
<p><em>Ibu, ayah … lewat berbaktipadamu lah jalan menuju surga Rabbku.</em></p>
<p>  <!--more-->  </p>
<p><em>Alhamdulilllah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.</em></p>
<p>Dari Abu Hurairah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »<em> </em></span></div>
<p><em>“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” </em>Ada yang bertanya<em>, “Siapa, wahai Rasulullah?” </em>Beliau bersabda<em>, </em>”<em>(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”</em>(HR. Muslim)</p>
<p>Dari Abdullah bin ’Umar, ia berkata,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ</span></div>
<p><em>“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada<br> murka orang tua.” </em>(Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jasa Orang Tua Begitu Besar</strong></span></p>
<p>Sungguh, jasa orang tua apalagi seorang ibu begitu besar. Mulai saat mengandung, dia mesti menanggung berbagai macam penderitaan. Tatkala dia melahirkan juga demikian. Begitu pula saat menyusui, yang sebenarnya waktu istirahat baginya, namun dia rela lembur di saat si bayi kecil kehausan dan membutuhkan air susunya. Oleh karena itu, jasanya sangat sulit sekali untuk dibalas, walaupun dengan memikulnya untuk berhaji dan memutari Ka’bah.</p>
<div style="text-align: justify;">Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung,</div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ</span></div>
<div style="text-align: center;">
<em>Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.</em> <br><em>Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.</em>
</div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">ثُمَّ قَالَ : ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟  قَالَ : لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ</span></div>
<p>Orang itu lalu berkata<em>, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” </em>Ibnu Umar menjawab<em>, “Engkau belum membalas budinya, walaupun </em><em>setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” </em>(Adabul Mufrod no. 11. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad) <br><strong> </strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Berbakti pada Orang Tua adalah Perintah Allah </strong></span></p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا</span></div>
<p>“<em>Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” </em>(QS. Al Isra’: 23)</p>
<p>Dalam beberapa ayat, Allah selalu menggandengkan amalan berbakti pada orang tua dengan mentauhidkan-Nya dan larangan berbuat syirik. Ini semua menunjukkan agungnya amalan tersebut. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا</span></div>
<p>“<em>Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” </em>(QS. An Nisa’: 36)</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا</span></div>
<p>“<em>Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa.” </em>(QS. Al An’am: 151)</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)</span></div>
<p>“<em>Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.</em>” (QS. Luqman: 13-14)</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ</span></div>
<p>“<em>Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.</em>” (QS. Al Ahqaf: 15) <br><strong> </strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pujian Allah pada Para Nabi karena Bakti Mereka pada Orang Tua</strong></span></p>
<p>Perhatikanlah firman Allah <em>Ta’ala</em> tentang Nabi Yahya bin Zakariya <em>‘alaihimas salam</em> berikut,</p>
<div style="text-align: right;">وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا</div>
<p>“<em>Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.</em>” (QS. Maryam: 14) <br>Begitu juga Allah menceritakan tentang Nabi Isa <em>‘alaihis salam</em>,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آَتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ مَا دُمْتُ حَيًّا (31) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (32)<br></span></div>
<p>“<em>Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.</em>” (QS. Maryam: 30-32) <br><strong> </strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Amalan yang Paling Dicintai oleh Allah adalah Berbakti pada Orang Tua</strong></span></p>
<p>Kita dapat melihat pada hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Beliau mengatakan,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى<br></span></div>
<p>“Aku bertanya pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah <em>‘azza wa jalla</em>?’ Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘<em>Kemudian apa lagi?</em>’ Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, ‘<em>Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’</em> Lalu aku mengatakan, ‘<em>Kemudian apa lagi</em>?’ Lalu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, ‘<em>Berjihad di jalan Allah</em>’.”</p>
