
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau imam Asy Syafi’i adalah seorang imam dan ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mendakwahkan dan membela akidah Ahlussunnah. Bahkan beliau dijuluki sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">nashirus sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pembela sunnah). Maka sikap beliau tegas dalam berakidah. Bahkan beliau membantah akidah-akidah menyimpang, diantaranya ilmu kalam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun sebagian orang mengatakan: “Imam Asy Syafi’i tidak mencela ilmu filsafat, yang dicela beliau adalah ilmu kalam”. Ini perkataan yang kurang tepat. </span></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, kita perlu pahami dulu apa itu ilmu filsafat dan apa itu ilmu kalam?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disebutkan dalam kamus </span><i><span style="font-weight: 400;">Mu’jam Al Wasith, </span></i><span style="font-weight: 400;">definisi filsafat adalah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">دراسةُ المبادئ الأُولى وتفسير المعرفة تفسيرًا عقليًّا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ilmu yang mempelajari prinsip dasar dalam menggunakan akal dan menjelaskan pengetahuan dengan akal” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun ilmu kalam, dijelaskan dengan ringkas dan padat oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin : </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أن أهل الكلام هم الذين اعتمدوا في إثبات العقيدة على العقل</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ahlul kalam (orang yang belajar ilmu kalam) adalah orang-orang yang bersandar pada akal dalam menetapkan perkara-perkara akidah” <strong>(</strong></span><strong><i>Fatawa Nurun ‘alad Darbi</i></strong><span style="font-weight: 400;"><strong>, rekaman nomor 276)</strong>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ahlul kalam memang menggunakan dalil, namun ketika dalil nampak bertentangan dengan akal menurut mereka, maka akal lebih dikedepankan daripada dalil.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka, memang secara definitif ada perbedaan, filsafat itu ilmu cara berpikir secara umum, sedangkan ilmu kalam itu dalam ranah akidah atau ranah agama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun dalam hal ini berlaku umum dan khusus. Dan bisa dari dua sisi pandang:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-weight: 400;">Ilmu filsafat sifatnya umum, jika secara khusus digunakan untuk membahas agama, maka jadilah ilmu kalam. </span></li>
<li><span style="font-weight: 400;">Ilmu kalam bersifat umum, jika metode yang digunakan dalam menetapkan masalah akidah adalah metode filsafat, maka ketika itu ilmu filsafat termasuk ilmu kalam.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, tidak keliru jika dikatakan ilmu filsafat itu termasuk ilmu kalam atau sebaliknya. </span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, sikap imam Asy Syafi’i terhadap ilmu kalam sangat jelas dan tegas. Beliau berkata kepada ar Rabi’ bin Sulaiman </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لا تشتغل بالكلام فإني اطلعتُ من أهل الكلام على التعطيل</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Janganlah engkau menyibukkan diri dengan ilmu kalam, karena aku telah mengamati ahlul kalam, dan mereka cenderung melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’thil</span></i><span style="font-weight: 400;"> (menolak sifat-sifat Allah)” <strong>(</strong></span><strong><i>Siyar A’lamin Nubala</i></strong><span style="font-weight: 400;"><strong>, 10/28)</strong>.</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/27932-menjawab-syubhat-pembela-ritual-tahlilan.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Menjawab Syubhat Pembela Ritual Tahlilan</a></strong></em></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebih tegas lagi, beliau berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">حكمي في أهل الكلام أن يُضربوا بالجريد ويحملوا على الإبل ويطاف بهم في العشائر والقبائل ويُنادى عليهم: هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأقبل على الكلام</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sikapku terhadap ahlul kalam adalah menurutku hendaknya mereka dipukul dengan pelepah kurma, kemudian ditaruh di atas unta, lalu diarak keliling kampung dan kabilah-kabilah. Kemudian diserukan kepada orang-orang: inilah akibat bagi orang yang meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah serta mengikuti ilmu kalam” <strong>(</strong></span><strong><i>Siyar A’lamin Nubala</i></strong><span style="font-weight: 400;"><strong>, 10/28)</strong>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan sebagaimana telah kita bahas di poin pertama, maka perkataan beliau ini juga berlaku bagi ilmu filsafat. Sehingga tidak keliru jika dikatakan imam Asy Syafi’i mencela ilmu filsafat.</span></p>
<p><b>Ketiga</b><span style="font-weight: 400;">, para ulama mengatakan bahwa adanya ilmu kalam dan adanya ahlul kalam itu karena pengaruh masuknya ilmu filsafat Yunani ke tengah masyarakat Islam dahulu. Sehingga ilmu filsafat ini punya peran besar terhadap munculnya ilmu kalam. Maka, tidak salah sama sekali jika ilmu kalam diidentikkan dengan ilmu filsafat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah imam Asy Syafi’i sampai berkata : </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَا جَهِلَ النَّاسُ، وَلاَ اخْتَلَفُوا إلَّا لِتَرْكِهِم لِسَانَ العَرَبِ، وَمِيلِهِمْ إِلَى لِسَانِ أَرْسطَاطَالِيْسَ.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah manusia itu menjadi jahil (dalam masalah agama), kecuali karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan lebih condong pada perkataan Aristoteles” <strong>(</strong></span><strong><i>Siyar A’lamin Nubala</i></strong><span style="font-weight: 400;"><strong>, 8/268)</strong>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena ahlul kalam tidak mau meyakini ayat-ayat tentang sifat Allah dengan kaidah bahasa Arab, namun malah memaknainya dengan filsafat Aristoteles sehingga mereka terjerumus dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’thil</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span><i><span style="font-weight: 400;">tahrif </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’wil</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan dalam perkataan ini, sangat jelas sekali imam Asy Syafi’i mencela ilmu filsafat karena kita tahu bersama Aristoteles adalah tokoh filsafat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ditambah lagi perkataan-perkataan ulama yang lain yang secara tegas maupun secara isyarat mencela ilmu filsafat yang perkataan-perkataan ini sudah tidak asing lagi bagi orang yang membaca kitab-kitab para ulama. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memberi taufik.</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/58618-sikap-pertengahan-terhadap-ibnu-sina.html" target="_blank" rel="noopener">Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu Sina</a></strong></em></p></blockquote>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://kangaswad.wordpress.com/about/" target="_blank" rel="noopener">Yulian Purnama</a></strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
 