
<h4 lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>Mengamalkan Ilmu</b></span></h4>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Seseorang tidaklah menuntut ilmu kecuali untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya, seseorang dapat mewujudkan ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya. Apabila dia berilmu, namun tidak mau beramal, ilmu itu justru akan berbalik mencela dirinya karena ilmu tidak akan bermanfaat kecuali dengan diamalkan. Apabila dia berilmu, tetapi tidak mau beramal, dia akan dilaknat karena dia mengetahui kebenaran, namun meninggalkan kebenaran tersebut. Ibnu Mas’ud </span><span lang="id-ID"><i>radhiyallahu ‘anhu </i></span><span lang="id-ID">berkata,</span><span lang="id-ID"><i>”Pelajarilah ilmu. Apabila sudah tahu, amalkanlah!” </i></span></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Oleh karena itu, betapa indah perkataan Fudhail bin ‘Iyadh </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah</i></span><span lang="id-ID"><i><b>,”Seseorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim.”</b></i></span><i> </i><span lang="id-ID">Perkaataan ini mengandung makna yang dalam. Apabila seseorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, dia seperti orang yang bodoh. Hal ini karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh. Maka, seseorang yang berilmu tidaklah menjadi seorang alim yang sebenarnya sampai dia mengamalkan ilmunya. </span></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Hendaklah seorang muslim mengetahui pentingnya mengamalkan ilmunya. Karena seseorang yang tidak mengamalkan ilmunya, ilmu tersebut akan berbalik menghujat (mencela) dirinya</span><span lang="en-US">.</span> <span lang="en-US">S</span><span lang="id-ID">ebagaimana sabda Nabi </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</i></span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="CENTER"><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ</b></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i>Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; </i></span><span lang="id-ID"><i><b>tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan;</b></i></span><span lang="id-ID"><i> tentang hartanya, darimana dia peroleh dan ke mana dia belanjakan; dan tentang badannya, untuk apa dia gunakan.” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Tirmidzi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam </span><span lang="id-ID"><i>Shahih Sunan Tirmidzi, </i></span><span lang="id-ID">no. 2417).</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Semua orang yang belajar ilmu syar’i dengan tujuan bukan untuk mengamalkannya, tidak akan mendapat berkah dan pahala ilmu yang sangat agung. Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span lang="id-ID"> mengingatkan kita dari tidak mengamalkan ilmu dengan sabdanya,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="CENTER"><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>مثل الذي يعلم الناس الخير وينسى نفسه كمثل السراج يضيء للناس ويحرق نفسه</b></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i>Perumpamaan orang yang mengajari orang lain kebaikan, tetapi melupakan dirinya sendiri (tidak mengamalkannya), bagaikan lilin yang menerangi manusia sementara dirinya sendiri terbakar.”</i></span><span lang="id-ID"> (HR. Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam </span><span lang="id-ID"><i>Shahihut Targhib wat Tarhib, </i></span><span lang="id-ID">no. 131)</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Ilmu itu sangat berkaitan dengan amal karena </span><span lang="id-ID"><b>amal adalah buah dari ilmu</b></span><span lang="id-ID">. Oleh karena itu, ilmu tanpa disertai amal bagaikan pohon yang tidak berbuah. Pohon tersebut tidak ada manfaatnya. Tujuan menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Sebaliknya, orang yang beramal tanpa didasari ilmu, dia justru akan tersesat dan amalnya akan sia-sia. Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="CENTER"><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهْوَ رَدٌّ</b></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, amal tersebut </i></span><span lang="id-ID"><i><b>tertolak</b></i></span><span lang="id-ID"><i>.” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Perhatikan surat Al-Fatihah yang senantiasa kita baca,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ </b></span></span><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>(6) </b></span></span><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ </b></span></span><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>(7)</b></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-Fatihah [1]: 6-7).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Dalam ayat tersebut, Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">menyebut orang-orang yang beramal tanpa ilmu sebagai </span><span lang="id-ID"><b>orang yang sesat</b></span><span lang="id-ID">. Adapun orang-orang yang berilmu, tetapi tidak mau beramal, itulah orang-orang yang dimurkai. Ini adalah dua hal yang harus kita camkan dengan baik.</span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Berdakwah kepada Allah</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala, </i></span><span lang="id-ID">adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Ketika seseorang telah mengetahui kebenaran, hendaklah dia berusaha menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mengajak mereka kepada agama Allah dan menyebarkan kebaikan. Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="CENTER"><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ</b></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i>Bergeraklah perlahan-lahan sehingga kamu tiba di wilayah mereka. Kemudian ajaklah mereka masuk Islam. Beritahulah mereka tentang kewajiban yang harus mereka tunaikan. Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta yang merah-merah (unta yang paling bagus dan paling mahal).” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">juga bersabda,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="CENTER"><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا</b></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i>Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Muslim)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita untuk menyampaikan ilmu yang telah kita miliki kepada masyarakat serta mengajak mereka kepada kebaikan. Ilmu yang kita miliki bukanlah untuk diri kita saja, akan tetapi juga untuk orang-orang selain kita. Sehingga janganlah menyembunyikan ilmu tersebut, apalagi menghalang-halangi orang lain agar jangan sampai mengetahuniya. Akan tetapi, kita harus menyampaikan dan menjelaskan ilmu tersebut kepada mereka. