
<h1><span style="color: #800000;">Jalan Menuju Qanaah</span></h1>
<p> </p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><em>Qana’ah</em> (rela dan menerima pemberian Allah <em>subhanahu wata’ala</em>apa adanya) adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.</span></p>
<p><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Namun meskipun demikian kita dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana’ah. Berikut ini beberapa kiat menuju qana’ah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat merealisasikan nya. Di antaranya yaitu:</span></p>
<p><span id="more-53"> </span></p>
<p><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong>1. Memperkuat Keimanan kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em>.</strong></span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah <em>subhanahu wata’ala</em>, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong>2. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis.</strong></span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, disebutkan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> di antaranya, <em>“Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” </em>(HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah <em>subhanahu wata’ala</em> yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong>3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an yang Agung.</strong></span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu):</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;">“<span style="font-family: Arial, sans-serif;"><em>Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” </em>(QS. Fathiir:2)</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;">“<span style="font-family: Arial, sans-serif;"><em>Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” </em>(QS.Yunus:107)</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;">“<span style="font-family: Arial, sans-serif;"><em>Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” </em>(QS. Huud:6)</span></p>
<p>“<span style="font-family: Arial, sans-serif;"><em>Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” </em>(QS. ath-Thalaq:7)</span></p>
<p><span style="font-family: Arial, sans-serif;"> </span><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong>4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki</strong></span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Di antara hikmah Allah <em>subhanahu wata’ala</em> menentu kan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Allah <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;">“<span style="font-family: Arial, sans-serif;"><em>Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” </em>(QS. az-Zukhruf:32)</span></p>
<p>“<span style="font-family: Arial, sans-serif;"><em>Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” </em>(QS.Al an’am 165)</span></p>
<p><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong>5. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah</strong></span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em> agar diberikan qana’ah, beliau bedoa,<br><em>“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.”</em> (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)</span></p>
<p><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Dan karena saking qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em> kecuali sekedar cukup untuk kehidu pan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, <em>“Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” </em>(HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)</span></p>
<p><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong>6. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian</strong></span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara pasti.</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong>7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia</strong></span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>,</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><em>“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”</em>(HR.al-Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong>8. Membaca Kehidupan Salaf</strong></span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong>9. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta</strong></span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkan nya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.</span></p>
<p><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Ketika seorang hamba ditanya tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya.</span><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong></strong></span></p>
<p><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><strong>10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda.</strong></span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus potong baju maka dia hanya memakai sepotong saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: justify;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda’ <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.”</span></p>
<p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;">Sumber: <em>“Al-Qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath-thariq ilaiha,”</em> hal 24-30, Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil (Alsofwah)</span></p>
 