
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara cabang ilmu yang memiliki kedudukan penting dalam agama adalah ilmu waris </span><i><span style="font-weight: 400;">(ilmu faraidh).</span></i><span style="font-weight: 400;"> Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">telah memotivasi umatnya untuk mempelajari dan memberikan perhatian terhadap ilmu tersebut.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/12564-aplikasi-penghitung-waris-at-tashil-online.html" data-darkreader-inline-color="">Aplikasi Penghitung Waris At-Tashil Online</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda kepada Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا، فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai Abu Hurairah, belajarlah </span><i><span style="font-weight: 400;">ilmu faraidh</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan ajarkanlah, </span><b>karena sesungguhnya ia adalah setengah dari ilmu.</b><span style="font-weight: 400;"> Dan ilmu itu akan dilupakan dan dia adalah ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku.” </span><b>(HR. Ibnu Majah no. 2719) [1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan tentang perkataan Nabi bahwa ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">faraidh </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah setengah ilmu,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya manusia itu berada dalam dua keadaan, yaitu hidup atau mati. Ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">faraidh </span></i><span style="font-weight: 400;">berkaitan dengan mayoritas hukum yang berkaitan dengan kematian. Sedangkan ilmu lainnya, berkaitan dengan hukum-hukum ketika masih hidup.” </span><b>[2]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan terjadilah apa yang beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kabarkan. Karena kita jumpai di jaman ini, ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">faraidh </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah ilmu yang disepelekan dan dilupakan, bahkan di tengah-tengah para penuntut ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">(thaalibul ‘ilmi) </span></i><span style="font-weight: 400;">itu sendiri. Kita tidak dijumpai diajarkannya ilmu ini di masjid-masjid kaum muslimin, kecuali sedikit saja dan langka. Demikian juga, tidak kita jumpai diajarkannya ilmu ini di sekolah-sekolah kaum muslimin. Kalaupun ada, maka dengan metode seadanya dan sangat lemah, yang belum bisa menjamin eksistensi ilmu ini di tengah-tengah kaum muslimin. </span><b>[2]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/43880-kecerobohan-kaum-muslimin-terkait-kewajiban-zakat.html" data-darkreader-inline-color="">Kecerobohan Kaum Muslimin Terkait Kewajiban Zakat</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita kaum muslimin untuk menghidupkan kembali ilmu ini di tengah-tengah mereka, dan juga menjaganya, dengan menyibukkan diri untuk mempelajarinya, baik di masjid, sekolah (madrasah), atau di masyarakat secara umum. Hal ini karena mereka sangat membutuhkan ilmu ini, dan pada saatnya nanti mereka akan bertanya ketika mereka membutuhkannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ، فَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ: آيَةٌ مُحْكَمَةٌ، أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ، أَوْ فَرِيضَةٌ عَادِلَةٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ilmu itu ada tiga, sedangkan selebihnya hanyalah keutamaan, yaitu: ayat muhkamat, sunnah yang tegak, dan </span><i><span style="font-weight: 400;">faraidh</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang adil.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 2885 dan Ibnu Majah no. 54) [3]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Belajarlah bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah bagian dari agama kalian. Belajarlah ilmu waris, karena ilmu waris adalah bagian dari agama kalian.” </span><b>[4]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Abdullah bin Mas’ud</span> <i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu Ta’ala ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">من قَرَأَ مِنْكُم الْقُرْآن فليتعلم الْفَرَائِض</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja di antara kalian yang belajar (membaca) Al-Qur’an, maka belajarlah ilmu waris.” </span><b>[5]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/438-keutamaan-ilmu-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Inilah Keutamaan Ilmu dan Ahlinya</strong></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Muslim </span></i><span style="font-weight: 400;">terdapat sebuah kisah yang menunjukkan kemuliaan seseorang karena orang tersebut memiliki ilmu yang terkait dengan hukum waris. Diriwayatkan dari Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan ‘Umar bin Khaththab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">di ‘Usfan (nama suatu daerah, pen.). Ketika itu, ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umar bertanya, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Siapakah yang Engkau tunjuk untuk memimpin penduduk di lembah itu?”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nafi’ menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Ibnu Abza”. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Umar bertanya, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Siapakah Ibnu Abza itu?” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nafi’ menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Salah seorang bekas budak kami.” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Umar kemudian mengatakan, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Apakah Engkau mengangkat seorang bekas budak?” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nafi’ menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya dia pandai memahami kitabullah ‘Azza wa Jalla, </span></i><b><i>dan dia juga ahli ilmu faraidh.” </i></b></p>
<p><b>‘</b><span style="font-weight: 400;">Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh dia pernah bersabda,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya dengan Kitab ini pula.” </span><b>(HR. Muslim no. 1934)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27707-zakat-dari-harta-yang-diinvestasikan.html" data-darkreader-inline-color="">Zakat Dari Harta Yang Diinvestasikan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24484-dianjurkan-menulis-wasiat-ketika-sakit.html" data-darkreader-inline-color="">Dianjurkan Menulis Wasiat Ketika Sakit</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 29 Sya’ban 1440/5 Mei 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Dinilai </span><i><span style="font-weight: 400;">dha’if </span></i><span style="font-weight: 400;">oleh Syaikh Al-Albani.</span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 334 (cet. Daar Ibnul Jauzi, KSA).</span></p>
<p><b>[3] </b><span style="font-weight: 400;">Dinilai </span><i><span style="font-weight: 400;">dha’if </span></i><span style="font-weight: 400;">oleh Syaikh Al-Albani.</span></p>
<p><b>[4] </b><i><span style="font-weight: 400;">Al-Iqtidha’, </span></i><span style="font-weight: 400;">1: 527-528 karya Ibnu Taimiyyah.</span></p>
<p><b>[5] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Ad-Durr Al-Mantsur, </span></i><span style="font-weight: 400;">2: 449.</span></p>
 