<p>Lalu Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberitahukan hal-hal tadi kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, pasti beliau akan menambahkan (jawabannya).” (HR. Bukhari dan Muslim) <br><strong> </strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bakti pada Orang Tua Akan Menambah Umur</strong></span></p>
<p>Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ<br></span></div>
<p>“<em>Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi </em>(<em>dengan kerabat</em>).” (HR. Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi, yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya) <br><strong></strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Di antara Bentuk Berbakti pada Orang Tua</strong></span> <br><em></em></p>
<p><em>[1] Menaati perintah keduanya selama bukan dalam perkara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. </em> <br>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ<br></span></div>
<p>“<em>Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kebajikan.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim) <br>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">أَطِعْ أَبَاكَ مَا دَامَ حَيًّا وَلاَ تَعْصِهِ<br></span></div>
<p>“<em>Tatatilah ayahmu selama dia hidup dan selama tidak diperinahkan untuk bermaksiat.</em>” (HR. Ahmad. Dikatakan oleh Syu’aib Al Arnauth bahwa sanadnya hasan) <br><em></em></p>
<p><em>[2] Mendahulukan perintah mereka dari perkara yang hanya dianjurkan (sunnah). </em> <br>Sebagaimana pelajaran mengenai hal ini terdapat pada kisah Juraij yang didoakan jelek oleh ibunya karena lebih mendahulukan shalat sunnahnya daripada panggilan ibunya. Kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. <br><em></em></p>
<p><em>[3] Menghiasi diri dengan akhlaq yang mulia di hadapan keduanya, di antaranya adalah dengan tidak mengeraskan suara di hadapan mereka. </em></p>
<p>Dari Thaisalah bin Mayyas,  ia berkata bahwa Ibnu Umar pernah bertanya<em>, “Apakah engkau takut masuk </em><em>neraka dan ingin masuk surga?” ”Ya, saya ingin”, </em>jawabku<em>. </em>Beliau bertanya<em>, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Saya masih memiliki seorang ibu”, </em>jawabku<em>. </em>Beliau berkata<em>, “Demi Allah, sekiranya </em><em>engkau berlemah lebut dalam bertutur kepadanya dan memasakkan makanan baginya, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.”</em>(Adabul Mufrod no. 8. Syaikh<strong> </strong>Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)</p>
<p>Di antara akhlaq mulia lainnya terdapat dalam hadits berikut. Dari Urwah atau selainnya, ia menceritakan bahwa<strong> </strong>Abu Hurairah pernah melihat dua orang. Lalu beliau berkata kepada salah satunya,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">مَا هَذَا مِنْكَ ؟ فَقَالَ: أَبِي. فَقالَ: ” لاَ تُسَمِّهِ بِاسْمِهِ، وَلاَ<strong> </strong>تَمْشِ أَمَامَهُ، وَلاَ تَجْلِسْ قَبْلَهُ <br></span></div>
<p><em>“Apa hubungan dia dengan</em><em>mu?”</em> Orang itu menjawab, <em>”Dia ayahku.<sup>”</sup> </em>Abu Hurairah lalu berkata, <em>“Janganlah engkau memanggil ayahmu dengan namanya saja, </em><em>janganlah berjalan di hadapannya dan janganlah duduk sebelum ia duduk.” </em>(Adabul Mufrod no. 44. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad)  <br><em></em></p>
<p><em>[4] Menjalin hubungan dengan kolega orang tua.</em> <br>Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ<em> </em><br></span></div>
<p><em>“Sesungguhnya kebajikan terbaik adalah perbuatan seorang yang menyambung hubungan dengan kolega ayahnya.” </em>(HR. Muslim) <br><em></em></p>
<p><em>[5] Berbakti kepada kedua orang sepeninggal mereka adalah dengan mendo’akan keduanya.</em></p>
<p>Dari Abu Hurairah, ia berkata,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">تُرْفَعُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَتُهُ. فَيَقُوْلُ: أَيِّ رَبِّ! أَيُّ شَيْءٍ هَذِهِ؟ فَيُقَالُ: “وَلَدُكَ اسْتَغْفَرَ لَكَ<br></span></div>
<p><em>“Derajat seseorang bisa terangkat setelah ia meninggal. </em>Ia pun bertanya,<em> “Wahai Rabb, bagaimana hal ini bisa terjadi?” </em>Maka dijawab<em>,”Anakmu telah memohon ampun untuk dirimu.”</em>(Adabul Mufrod, no. 36. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan secara sanad) <br><strong></strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ibu Lebih Berhak dari Anggota Keluarga Lainnya</strong></span></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »<br></span></div>
