
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Surat Al-‘Ashr: Surat yang Ringkas, Namun Penuh Makna</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Surat Al-‘Ashr merupakan sebuah surat dalam Al-Qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah diingat. Sayangnya, sedikit di antara kaum muslimin yang memahami kandungan isinya dengan baik. Meskipun pendek, surat ini memiliki kandungan makna yang sangat banyak. Oleh karena itu, Imam Asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Seandainya Allah tidak menurunkan suatu hujjah (argumen) kepada manusia kecuali surat ini, niscaya surat ini telah mencukupi untuk mereka.” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Maksud perkataan Imam Asy-Syafi’i adalah bahwa surat ini telah mencukupi bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan </span></i><b><i>iman, amal shalih, berdakwah kepada Allah,  dan bersabar atas semua itu</i></b><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><b><i>Tidaklah beliau memaksudkan bahwa surat ini mencukupi bagi manusia dalam menjelaskan seluruh syari’at Islam.</i></b><i><span style="font-weight: 400;">” </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Tsalaatsatul Ushuul, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 20).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam ayat ini, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan </span><b>sebab-sebab kebahagiaan</b> <b>dan</b> <b>sebab-sebab kebinasaan</b><span style="font-weight: 400;">.  Oleh karena itu, di hari kiamat kelak, manusia tidak boleh berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Saya tidak mengetahui sebab-sebab kebahagiaan dan sebab-sebab kebinasaan”, </span></i><span style="font-weight: 400;">karena mereka telah membaca surat ini di dunia. Adapun sebab kebahagiaan adalah seseorang harus memiliki keempat hal berikut ini, yaitu ilmu, amal, dakwah, dan bersabar di jalannya. Oleh karena itu, tegaklah </span><i><span style="font-weight: 400;">hujjah </span></i><span style="font-weight: 400;">dari Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada hamba-Nya dengan surat yang pendek dan ringkas ini. Seluruh isi Al Qur’an dan As-Sunnah pada hakikatnya adalah penjabaran keempat masalah tersebut. </span><b>Surat ini menerangkan sebab-sebab kebahagiaan secara global, sedangkan perinciannya dijelaskan oleh dalil-dalil dari ayat Al Qur’an yang lain dan juga dalil-dalil dari As-Sunnah.</b></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Iman Tidak Akan Sempurna Tanpa Ilmu</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam surat ini Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Contoh kerugian yang dimaksud adalah keadaan manusia yang merugi di dunia dan di akhirat, tidak didapatkannya kenikmatan, serta berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Taisiir Karimir Rahmaan, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 934</span><i><span style="font-weight: 400;">)</span></i><span style="font-weight: 400;">. Kemudian, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">mengecualikan hamba-Nya yang memenuhi empat sifat yang Allah jelaskan. </span></p>
<p><b>Yang pertama</b><span style="font-weight: 400;">,</span><b> hamba yang beriman kepada Allah </b><b><i>Ta’ala</i></b><span style="font-weight: 400;">. Keimanan ini tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu. Dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa didasari oleh ilmu.  (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Taisiir Karimir Rahmaan, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 934</span><i><span style="font-weight: 400;">)</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><b>Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i (ilmu agama).</b><span style="font-weight: 400;"> Seorang muslim wajib </span><i><span style="font-weight: 400;">(fardhu ‘ain) </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan oleh seorang </span><i><span style="font-weight: 400;">mukallaf</span></i><span style="font-weight: 400;"> (orang yang sudah mendapat beban syariat) dalam masalah-masalah agamanya, seperti ilmu tentang pokok-pokok keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, ilmu tentang apa yang dia butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;">طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Ibnu Majah.</span> <span style="font-weight: 400;">Dinilai </span><i><span style="font-weight: 400;">shahih</span></i><span style="font-weight: 400;"> oleh Syaikh Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah </span></i><span style="font-weight: 400;">no. 224)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ahmad </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span><i><span style="font-weight: 400;">”</span></i><b><i>Wajib</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> hukumnya untuk </span></i><b><i>menuntut ilmu</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> yang dengan ilmu itu seseorang dapat </span></i><b><i>menegakkan agamanya</i></b><i><span style="font-weight: 400;">.” </span></i><span style="font-weight: 400;">Beliau ditanya,</span><i><span style="font-weight: 400;">”Seperti apa misalnya?” </span></i><span style="font-weight: 400;">Beliau menjawab,</span><i><span style="font-weight: 400;">”Sesuatu yang wajib dia ketahui, seperti yang berkaitan dengan shalat, puasa, dan masalah-masalah lainnya.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Furu’ li Ibni Muflih, </span></i><span style="font-weight: 400;">1/525. Dikutip dari</span><i><span style="font-weight: 400;"> Hushuulul Ma’mul, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 12).</span><i><span style="font-weight: 400;">  </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka, merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari hal-hal yang wajib dia lakukan dalam agamanya, seperti ilmu yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan muamalah. Dia juga harus bertanya kepada para ulama dan tidak boleh berpaling dari wahyu yang telah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">turunkan kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Intinya, dia wajib tunduk kepada kebenaran karena inilah sifat seorang mukmin yang benar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui bahwa ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">syar’i </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam agama Islam ini terbagi menjadi </span><b>dua macam</b><span style="font-weight: 400;">. </span><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang. Seseorang tidak boleh bodoh (tidak mengetahui) tentang ilmu tersebut. Mengapa demikian? Ini karena seseorang tidak akan bisa menegakkan agamanya kecuali dengan ilmu tersebut. Contoh ilmu yang wajib adalah ilmu tentang rukun Islam, yaitu ilmu tentang dua kalimat syahadat, ilmu tentang shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke </span><i><span style="font-weight: 400;">baitullah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Seorang muslim tidak boleh bodoh tentang ilmu tersebut, dan dia -mau tidak mau- harus mempelajarinya.</span></p>
