits Berkaitan Shalat Tanpa Sutrah di Masjidil Haram</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun berkaitan dengan hadits yang diriwayatkan dari Al-Muthallib bin Abi Wada’ah, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ بِحِذَائِهِ فِي حَاشِيَةِ الْمَقَامِ وَلَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الطُّوَّافِ أَحَدٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kami melihat Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> thawaf di ka’bah sebanyak tujuh kali, kemudian beliau shalat dua raka’at dengan memakai sepatunya di ujung maqam Ibarahim, dan tidak ada seorangpun bersamanya ketika beliau thawaf.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. , An-Nasa’i no. 758, Ibnu Majah no. 2958)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat lain disebutkan, “tidak ada sutrah antara beliau dan tempat thawaf.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di riwayat lain disebutkan, “tidak ada sutrah antara beliau dengan ka’bah.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan hadits tersebut, sebagian ulama mengatakan bahwa tidak disyariatkan memasang sutrah ketika shalat di masjidil haram. </span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Argumentasi yang Lemah </span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Argumentasi di atas lemah, berdasarkan alasan-alasan berikut ini.</span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">hadits tersebut dha’if (lemah). Karena di dalam sanadnya ada perawi yang majhul. </span></p>
<p><b>Ke dua, </b><span style="font-weight: 400;">hadits tersebut adalah perbuatan </span><i><span style="font-weight: 400;">(fi’il) </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sedangkan hadits-hadits berkaitan dengan perintah memasang sutrah bersumber dari perkataan </span><i><span style="font-weight: 400;">(qaul) </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dalam kaidah ushul fiqh, </span><i><span style="font-weight: 400;">fi’il </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidaklah membatalkan </span><i><span style="font-weight: 400;">qaul </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i></p>
<p><b>Ke tiga, </b><span style="font-weight: 400;">hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits lain yang lebih kuat, yaitu Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">konsisten dalam memasang sutrah baik dalam kondisi safar maupun tidak safar yang disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih. Juga perintah beliau untuk memasang sutrah adalah perintah yang jelas dalam hadits-hadits yang banyak sekali.</span></p>
<p><b>Ke empat, </b><span style="font-weight: 400;">yang terdapat dalam hadits Jabir bahwa beliau menjadikan maqam Ibrahim sebagai sutrah beliau untuk shalat dua raka’at setelah thawaf. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama memberikan keringanan untuk lewat di depan orang yang shalat di masjidil haram dalam kondisi darurat semisal ketika berdesak-desakan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengomentari hal ini, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Perkara semisal ini tidak hanya terbatas ketika di masjidil haram saja ketika kondisi darurat, namun juga berlaku ketika musim haji dan bulan Ramadhan. Menjadi kewajiban bagi seorang hamba untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kemampuannya. Akan tetapi, jadilah lewat di depan orang shalat itu menjadi perkara yang biasa bagi kebanyakan manusia. Sampai-sampai sebagian mereka bolak-balik lewat di depan orang yang shalat sunnah untuk keperluan yang ringan tanpa ada kondisi sulit. Inilah yang kita saksikan dan patut disayangkan. Hal ini karena tidak diragukan lagi bahwa lewat di depan orang shalat itu menimbulkan gangguan dan was-was bagi orang shalat. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahul musta’an.</span></i><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(</b><b><i>Ahkaam Khudhuuril Masaajid, </i></b><b>hal. 126)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/12969-soal-266-gaji-imam-masjidil-haram.html" data-darkreader-inline-color="">Gaji Imam Masjidil Haram</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/50955-jawaban-atas-tuduhan-umat-islam-menyembah-kabah.html" data-darkreader-inline-color="">Jawaban Atas Tuduhan: Umat Islam Menyembah Ka’bah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 24 Shafar 1441/23 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Pembahasan ini kami sarikan dari kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Ahkaam Khudhuuril Masaajid </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 195-197 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA). </span></p>
 