<p>“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lalu berkata, ‘<em>Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?</em>’ Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, ‘<span style="text-decoration: underline;">Ibumu’</span>. Dia berkata lagi, ‘<em>Kemudian siapa lagi?</em>’ Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, ‘<span style="text-decoration: underline;">Ibumu</span>.’ Dia berkata lagi, ‘<em>Kemudian siapa lagi?</em>’ Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, ‘<span style="text-decoration: underline;">Ibumu</span>’. Dia berkata lagi, ‘<em>Kemudian siapa lagi?</em>’ Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa.” (<em>Syarh Muslim</em> 8/331) <br><strong></strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dosa Durhaka pada Orang Tua</strong></span></p>
<p>Abu Bakrah berkata,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟) ثَلاَثًا، قَالُوْا : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : ( الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ ) وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا ( أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرُ ) مَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْتُ لَيْتَهُ سَكَتَ<br></span></div>
<p><em>“</em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda<em>, </em><em>“Apakah kalian mau kuberitahu mengenai dosa yang paling </em><em>besar?” </em>Para sahabat menjawab<em>, “Mau, wahai Rasulullah.”</em>Beliau lalu bersabda<em>, “(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” </em>Beliau mengucapkan hal itu sambil duduk bertelekan [pada tangannya]. (Tiba-tiba beliau menegakkan duduknya dan berkata),<em> “Dan juga ucapan (sumpah) palsu.” </em>Beliau mengulang-ulang perkataan itu sampai saya berkata (dalam hati)<em>, “Duhai, seandainya</em><em> beliau diam.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim) <br>Abu Bakroh berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغِى وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ <br></span></div>
<p><em>”Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya </em><em>[di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [diakhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).”</em> (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) <br><strong></strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Di antara Bentuk Durhaka pada Orang Tua</strong><br></span></p>
<p>’Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma berkata,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">إبكاء الوالدين من العقوق<br></span></div>
<p>”Membuat orang tua menangis termasuk bentuk durhaka pada orang tua.”</p>
<p>Mujahid mengatakan,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">لا ينبغي للولد أن يدفع يد والده إذا ضربه، ومن شد النظر إلى والديه لم يبرهما، ومن أدخل عليهما ما يحزنهما فقد عقهما<br></span></div>
<p>“Tidak sepantasnya seorang anak menahan tangan kedua orang tuanya yang ingin memukulnya. Begitu juga tidak termasuk sikap berbakti adalah seorang anak memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang tajam. Barangsiapa yang membuat kedua orang tuanya sedih, berarti dia telah mendurhakai keduanya.”</p>
<p>Ka’ab Al Ahbar pernah ditanyakan mengenai perkara yang termasuk bentuk durhaka pada orang tua, beliau mengatakan,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">إذا أمرك والدك بشيء فلم تطعهما فقد عققتهما العقوق كله<br></span></div>
<p>“Apabila orang tuamu memerintahkanmu dalam suatu perkara (selama bukan dalam maksiat, pen) namun engkau tidak mentaatinya, berarti engkau telah melakukan berbagai macam kedurhakaan terhadap keduanya.” (<em>Birrul Walidain</em>, hal. 8, Ibnul Jauziy) <br><strong></strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Hati-hatilah dengan Do’a Jelek Orang Tua</strong></span></p>
<p>Abu Hurairah berkata, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,</p>
<div style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt;">ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا <br></span></div>
<p><em>“Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” </em>(HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)</p>
<p>Semoga Allah memudahkan kita berbakti kepada kedua orang tua, selama mereka masih hidup dan semoga kita juga dijauhkan dari mendurhakai keduanya.</p>
<p>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</p>
<p>*** <br>Mediu-Jogja, 1 Jumadil Akhir 1430 H</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel https://rumaysho.com</p>
 