<p><b>Ke dua, </b><span style="font-weight: 400;">ilmu tentang hukum-hukum syariat, yang dibutuhkan umat Islam secara keseluruhan, namun belum tentu dibutuhkan setiap orang. Contohnya adalah ilmu tentang hukum jual beli, hukum wakaf, warisan, wasiat, dan hukum nikah. Ilmu ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Apabila sudah ada sejumlah orang yang mempelajarinya, hal itu sudah cukup. Dengan ini, orang-orang yang telah mempelajari ilmu tersebut dapat diminta sebagai tempat bertanya. Namun, apabila tidak ada satu pun orang yang mau mempelajarinya, kaum muslimin seluruhnya berdosa. Ilmu jenis ke dua ini juga mencakup ilmu tentang perincian masalah-masalah fiqih, penelitian perkataan atau pendapat para ulama, serta permahaman terhadap perselisihan pendapat di kalangan mereka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun ilmu duniawi, apabila ada orang yang tidak mengilmuinya, dia tidak berdosa. Apabila dia mempelajarinya lalu bermanfaat untuk masyarakat umum, dia akan mendapatkan pahala. Oleh karena itu, seandainya manusia meninggal dunia dalam kondisi bodoh terhadap ilmu dunia, dia tidak akan disiksa pada hari kiamat. Akan tetapi, barangsiapa meninggal dunia dalam kondisi bodoh terhadap ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">syar’i, </span></i><span style="font-weight: 400;">khususnya ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">syar’i </span></i><span style="font-weight: 400;">yang wajib dia pelajari, dia akan ditanya pada hari kiamat. Dia akan ditanya, mengapa dia tidak mau belajar? Mengapa tidak mau bertanya?  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena pentingnya ilmu syar’i ini, Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk berdoa dan meminta</span> <span style="font-weight: 400;">ilmu yang bermanfaat kepadaNya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman kepada Nabi-Nya,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan katakanlah,‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Thoha [20]: 114).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">tidaklah memerintah beliau untuk berdoa meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu syar’i. Hal ini hanyalah karena keutamaan ilmu syar’i dan kemuliaannya sehingga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">meninggikan derajatnya di sisi-Nya</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Betapa pentingnya ilmu ini, sampai-sampai Imam Bukhari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">membuat sebuah bab khusus dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih-</span></i><span style="font-weight: 400;">nya yang berjudul,</span></p>
<p style="text-align: right;">باب الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Bab Ilmu sebelum Perkataan dan Perbuatan”.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berdalil dengan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala, </span></i></p>
<p style="text-align: right;">فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maka ilmuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Muhammad [47]: 19).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat tersebut, ditunjukkan bahwa pengucapan </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah </span></i><span style="font-weight: 400;">dan permohonan ampunan merupakan bentuk amal shalih. Namun, sebelumnya Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan hamba-Nya untuk berilmu terlebih dahulu </span><i><span style="font-weight: 400;">(i’lam).</span></i><span style="font-weight: 400;"> Sehingga di dalam ayat ini, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan hamba-Nya agar </span><b>berilmu terlebih dahulu sebelum beramal.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang perlu dicatat, </span><b>ilmu tersebut haruslah dibangun di atas dalil,</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu dalil-dalil Al Qur’an dan As-Sunnah. Inilah sumber ilmu yang benar. Adapun perkataan para ulama hanyalah berfungsi untuk menjelaskan perkataan Allah dan Rasul-Nya saja. Bisa jadi perkataan para ulama tersebut ada yang benar, dan ada pula yang kurang tepat. Selain itu, kita juga tidak boleh membangun ilmu atas dasar </span><i><span style="font-weight: 400;">taqlid </span></i><span style="font-weight: 400;">(ikut-ikutan) atau fanatik kepada ajaran nenek moyang. </span><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selesai disempurnakan menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Ahad 6 Sya’ban 1436</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis:</span><b> M. Saifudin Hakim</b></p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<h5><b>Referensi Utama:</b></h5>
<ul>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Hushuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, </span></i><span style="font-weight: 400;">‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusyd Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1430.</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Syarhu Al-Ushuuli Ats-Tsalaatsah, </span></i><span style="font-weight: 400;">Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Daar Al-Imam Ahmad Kairo Mesir, cetakan pertama, tahun 1427.</span>
</li>
</ul>
<p>[serialposts]</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 