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ</b></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, (yaitu) ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya.’”</i></span><i> </i><span lang="id-ID">(QS. Ali ‘Imran [3]: 187).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Inilah perjanjian yang Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">buat bagi para ulama, yaitu agar mereka menjelaskan kepada masyarakat tentang ilmu yang telah Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">anugerahkan kepada mereka. Hal itu untuk menyebarkan kebaikan dan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Dakwah inilah yang merupakan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">dan orang-orang yang mengikutinya. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ</b></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Yusuf [12]: 108).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Realita masyarakat kita sekarang ini menunjukkan bahwa kesyirikan terjadi di mana-mana, </span><span lang="id-ID"><i>bid’ah</i></span><span lang="id-ID"> telah merajalela, dan maksiat telah tersebar sampai ke pelosok-pelosok daerah. Sehingga mereka sangat membutuhkan dakwah kita, dakwah yang menyeru kepada </span><span lang="id-ID"><i>tauhidullah, </i></span><span lang="id-ID">menjadikan Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">sebagai satu-satunya sesembahan semata dan tidak menujukan ibadah kepada selain Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala</i></span><span lang="id-ID">. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Seseorang yang berdakwah harus memiliki ilmu tentang syariat Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">sehingga dakwah yang dilakukannya tegak di atas landasan ilmu dan </span><span lang="id-ID"><i>bashirah</i></span><span lang="id-ID"> (hujjah yang nyata). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah –</i></span><span lang="id-ID">ketika menjelaskan surat Yusuf ayat ke-108 di atas- berkata bahwa ilmu yang dibutuhkan untuk berdakwah bukanlah ilmu syar’i (ilmu tentang apa yang akan didakwahkan) saja, akan tetapi juga mencakup ilmu tentang keadaan orang-orang yang akan didakwahi dan ilmu tentang metode yang paling tepat dan paling sesuai agar dakwah itu sampai kepada mereka. Inilah di antara bentuk hikmah dalam berdakwah.</span><i> </i><span lang="id-ID">(Lihat </span><span lang="id-ID"><i>Al-Qoulul Mufiid ‘alaa Kitaabit Tauhiid, </i></span><span lang="id-ID">1/82, cet. Daarul ’Aqidah).</span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Bersabar dalam Dakwah </b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Masalah ke empat dari empat perkara tersebut adalah bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala.</i></span><span lang="id-ID"> Hendaklah seorang </span><span lang="id-ID"><i>da’i</i></span> <span lang="en-US">(juru dakwah) </span><span lang="id-ID">bersabar atas gangguan yang dia terima dari masyarakat. Karena menyakiti </span><span lang="id-ID"><i>da’i</i></span><span lang="id-ID"> sudah menjadi tabiat manusia kecuali mereka yang telah Allah </span><span lang="en-US"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">beri hidayah. Hal ini sebagaimana firman Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala</i></span><span lang="id-ID">,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا</b></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i>Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-An’am [6]: 34).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Marilah kita melihat apa yang terjadi pada </span><span lang="id-ID"><i>da’i</i></span><span lang="id-ID"> teladan kita semua, yaitu Muhammad </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></span><span lang="id-ID">Betapa banyak halangan dan gangguan yang beliau dapatkan. Orang-orang kafir Quraisy saat itu mengolok-olok beliau dengan sebutan orang gila, dukun, tukang sihir, pendusta, dan lain-lain sebagaimana yang Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">ceritakan dalam Al</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Qur’an. Beliau juga dilempari batu sampai berdarah. Beliau juga diancam akan dibunuh. Dalam perang Uhud pun beliau terluka. Akan tetapi, beliau tetap bersabar di atas dakwahnya. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Oleh karena itu, seorang </span><span lang="id-ID"><i>da’i</i></span><span lang="id-ID"> wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwahnya. Dia harus sabar atas segala penghalang dakwahnya dan sabar terhadap gangguan yang ia dapati. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">menyebutkan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size: large;"><b>يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ</b></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i>Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Luqman [31]: 17).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Pada akhir tafsir surat Al-‘Ashr ini, Syaikh</span><b> </b><span lang="id-ID">Abdurrahman As-Sa’di </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">berkata,</span><span lang="id-ID"><i>”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (dakwah dan sabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Dan dengan menyempurnakan keempat-empatnya, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar.</b></i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(</span><span lang="id-ID"><i>Taisiir Karimir Rahmaan, </i></span><span lang="id-ID">hal. 934). </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Semoga Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keempat hal ini sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. </span><span lang="id-ID"><i>Amiin.</i></span></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Selesai disempurnakan menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Ahad 6 Sya’ban 1436</span></p>
<p lang="" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Penulis:</span><b> </b><span lang="id-ID"><b>M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<h5 align="JUSTIFY"><span lang="en-US"><b>Referensi Utama:</b></span></h5>
<ul>
<li>
<span lang=""><i>Hushuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, </i></span><span lang="">‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusyd Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1430.</span>
</li>
<li>
<span lang=""><i>Syarhu Al-Ushuuli Ats-Tsalaatsah, </i></span><span lang="">Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Daar Al-Imam Ahmad Kairo Mesir, cetakan pertama, tahun 1427.</span>
</li>
</ul>
<p>[serialposts]</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 