
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Hakikat Iman Kepada Nama dan Sifat Allah</strong></span></h4>
<p>Beriman kepada nama dan sifat Allah adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan pada diri-Nya di dalam al-Qur’an, atau di dalam hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sesuai dengan yang layak bagi Allah, tanpa <em>tahrif</em>, <em>ta’thil</em>, <em>takyif</em>, dan tanpa <em>tamtsil</em>. Allah S<em>ubhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p>“<em>Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah-artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.</em>” (QS. al-A’raf: 180)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ</p>
<p><em>“Dia memiliki sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</em> (QS. ar-Rum: 27)</p>
<p>Dan Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ</p>
<p><em>“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. dan Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” </em>(QS.  asy-Syura: 11)</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Kelompok yang Menyimpang dalam Nama dan Sifat Allah</strong></span></h4>
<p>Dalam masalah ini, telah tersesat dua kelompok:</p>
<p><em>Pertama, </em><strong>al-Mu’aththilah</strong> yaitu mereka yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah atau sebagiannya. Mereka mengklaim, jika kita menetapkan  nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka kita melazimkan <em>tasybih</em>, yaitu menyerupakan Allah <em>Ta’ala</em> dengan makhluk-Nya.</p>
<p>Klaim ini batil pada beberapa sisi:</p>
<ol>
<li>Hal tersebut melazimkan kelaziman-kelaziman yang batil.<br>
Di antaranya, berarti ada kontradiksi dalam kalam Allah S<em>ubhanahu wa Ta’ala</em>. Karena Allah <em>Ta’ala </em>telah menetapkan pada diri-Nya nama-nama dan sifat-sifat dan Allah menafikan bahwasanya ada sesuatu yang semisalnya. Andaikan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah itu melazimkan <em>tasybih</em>, maka ini merupakan kontradiksi pada kalam Allah, dan berarti ayat-ayat al-Qur’an itu saling mendustakan.</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>Kesamaan antara dua hal dalam sifat atau nama tidak berarti keduanya sama persis.<br>
Jika anda melihat dua orang yang mereka sama-sama manusia yang mendengar, melihat, berbicara, ini tidak berarti bahwa mereka sama persis dalam sifat-sifat manusiawinya,  pendengarannya, penglihatannya, dan perkataannya. Dan anda juga melihat hewan-hewan memiliki tangan, kaki, mata, itu tidak berarti hewan-hewan tersebut tangan-tangannya, kaki-kakinya, dan mata-matanya semuanya sama. Maka jika telah jelas perbedaan antara makhluk-makhluk dalam hal yang sama namanya maupun sifatnya, maka berbeda pula antara <em>al-Khaliq</em> (Maha Pencipta) dengan makhluk, dengan perbedaan yang lebih jelas dan lebih besar.</li>
</ol>
<p><em>Kedua, </em><strong>al-Musyabbihah </strong>yaitu kelompok yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah S<em>ubhanahu wa Ta’ala</em> dengan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka berdalih bahwasanya hal ini ditunjukkan oleh nash-nash yang ada. Karena  Allah S<em>ubhanahu wa Ta’ala</em> berbicara kepada hamba-hamba dengan yang mereka pahami.</p>
<p>Dan dalih ini batil dalam beberapa sisi :</p>
<ol>
<li>Bahwasanya menyerupakan Allah dengan makhluk adalah perkara yang batil.<br>
Batil menurut akal dan syari’at. Dan tidak mungkin yang ditunjukkan oleh nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah adalah perkara yang batil.</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>Sesungguhnya Allah berbicara dengan hamba-Nya dengan yang mereka pahami.<br>
Difahami dari sisi asal makna. Sedangkan dari sisi hakikatnya yang ditunjukkan makna tersebut adalah disesuaikan dengan yang layak bagi Allah <em>Ta’ala</em>, dan sesuai dengan ilmu Allah dalam hal yang terkait dengan dzat-Nya dan sifat-Nya.<br>
Jika Allah menetapkan pada diri-Nya bahwa Allah Maha Mendengar, maka sesungguhnya istilah <em>as-sam’u</em> (pendengaran) itu sudah diketahui dari makna asalnya (yaitu tersampaikannya suara). Akan tetapi, dari sisi hakikatnya, jika terkait dengan pendengaran Allah, maka tidak diketahui. Hal ini dikarenakan, hakikat dari pendengaran itu berbeda-beda. Bahkan berbeda-beda pada para makhluk, lebih jelas dan lebih besar perbedaannya. Jika Allah <em>Ta’ala</em> mengabarkan pada diri-Nya bahwasanya Allah <em>istiwa</em> diatas ‘arsy, maka sesungguhnya <em>istiwa </em>dilihat dari sisi makna asal yang telah diketahui maknanya. Akan tetapi, hakikat <em>istiwa</em> jika terkait dengan <em>istiwa</em> Allah di atas ‘arsy, maka tidak diketahui. Hal ini dikarenakan, hakikat dari <em>istiwa</em> itu pun berbeda-beda pada makhluk. Maka bukanlah <em>istiwa</em> itu menetap di atas kursi atau sebagaimana <em>istiwa</em> seseorang di atas pelana unta tunggangan. Jika pada makhluk saja berbeda, berbeda juga antara <em>al-Khaliq</em> dan makhluk dengan perbedaan yang lebih jelas dan lebih besar.</li>
</ol>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Iman Kepada Nama dan Sifat Allah</strong></span></h4>
<p>Beriman kepada Allah <em>T</em><em>a’ala</em> terhadap apa yang telah kami jelaskan membuahkan faidah yang agung kepada kaum mukminin, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Menguatkan tauhid kepada Allah <em>Ta’ala</em> dari sisi tidak akan bergantung kepada selain-Nya, baik dalam <em>raja’</em> (harap) maupun <em>khauf</em> (takut), dan tidak menyembah kepada selain-Nya.</li>
<li>Kecintaan yang sempurna kepada Allah <em>Ta’ala,</em> dan mengagungkan-Nya dengan apa yang ditunjukkan oleh nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.</li>
<li>Menguatkan penghambaan kepada-Nya dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya, dan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh-Nya.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>[Diterjemahkan dari <em>Syarh Tsalatsatil Ushul </em>Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin (hal. 59-60) Darul Kutub Ilmiyyah]</p>
<p>—</p>
<p>Penyusun: Ummu Sufyan Fera</p>
<p>Pemuraja’ah: Ustadz Raehanul Bahraen</p>
<p>Artikel Muslimah.Or.Id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 